Gedung AJBS yang pertama kali digunakan sebagai pabrik bir memiliki luas 26.572 meter persegi, luas bangunan 10.481 meter persegi. Bangunan itu terletak di kawasan Jalan Ratna atau dulu bernama Keper Straat karena dulu merupakan kawasan industri
RAHMAT SUDRAJAT (Wartawan Radar Surabaya)
MENURUT pustakawan sejarah, Chrisyandi Tri Kartika, pabrik bir itu pertama kalinya memasarkan hasilnya 31 November tahun 1931 yang kemudian dijadikan sebagai hari lahirnya perusahaan. Mereka mendatangkan mesin-mesin modern ketika itu. Sistem pembuatan bir yang diterapkan sudah terbukti di SUS banyak negara tropis
“Jelas canggih di zamannya (mesin-mesin). Seluruh proses produksi, cairan tidak bersentuhan langsung dengan udara. Tetapi secara permanen dalam tong dan tabung yang tertutup yang menjamin produksi bir murni yang baik,” kata Chrisyandi kepada Radar Surabaya.
Lokasi produksi bir terletak di sisi timur yang sejajar dengan gedung sebelah barat. Dari informasi yang dihimpun kapasitas tempat pembuatan bir ditetapkan sebesar 45 ribu H.L per tahun. Sebagai perbandingan, total impor bir di Hindia Belanda berjumlah sekitar 110 ribu H.L per tahun.
“Tahun itu (1931) mereka dengan distribusi bir Dengan modal 2.000.000 gulden. Mereka juga telah menerapkan persyaratan pembuatan bir yang paling modern,” jelasnya.
Namun tak berlangsung lama produksi bir itu, tahun 1937, dikatakan Chrisyandi terjadi kerugian dan perusahaan menjadi pailit. Sehingga sebagian saham dari Cobra berubah dan dibeli oleh Heinekens yang secara otomatis menjadi pemelik Nama perusahaan atau pabrik berubah menjadi Heinekens Nederlandsch Indische Bier Brouwerij Maatschappij.
“Pabrik ini memproduksi bir merk Heineken Java Bier dan Java Bouker,” ujarnya. Pabrik tersebut tetap berjalan untuk memproduksi bir
(bersambung/nur)

