SURABAYA – Kehamilan merupakan kabar menyenangkan bagi pasangan suami istri. Berbagai cara dilakukan untuk memantau kondisi janin. Belakangan, berkembang berbagai prenatal screening.

“Skrining prenatal merupakan serangkaian pemeriksaan yang bertujuan mengetahui risiko kelainan bawaan pada janin,” ujar spesialis kebidanan dan kandungan RSUD dr Soetomo dr M.Ilham Aldika Akbar SpOG. Yang dilihat terutama kelainan kromosom. Dari hasil pemeriksaan, dapat diketahui down syndrome, trisomy 18, dan trisomy 13. “Skrining prenatal ini bisa dikerjakan pada trimester pertama dan trimester kedua,” tutur Aldi. Skrining trimester pertama dikerjakan pada usia kehamilan 11 hingga kurang dari 14 minggu. Pemeriksaannya melalui USG dan cek darah.

Untuk mengetahui kelainan bawaan, tim medis harus mengkombinasikan hasil pemeriksaan darah, panjang janin, dan ketebalan jaringan lunak di belakang leher. Terlebih untuk mendeteksi kelainan kromosom. Selain itu, usia ibu dan usia kehamilan dimasukkan rumus. “Metode skrining tersebut memiliki akurasi sekitar 85 persen,” ucap alumnus FK Unair tersebut. Artinya, 85 di antara 100 bayi yang mengidap kelainan akan terdeteksi dengan pemeriksaan tersebut.

Hasil kombinasi pemeriksaan itu bisa berupa risiko rendah, sedang, ataupun tinggi. Jika di dapat risiko tinggi, tidak berarti janin pasti memiliki kelainan bawaan. Untuk memastikannya, tetap perlu pemeriksaan lanjutan.

Salah satu pemeriksaan yang lebih canggih berupa noninvasive prenatal testing (NIPT). Disebut demikian karena tidak perlu tindakan pembedahan ke rahim ibu atau janin. “Cukup mengambil darah ibunya,” jelas dokter spesialis kebidanan dan kandungan National Hospital dr Hendera Hendri SpOG.  Dia menambahkan, dengan tindakan invasive minimal tersebut, risiko keguguran lebih kecil.

Menurut dia, NIPT bisa dilakukan untuk usia kandungan 10 minggu. Dari pemeriksaan darah ibu memungkinkan dianalisis sel-sel janin. “Dari sana terlihat bagaimana kondisi janin yang dikandung ibu tersebut,” jelas Hendera. Di antaranya, peluang terkena down syndrome ataupun kelainan kromosom lain.

Prenatal screening, lanjut dia, disarankan untuk mereka yang berisiko. Misalnya, kalangan yang terlalu tua atau muda untuk hamil serta memiliki riwayat penyakit tertentu. Jika ditemukan kelainan dokter dan pasien akan berdiskusi. Sebab, tindakan yang dilakukan bergantung jenis kelainan.

Aldi menambahkan, kelainan kromosom biasanya bersifat multiple atau dalam jumlah banyak. Biasanya, kondisi bayi kurang baik dan tidak dapat dilakukan pengobatan khusus. Kelainan bawaan yang muncul sebagian bisa diterapi setelah kelahiran. “Di negara maju berkembang disiplin ilmu kedokteran fetal medicine yang mampu memberikan berbagai pengobatan untuk kelainan janin saat didalam rahim,” papar dokter yang juga berpraktik di RS Unair tersebut.

 

Uc Lib-Collect

Jawa Pos.19 Mei 2016

NIPT Cukup Cek Darah Ibu Hamil. Jawa Pos.19 Mei  2016.al.36