
Prihatin dengan kondisi anak-anak dari keluarga buruh migran, Muzeki diciptakan “padepokan” anak TKI. “Padepokan” yang terletak di wilayah selatan Kabupaten Malang, Jawa Timur, itu menjadi tempat pelipur sekaligus penyemangat asa anak TKI.
Defri Werdiono
Nama Muzeki tidak asing di telinga warga Dusun Sukosari, Rejoyoso, Camatan Bantur, Kabupaten Malang bangunan semipermanen dengan warga dengan segera menunjukkan “padepokan” sederhana yang berupa Jika ada tamu yang mencari Muzeki, atap asbes di tepi jalan desa.
Bangunan berukuran 3 meter x meter tersebut berdiri di halaman bagi banyak anak TKI yang kurang salah satu kantong TKI di Kabupaten rumah tua Muzeki, Sayedi. Juh tahun terakhir ini, bangunan se- derhana itu menjadi semacam “oase” mendapat perhatian keluarga.
Desa Rejoyoso memang menjadi harus menghadapi semua masalah belajar sejak ini Malang Menurut Muzeki, lebih dari separuh warga desa itu pernah atau sedang bekerja di luar negeri. Mereka meninggalkan anak-anak, ke- luarga, dan kerabat demi mengadu nasib selama bertahun-tahun. Tidak heran jika di desa itu banyak orang, paling lama dua pekan ketika orangtua mereka sedang mudik. Setelah itu, mereka berpisah anak-anak yang udah tinggal berjauhan dengan orangtuanya. Kalau lagi.
Akibatnya, banyak anak-anak yang hidup dalam sepi. Mereka kurang perhatian dari orangtuanya. Mereka seorang diri, padahal belum tentu mereka tahu cara mengatasinya.
Dalam benak Muzeki, seharusnya anak-anak tidak boleh hidup berjarak dengan orangtuanya di luar negeri. jamur kehidupan tanpa didampingi la prihatin melihat nasib mereka. Ia bisa membayangkan bagaimana masa depan anak-anak itu ketika bersama orangtua.
Berangkat dari rasa prihatin itu, ia bersanma beberapa teman menyediakan diri sebagai teman anak TKI. Muzeki membantu mereka memupuk kepercayaan diri masing-masing Mereka menyemangati anak TKI untuk mengejar cita-cita langit.
“Mereka terlindungi, kami motivasi. Keinginan juga mereka harus punya punya,” kata Muzeki, Jumat 1/3). Ia bisa memahami apa yang dirasakan anak TKI. Seiring waktu, jumlah peserta belajar bersama di taman belajarnya sejak tujuh tahun lalu. Yang jelas saat ini ada 86 anak mulai dari tingkat TK tiga kakaknya juga merantau ke luar negeri sebagai TKI.
Demi anak TKI, Muzeki membentuk taman belajar pada 2011. Di taman belajar itu, anak TKI bisa belajar setiap orang, setidaknya lima kali dalam sepekan secara gratis. sedang Awalnya, hanya ada delapan anak- anak yang ikut kegiatan belajar terus bertambah.
Muzeki tidak pernah menghitung berapa jumlah total anak yang pernah sampai SMA yang masih mengikuti program tersebut. Mereka tidak hanya anak-anak dari keluarga TKI, tetapi juga non TKI.
Muzeki dibantu beberapa relawan pendamping. Mereka membimbing anak-anak memahami materi yang diajarkan oleh guru di sekolah dan melakukan pekerjaan rumah. Jika ada masalah atau menginstalasi ingin mengikuti program penguatan karakter, anak-anak desa itu bisa pula dilakukan di Konseling Center. Saat ini ada 28 anak TKI yang me manfaatkan kegiatan konseling. Muzeki tidak berhenti sampai di situ. Untuk mendukung yang sedang menggapai cita-cita, ia rela meluangkan waktu mengantarkan mereka mencari tempat kuliah di Kota anak-anak Malang. Ia bahkan mendampingi anak-anak desa yang baru kuliah, pada enam bulan pertama saya mereka di kampus. Pada masa-sama seperti itu, Muzeki akan terus membangun kepercayaan diri mereka.
“Kami juga berupaya mencarikan anak-anak tersebut untuk mendapatkan beasiswa,” kata lulusan jurusan Bimbingan Karier di salah satu kampus di Malang ini.
Sejak 2013, lebih dari 10 mahasiswa didampingi Muzeki hingga kuliah. Mereka kebanyakan berasal dari keluarga kurang mampu. Setelah kuliah, mahasiswa itu sering pulang. nyebarluaskan sikapnya kepada adik-adik kelasnya di desa. Itulah yang diharapkan Muzeki. Muzeki rupanya benar-benar ingin.
Melangkah jauh
Warga desanya maju. Itu memaksa, ia tidak lagi hanya mengurusi anak TKI, tetapi juga mengurusi warga lain. Untuk itu, ia juga menyiapkan taman baca yang disebut Kampung Cerdas Ceria Galeri Kreatif di padepokannya yang sempit. Taman baca itu memiliki koleksi 1.500-an buku dari sejumlah genre, mulai dari bacaan anak, fiksi, umum, hingga motivasi.
Taman baca ini cukup terbuka. Selain anak-anak desa, warga desa dari segala umur boleh ikut membaca, Bahkan, guru dan san- tri di sekitar Rejoyoso bisa meman- faatkan taman baca.
Muzeki lalu menjadikan “padepokannya” pusat kegiatan kreatif warga. Di bagian luar taman baca, ia membuat ruang diskusi yang terbuka 24 jam yang bisa diakses siapa saja. Ia juga merangkul komunitas-komunitas yang tumbuh di Rejoyoso, mulai dari komunitas penggemar musik (akustik), pembuat kostum tiruan tokoh film (cosplay), hingga komunitas tukang bangunan. Setiap malam, anggota komunitas ini biasa berkumpul di “padepokan” untuk membicarakan apa saja, termasuk kegiatan desa.
Belakangan, ia “mengekspor” para relawannya ke desa lain. Mereka bertugas mendampingi masyarakat di negara lain yang menyiapkan taman bacaan, mengajari cara membuat majalah dinding, dan membuat kerajinan tangan. Sejauh ini, ia telah mencetak 22 relawan yang terdiri dari mahasiswa, siswa, dan pegawai.
Awal mula
Mengapa Muzeki begitu aktif mengabarkan gerakan warga desa? Selain karena ia prihatin melihat anak-anak dari keluarga TKI di desanya, ia juga pernah mengalami susahnya menjadi anak desa.
Alkisah, pada 2009, Muzeki bersama tiga teman sedesanya, yakni Bambang Purwanto, Nurul Masrifah, dan Fitrianti Trengganu, ingin kuliah. Namun, mereka kesulitan mencari informasi tentang bagaimana cara masuk perguruan tinggi.
“Kami anak-anak desa ingin maju. Ketika kami mau kuliah, kami kesulitan informasi. Dari kesulitan itu, kami hanya bisa saling pandang dengan kawan. Kami kemudian berikrar suatu saat nanti akan membawa anak- anak kampung ke dalam kehidupan yang lebih baik, “ujarnya.
Dari ikrar itu, Muzeki dan teman-teman merintis aneka kegiatan yang bisa membawa warga desa pada kemajuan pada 2011. Sayangnya, pada masa awal merintis, tiga rekan Muzeki harus pergi keluar daerah sehingga Muzeki harus membangun sendiri semua beban , mulai dari tenaga hingga biaya. Beruntung, niat baik Muzeki didukung banyak orang.
Ketika membangun “padepokan”, ia tidak perlu mengeluarkan biaya karena dikerjakan oleh komunitas yang sudah ia rangkul. Ketika membutuhkan buku, pemuda yang punya hobi membaca ini mendapatkan bantuan dari anak-anak desa. Mereka menjual buku bekas secara kiloan. Hasil penjualan yang dipakai untuk membeli buku baru yang sesuai dengan anak-anak. Sebagian buku juga di- peroleh dari teman-teman Muzeki.
Setelah beberapa program terlaksana, kini ada satu keinginan Muzeki yang ingin segera diwujudkan, yakni membuat program kewirausahaan bagi para pemuda desa. Melalui program ini diharapkan anak-anak desa yang akan tumbuh dewasa nantinya bisa mandiri, termasuk bisa membiayai kuliahnya sendiri.
Muzeki tidak mau berhenti. Begitu banyak inisiatif yang ia jalankan demi masa depan cerah bagi anak-anak sedesanya.
Sumber: Kompas.14-Maret-2018
