Sejarawan Otodidak Penjaga Cagar Budaya. Kompas.24 Agustus 2015.Hal.16

 

“Per Aspera Ad Astra”. Semboyan dalam bahasa Latin itu terpampang di bagian atas pintu masuk kantor Wali Kota Cirebon, Jawa Barat. Kantor yang terletak pada bagian poros bagunan bagian belakang Balai Kota Cirebon itu menjadi pusat kegiatan pengelolaan kota seluas 37 kilometer persegi tersebut. Mustawim Asteja (43) mengenal seluk beluk bangunan itu bagai anak sendiri.

OLEH RINI KUSTIASIH

Seperti arti semboyan itu, “dari onak duri dan lumpur menuju bintang”, Mustaqim Asteja sejak sembilan tahun lalu bergiat membangkitkan sejak sejarah dan bangunan cagar budaya Cirebon yang selama ini seolah terpinggirkan, cenderung kumuh, dan tidak terawat. Kerja keras menyelematkan bangunan cagar budaya sama halnya dengan menyelematkan bangunan cagar budaya sama halnya dengan menyelematkan Cirebon itu sendiri itu sendri.

Hotel dan restoran tumbuh pesat. Majunya pembangunan infrastruktur ini memicu ketertarikan investor untuk menanamkan modalnya, utamanya di bidang pariwisata. Warung dan restoran bermunculan di samping kafe dan hotel berbintang Pendanda Cirebon sebagai “Kota Udang” hampir tak tersisa, kecuali sebuah tugu di dekat Alun-alun Kejaksan.

“Cirebon seperti hilang jati dirinya. Kota ini lama-kelamaan menjadi sama dengan kota-kota lain yang dioenuhi dengan mal dan hotel. Mana nuanda Cerbon-nya. Nuansa itu sebenarnya bisa diperoleh dari penataan kota yang seimbang antara bangunan hotel dan mal dengan bangunan –banguna lain yang menandkan kekhasan Cirebon, termasuk bangunan tua peninggalan Belanda. Namun,  itu semua tidak terjadi,” gugar Mustaqim.

Pagi itu, Mustqim bersama 30 mahasiswa dan siswa SMA di Cirebon mengunjungi Bala Kota Cirebon. Ia menjadi narasumber dan pemandu dalam acara jelajah cagar budaya yang diadakan oleh mahasiswa Sejarah Peradaban Islam (SPI) dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati, Cirebon. Peserta menjelajahi situs-situs sejarah dengan berjalan kaki, mulai dari Gedung Negara di Jalan Siliwangi menuju Stasiun Kereta Api Cirebon, Balai Kota, Alun-alun, Pendopo Bupati, dan Keraton Kanoman.

“Tidak banyak anak muda Cirebon menyadari bahwa kotanya memilki banyak peninggalan cagar budaya. Padahal, Kota Cirebon adalah anggota Jaringan Kota Pusaka Indonesia,” katanya.

Dengan membawa pengeras suara, Mustaqim yang pagi itu mengenakan baju adat warna hitam dan penutup kepala iket khas Cerbon menjelaskan satu per satu bangunan yang mereka singgahi. Para peserta juga diminta membawa sapu lidi dan kantong platsik karena sebelum Mustaqim menjelaskan bangunan yang mereka kunjungi, peserta bergotong-royong membersihkan sampah yang berserakan di lokasi cagar budaya.

Ketika tiba di Balai Kota Cirebon, Mustaqim menutip tulisan Koran Kepetingan Rakyat yang terbit di era hindia Belanda. “Tidak lama setelah selesai dibangun tahun 1927 di bawah pimpinan Wali Kota RA Schotman (1925-1928), Koran Kepentingan Rakyat menyebut Balai Kota Ciebon ini sebagai bangunan terindah di antara balai kota lain di wilayah Jawa Barat Bangunan inti dibangun dengan arsitektur menyerupai anjungan kapal. Dua bangunan kecil di kanan-kiri bangunan inti dihubungkan dengan jembatan, yang bentuknya menyerupai dermaga,” urainya.

Ketika itu, Cirebon adalah kota yang kumuh di Hindia Belanda. Didirikan tahun 1906 oleh pemerintah kolonial Belanda, Cirebon adalah kota di atas lumpur dengan penduduk berasal dari sejumlah suku bangsa. Ada orang Jawa, Sunda, Tionghoa, Arab, dan Eropa, yang kesemuanya memberikan pengaruh pada perkembangan kota, termasuk seni-budayanya. Cirebon adalah kota percampuran yang unik, tetapi joroknya luar biasa.

Sebuah kali besar, Kali Bacin namanya, menyebarkan bau busuk dan menjadi tempat bersarangnya erbagai macam penyakit yang kala itu membahayakan penduduk. Dewan Kota akhirnya mengubur kali itu dan membangun jalan di atasnya. “Sebuah terowongan bawah tanah dibangun jalan-jalan yang sampai sekarang menjadi pusat keiatan masyarakat Cirebon yakni Bahagia, dan Jalan Merdeka,” ujarnya.

Otodidak

Mustaqim menjelaskan itu semua tanpa melihat catatan. Bicaranya cepat, mengalir dan sukar dibendung. Pengetahuannya yang dalam tentang Cirebon lahir dari upayanya sendiri yang giat membaca buku dan memburu arsip-arsip sejarah. Kecintaannya pada sejarah dan bangunan cagar budaya Cirebon tidak  bisa membuatnya kaya secara material, tetapi ia dilingkupi kesenganan lar biasa.

Sejarawan, peneliti, dan mahasiswa kini banyak datangn ke[adanya untuk menyalin arsip dan berdiskusi tentang Cirebon. Ia sendiri aktif menggagas serta menyelenggarakan berbagai diskusi tentang bahasa, sejarah, dan budaya Cirebon. Sala satunya yang rutin digelar setiap tahun ialah diskusi Gotrasawala di Keraton Kacirebonan. Diskusi itu membahas isi naskah karya Pangeran Wangsakerta, keturunan Sunan Gunung Jati, yang dibuat dalam kurun waktu 21 tahun (1677-1698).

Tidak mudah menemukan arsip tentang Cirebon. “Saya sering pergi ke Gedung Arsip Nasional RI untuk mendapatkan arsip atau gambar sejarah. Saya pernah sebulan penuh mempelajari naskah-naskah kuno di Keraton Kesepuhan untuk mengetahui sejarah Cirebon di masa kerajaan. Keraton-keraton di Cirebon (Kesapuhan, Kanoman, dan Kacirebonan) tidak memiliki sumber daya yang mencukupi untuk merawat naskah-naskah itu,” ujarnya.

Tahun 2011, melalui komunitas pecinta sejarh dan pusaka Cirebon Kendi Pertula, Mustaqim membuat dua film dokumenter tentang Cirebon. Film pertama merekam sejarah perjalanan Kota Cirebon tahun 1906-1956 dan yang kedua perjalanan Kabupaten Cirebon tahun 1800-1942. Kedua film itu membahas tentang Cirebon, yang merinci juga kaitan sejarah antara Kabupaen dan Kota Cirebon yang sudah ada sejak zaman Bedlanda.

Dilahirkan di Haurgeulis, Indramayu, Mustaqim adalah lulusan STM jurusan teknik di Plered, Kabupaten Cirebon. Jalan hidup mengantarnya sebagi pekerja pabrik sepatu dan boneka di Jakarta, lalu Cikarang di Bekasi. Lebih dari 10 tahun merantau sebagai pekerja pabrik, Mustaqim tak lepas dari buku. Ia berburu buku setiap pekan dengan tema yang luas kendati kecenrungannya ialah pada sejarah. Buku-bukunya itu kini disimpan di loteng rumah kontrakannya di Desa Klayan, Kecamatan Gunung Jati. Karena keterbatasan ruangan, tidak semua bukunya disimpan di dalam lemar. Sebagian bukunya ditata di dalam kardus.

Aktivitas sehari-harinya selalu berkenaan dengan penelitian sejarah Cirebon. Ia memutuskan tidak bekerja di bidang formal lagi karena kesehariannya kini banyak tersedot untuk mengupulkan dan mengolah arsio-arsip tua Cirebon sebagai bagian upaya menjaga sejarah kota itu. “Beberapa kali saya diminta Pemkot Cirebon membuat film dokumenter tentang kota ini. Uangnya memang tidak besar, tetapi saya senang ilmu saya dihargai dan ternyata bisa bermanfaat,” ujarnya.

Selain menjadi penliti sejarah, Mustaqim juga banyak menulis di media lokal tentang sejarah Cirebon. Ia adalah kolumnis pada halam khusus Cirebon di Pikiran Rakyat, Kabar Cirebon, dan Radar Cirebon. Media lokal memerlukan tulisan-tulisan Mustaqim untuk memperkaya materi lokal Cirebondi koran mereka.

Untuk memperkaya pengetahuannya tentang sejarah dan cagar budaya, Mustaqim sering berdikusi dengan Hardini Sumono, arkeolog dan oeneliti cagar budaya yang dulu aktif di Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Kemenetrian Pnedidikan dan Kebudayaan. “Bu Hardini adalah salah satu guru saya karena dengan beliau saya banyak bertukar pikiran sekaligus mendapatkan buku-buku sejarah baru. Buku-buku itu saya baca dan saya diskusikan dengan beliau,” kata Mustaqim.

Ia juga menyebut nama Suhadi Hadiwinoto dari Badan Pelestarian Pusaka Indonesia yang banyak menyumbang pemikiran dan pengetahuan tentang sejarah. Dari para gurunya itu, Mustaqim tidak berhenti belajar dan bertukar pikiran.

Saat ini, ia merintis museum pusaka di salah satu situs milik Keraton Kanoman di Sumber, kabupaten Cirebon. Ia ingin museum itu menjadi sentra edukasi sejarah dan pusaka Cirebon tidak hanya tentang Kota Cirebon, tetapi juga Kabupaten Cirebon yang wilayahnya lebih besar dna meiliki situs ejarah lebih banyak.

“Sampai sekarang, Cirebon belum punya mseum representatif. Bahkan, museum di keraton koleksinya terbatas dan kurang dikelola dengan baik. Harapan saya, museum itu nantinya bisa menjadi rujukan bagi orang yang ingin mengathui Cirebon,” ujarnya.

Sumber: Kompas.24-Agustus-2015.Hal_.16