
Nurwardaini (52) bukan ahli kopi, tidak pula minum kopi. Namun, warga Jalan Gili Terawangan, Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat, itu sukses menjadi pengusaha kopi. Racikan kopi dengan berbagai varian rasa yang ia buat menjadi buruan wisata asingg yang melancong ke Lombok.
OLEH KHAERUL ANWAR
Persinggungan Daen, panggilan akrab Nurwardaini, dengan kopi diundang minum oleh seorang temannya di Mataram. Dalam obrolan itu, rekannya mengajaknya berbisnis kopi dan mencarikan pengusaha di Jakarta yang sanggup menampung produk kopi.
Tanpa piker panjang, Daen mengiyakan tawaran itu. Sepulang dari pertemuan itu, ia harus “putar otak” untuk memenuhi kesanggupannya berbisnis kopi. “Jangankan tahu cara meracik kopi, mengatur kepekatan dan keasamannya yang pas untuk diminum saya enggak tahu. Minum kopi pun saya tidak suka,” ujar Daen.
Namun, Daen justru tertantang untuk belajar mengolah kopi. Ia pun berani melangkah masuk ke bisnis kopi dengan modal Rp 15 juta. Modal itu antara lain digunakan untuk membeli 100 kilogram biji kopi jenis arabika dan robusta serta untuk membayar jasa dua tukang sangrai biji kopi.
Kopi diolah secara tradisional. Biji kopi sebanyak 100 kilogram dicampur beras berkualitas super sebanyak 1 kilogram, lalu disangrai dengan kekete (sejenis wajan terbuat dari tanah liat) di atas tungku berbahan bakar kayu bakar. Penggunaan beras ketika menyangrai kopi dimaksudkan untuk mengurangi kadar kafein kopi. Setelah matang, biji kopi digiling dengan mesin agar menjadi kopi bubuk dari 100 kilogram bahan baku mentah tadi, susut ,menjadi 90 kilogram kopi bubuk. Daen memberi merek Black Coffee Kopi Rinjani. Semua hasil produksi dijual ke Jakarta dengan harga Rp 200.000 per kilogram saat itu.
Otodidak
Sembari mengirim kopi ke Jakarta, Daen juga membidik pasar lokal Lombok, dengan tetap mempertahankan formula racikannya. “Semuanya berjalan karena saya termotivasi untuk menjawab rasa ingin tahu saya,” ujar Daen.
Karena rasa ingin tahu itu, Daen akhirnya menangani sendiri produk kopinya. Ia membeli dan memilih bahan baku langsung ke pengepul kopi agar mendapat bahan baku dengan kualitas yang diinginkan. Ia juga belajar mencampur biji kopi dengan beras, menyangrai, mengontrol suhu api agar biji kopi mencapai tingkat kematangan tertentu, mendesain kemasan produk, hingga menangani pemasaran. Ia berupaya menawarkan produknya ke sejumlah toko oleh-oleh di Mataram. Beberapa kali produknya ditolak. “Kalau kopi ibu masuk, nanti kopi saya tidak terjual,” begitu kata pemilik toko.
Lantaran produknya ditolak, Daen berpikir membuka toko oleh-oleh sendiri. Ia pun menyisihkan sebagian keuntungan bisnis kopi untuk modal mendirikan toko sendiri. Toko itu menjual produk kopi olahan Daen dan olahan produsen kopi lainnya. “Soal produk mana yang laku, itu terserah konsumen. Yang jelas, dari toko ini saya ingin mengajarkan bagaimana bersaing secara sehat,” ujarnya.
Dari toko inilah ia mengetahui banyak wisatawan asing membeli kopinya di antaranya wisatawan Singapura dan Malaysia.
Tidak puas dengan produk kopi hitam, pada 2014, Daen memproduksi kopi Ginger Cinnamon yang berbahan baku kopi robusta, beras super, jahe, kayu manis, dan cengkeh. Ia membuat produk ini karena dulu ua pernah bekerja di sebuah agen perjalanan wisata dengan tugas menyediakan logistic bagi para tamu asing yang akan mendaki Gunung Rinjani Lombok (3.726 mdpl).
“Saya buatkan kopi ginger cinnamon, ternyata bule-bule itu bilang, kopi itu enak,” ujar Daen yang pernah mengikuti pelatihan yang digelar Association for Overseas Technical Scholarship-lembaga bentukan Kementrian Perindustrian Jepang dan swasta-di Kansai Kenshu Center, Osaka, Jepang.
Setelah mengikuti pelatihan produk pangan berbahan rumput laut pada 2016, Daen membuat Kopi Rumput Laut dengan bahan baku rumput laut, kopi robusta, creamer, dan gula. Selama seminggu Daen focus mencari dan berhasil mendapatkan formula yang pas, terutama agar jeli rumput laut tidak mengambang di permukaan kopi, melainkan turun menjadi ampas.
“Ada produk kopi sejenis, tetapi telat diminum, jeli rumput laut mengambang ke permukaan,” ujar Daen. Hasil temuan itu menjadi “rahasia perusahaan” sehingga menolak memberi tahu kepada orang lain.
Harga jual produk kopinya bervariasi, tergantung kemasan. Kopi Ginger Cinnamon dan Kopi Rumput Laut berkisar Rp 50.000-Rp 100.000 dengan kemasan 150 gram. Ada juga kopi biji untuk keperluan beberapa hotel dengan kemasan 250 gram yang dijual Rp 62.500. Setiap bulan, ia bisa menjual puluhan kilogram produk kopi, baik secara langsung maupun daring.
Produk kopinya semakin dikenal setelah sejumlah instansi Pemerintah Provinsi NTB mengadakan pameran. Ia aktif mengikuti kegiatan pameran produk tingkat provinsi maupun nasional. Dalam menjalankan bisnisnya Daen dibantu dua penyangrai kopi dan dua karyawan yang bertugas di toko. Agar kelak karyawan bisa membuka usaha sendiri. Daeng menularkan kemampuan bisnisnya kepada mereka. Beberapa hal yang ia ajarkan kepada mereka adalah semangat pantang menyerah, kerja keras, dan sikap jujur dalam berbisnis. Isi kemasan, misalnya, tidak boleh kurang.
Nurwardaini
Lahir : Mataram, 14 April 1965
Anak : – Lalu Aulia Akrabuttaqwa (27),
- Lalu Aby Al Mutabila (14),
- Baiq Hanazt Quamila (21),
- Baiq Salsabila Nadia (17)
Pendidikan : – SDN II Mataram lulus 1978
- SMPN 2 Mataram lulus 1981
- SMEAN I Mataram lulus 1985
- Fakultas Ekonomi Universitas Mahasawaswati Mataram lulus 1992
Kegiatan/Pekerjaan : Pemilik UD Rinjani Coffee
Sumber : Kompas. 1 November 2017. Hal 16
