SURABAYA, Jawa Pos – Sepuluh desainer Surabaya berkolaborasi dalam fashion show berkonsep Taj Mahal. Sebuah monumen di Agro, India, yang dibangun sebagai mausoleum istri Kaisar Mughal Shah Jahan. Dengan inspirasi bangunan yang masuk tujuh keajaiban dunia dan culture yang ada di sekitarnya itu, para desainer membuat busana semi muslim untuk perempuan dan laki-laki.

“Acara ini sengaja kita gelar setelah perayaan Idul Fitri. Jadi, suasana untuk berpenampilan dengan modest wear masih dekat,” jelas Alben Ayub, salah seorang desainer yang terlibat. Selain itu, pergelaran fashion di Pakuwon Mall Sabtu malam (29/5) tersebut diharapkan bisa menjadi titik untuk industri fashion terus maju. Terlebih modest wear.

Tidak hanya itu, pergelaran tersebut juga menjadi kolaborasi besar bagi fashion designer, model, hingga mahasiswa tata busana. “Semuanya kita ajak untuk memberikan kontribusi dan keterlibatannya dalam pergelaran ini,” sambungnya.

Sepuluh desainer yang terlibat adalah Andy Sugixx Hefi Rasid, Aldre, Rasu’an Lampahan by Lyna Deriana, Mega Ma, Dhipapari by Dwiyatirta Pande, Alben Ayub Andal, YUMA by Yusi Martha, Rereziq Karim, The Label by Danny Dwa, dan Listya Dyah Rahayu. Yang menarik, meski tema besar yang diangkat adalah Taj Mahal yang merupakan culture dari luar Indonesia, bahan yang mereka pakai tetap fokus pada wastra Indonesia. Yakni, batik.

Misalnya, karya Andy Sugix x Hefi Rasid. Dengan pembuatan batik handmade, mereka mengusung judul Lentera pada koleksinya. Meski berbahan batik, desain yang diusungnya tetap modern berupa blus, dress, hingga outer. Ada lagi karya Alben. Terinspirasi dari baju-baju pria urban di sekitar Taj Mahal, dia membuat baju ready-to-wear yang ringan dengan desain kemeja kasual, jaket, outer, kaus, hingga celana. (ama/c6/tia)

 

Sumber: Jawa Pos. 5 Juni 2021. Hal.24