Di tengah merebaknya ujaran kebencian di media sosial, warga Kampung Tengah, Kramatjati, Jakarta Timur, tetap guyub. Warga Muslim dan Kristen hidup berdampingan penuh persaudaraan. Neng Herti (48) punya peran dalam memelihara toleransi di kampung itu yang sudah berlangsung puluhan tahun

Oleh Jumarto Yulianus

Perempuan kelahiran Sukabumi, Jawa Barat, itu menetap di RT 001 RW 008 Kelurahan Tengah sejak 1989 karena menikah dengan M Rivai (61), warga setempat. Sejak tinggal di sana, ia terkesan melihat kehidupan warga yang rukun meski memiliki latar belakang etnis dan agama yang berbeda-beda. Ia senang menjadi bagian dari masyarakat yang guyub dan toleran di Kelurahan Tengah.

Ia tidak ingin semangat toleransi yang sudah puluhan tahun terjaga hilang begitu saja karena pengaruh negatif dari luar kampung. It sebabnya, ketika dipercaya sebagai Ketua RT 001 R 008 Kelurahan Tengah pada 2003, ia bertekad mempertahankan keguyuban dan toleransi di kampungnya. Ia tidak pernah bosan  mengingatkan warganya, terutama yang baru tinggal di Kampung Tengah, untuk saling menghargai perbedaan. Ia ingin agar umat Islam dan Kristen, khususnya di Gang Eka Dharma, bisa terus hidup berdampingan sebagai saudara.

“Saya selalu mengingatkan warga pendatang baru di lingkungan kami untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan warga kami. Siapa pun yang tinggal di sini harus toleran dan menjaga kerukunan antarumat beragama,” kata ibu tiga anak yang sampai tahun ini masih menjabat ketua RT. Total sudah sekitar 14 tahun atau 5 periode Neng menduduki jabatan tersebut.

Di gang sempit yang hanya muat untuk dilewati satu sepeda motor itu terdapat dua tempat ibadah dari dua umat berbeda. Sekitar 50 meter dari mulut gang, berdiri Mushala Al Mukhlashiin. Masuk lebih ke dalam lagi, sekitar 50 meter dari mushala, ada Gereja Kristen Pasundan Kampung Tengah, gereja dibangun tahun 1970-an, sedangkan mushala dibangun awal 2000.

Belakangan ini, Neng semakin giat menggaungkan pesan-pesan toleransi karena ia merasa hubungan harmonis umat Islam dan Kristen akhir-akhir ini sedang diuji. Warga RT 001 RW 008, yang berjumlah sekitar 300 jiwa dari 89 keluarga, diharapkan tidak terpengaruh oleh sentimen dari luar kampung yang berpotensi merenggangkan persaudaraan warga.

Menenangkan warga

Ujian cukup besar datang saat perhelatan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017. “Ya, pas pilkada, sempat ada sedikit ketegangan. Maklum, warga memiliki pilihan masing-masing untuk pasangan calon gubernur dan wakil gubernur,” ucap Neng.

Pada waktu itu, ada yang memasang spanduk berisi tawaran menjadi tim sukses salah seorang pasangan calon gubernur dan wakil gubernur. Spanduk itu dipasang tepat di depan jalan masuk menuju Gang Eka Dharma. “Saat itu, (pemasangnya) langsung saya nasihati. Di sini tidak boleh menunjukan hal-hal politik seperti ini karena nanti bisa memecah belah,” tutur Neng menegur warganya. Tak lama kemudian, spanduk itu pun dicabut.

Selesai masalah spanduk, Neng kembali dipusingkan masalah pilkada. Grup Whatsapp warga Gang Eka Dharma dimanfaatkan sebagaian warga untuk meneruskan pesan kampanye berbau SARA (suku, agama, ras dan antargolongan). Pesan yang diperoleh dari jagat digital itu tidak disaring terlebih dahulu.

Saat itu, Neng benar-benar panik karena takut terjadi perpecahan di antara warga. Ia pun langsung mengontak warga yang menyebarkan ujaran kebencian melalui pesan pribadi. “Ibu, tolong jangan begini ya. Kita semua kan saling menjaga toleransi dan keberagaman. Kalau seperti itu, nanti ada yang tersinggung. Jangan pernah kirim seperti itu lagi ya.”

Neng bersyukur, warga masih mau mendengarkan imbauannya sehingga tidak sampai terprovokasi saat ada kepentingan politik menyusup. Seusai perhelatan pilkada, warga pun kembali tenang. Semua bisa saling menghargai pilihan masing-masing dan bersatu lagi. “Ya, kalau kerikil-kerikil masalah itu pasti ada, tetapi selalu bisa diselesaikan,” kata perempuan berdarah Sunda ini.

Merangkul semua

Salah satu keberhasilan Neng menenangkan warga saat ada provokasi dari luar ialah kemampuannya untuk merangkul semua warga dan tokoh-tokoh agama. Neng yang beragama Islam membangun hubungan baik dengan pendeta Gereja Kristen Pasundan Kampung Tengah saat ini, Maygolin Carolina Tuasuun. Dengan pendeta-pendeta sebelumnya, hubungan Neng juga baik.

Neng yang berasal dari keluarga Islam tidak pernah risi bergaul dengan siapa saja. Pasalnya, sejak kecil ia dididik oleh orangtuanya untuk bersikap baik kepada siapa saja, termasuk yang memiliki latar belakang berbeda. Mendiang ayahnya pernah berpesan, “Agamamu harus dipertahankan. Namun tetaplah bergaul baik dengan siapa saja. Dan jangan pernah memaksakan agamamu kepada orang lain,” kata anak kesembilan dari 10 bersaudara ini menirukan pesan tersebut.

Elang Darmawan, suami Pendeta Magyolin, mengakui kepemimpinan Neng yang merangkul dan mengayomi semua warga. Karena itu, pada pemilihan ketua RT 001 RW 008 beberapa waktu lalu, warga secara aklamasi memilih kembali Neng. “Kalau pemilihan ketua RT lagi, kami masih tetap mendukung Ibu Neng,” ujarnya.

Neng yang sudah lima periode menjadi ketua RT akan mengakhiri masa baktinya pada Oktober 2018. Ia pun tidak ingin berlanjut enam periode karena ingin fokus mengurus suaminya, M Rivai, yang mulai sakit-sakitan. “Sudahlah, ini tahun terakhir. Sudah susah mengurus warga semenjak suami sakit,” ucapnya lirih.

Rivai atau kerap disapa Aceng dalam setahun sudah terserang lima penyakit, mulai dari kurang kalium, prostat, hernia, pembengkakan kaki, sampai yang paling parah stroke. Pada 17 Agustus 2017, Aceng menjalani operasi hernia. Kini, kesehatan Aceng mulai pulih. Stroke yang pernah melumpuhkan badannya juga tidak kumat lagi.

Namun, sebagai istri, Neng tetap mengkhawatirkan kondisi suaminya. Ia juga perlu memberikan perhatian lebih kepada suaminya yang rentan terserang penyakit. “Saya yakin, warga di sini mampu menggantikan tugas saya nanti. Sebagai ketua RT, kan, tinggal menjaga dan meneruskan apa yang sudah baik saja,” katanya.

Neng berharap kerukunan dan persaudaraan antarumat beragama di Kampung Tengah tetap terbina dengan baik sampai kapan pun. Meski kelak tak lagi menjadi ketua RT, Neng masih tetap bersedia membantu agar api semangat toleransi di Kampung Tengah tetap menyala.

 

Sumber: Kompas.21-Desember-2017.Hal_.16