SURABAYA – Bagi Etty Ariaty Soraya, rawon dan pisang goreng bukan sekedar menu biasa. Ada kenangan masa kecil yang membuatnya begitu mencintai dua makanan asli Indonesia tersebut. Sebab, dua makanan itulah yang sering menjadi “janji” saat Etty berprestasi atau berbuat baik.
Sebagai anak seorang anggota TNI, Etty menjalani masa kecil dengan sederhana. Begitu bertemu menu rawon dan pisang goreng, dia merasakan kenikmatan. “Sudah bahagia banget bisa ngedapetin dua menu itu, gak terlukiskan pokoke senenge,” ujar Etty, lantas tersenyum.
Meski kini sudah berkecukupan, dua menu tersebut tetap menjadi makanan favoritnya. Bahkan, mengenal beraneka sajian melalui pekerjaannya sebagai marketing communication manager di Sheraton Hotel Surabaya tetap tidak mengalahkan dua makanan kegemarannya. “Gak tergoda pokoke. Pokokknya rawon dengan penutup pisang goreng itu sudah lezat banget,” tuturnya.
Meski sudah berkeluarga, Etty kadang meminta sang bunda untuk membuat rawon dan pisang goreng. Bahkan, suami dan anaknya kini ikut-ikutan suka memesan rawon serta pisang goreng tiap ke restoran. “Tapi, bagaimana pun masakan ibu yang terbaik, gak ada yang ngalahin kelezatannya,” paparnya.
Alumnus Queensland University of Technology, Brisbane, Australia, itu kerap kali membawa bekal rawon dan pisang goreng untuk dibagikan di tempatnya kerja. Hasilnya, bekalnya menjadi menu yang ditunggu setiap jam istirahat. “Kadang, kalau kehabisan, mereka request lagi minta bawa yang banyak,” ucapnya, kemudian tertawa.
Etty menyatakan tidak bisa memasak dua makanan tersebut dengan baik. Percobaannya beberapa kali gagal. “Pisang gorengnya lumayan bisa, rawonnya itu susah. Ujung-ujungnya ya minta bantuan ibu,” ungkapnya geli.
Etty berharap suatu saat bisa membuat menu itu dengan sempurna untuk anak dan suaminya. “Biar anak saya ngerti makanan Indonesia itu lezat-lezat. Gak kalah dengan masalakn luar negeri,” tegasnya
UC Lib-Collect
Jawa Pos. 4 November 2015

