Pagi Cerah untuk Pecundang. Kompas10 Februari 2015.Hal.16

Beck Hansen (44) membawa pulang tiga piala dari ajang Grammy Awards 2015, yang disiarkan Senin (9/2) pagi waktu Indonesia. Album teranyarnya, “Morning Phase”, ditabalkan sebagai album tahun ini pada ajang itu. Dia menyisihkan pesaingnya yang semuanya dari kancah musik pop. Beck satu-satunya yang berlatar belakang rock, dan ia menang.

Penulis: Herlambang Jaluardi

Hai, Prince!” begitu saja sapa Beck pada pangeran musik pop, Prince. Superbintang itu mengumumkan pemenang Album of The Year. Entah kebetulan, Beck pernah membawakan ulang lagi “1999” milik Prince pada sebuah konser di Montreal, Kanada, Tahun lalu.

Dari berbagai pemberitaan, pemerhati musik terkejut dengan hasil itu. Kategori album terbaik sebelumnya digadang-gadang bakal diperebutkan antara Beyonce, Taylor Swift, dan pendatang baru Sam Smith yang meraup empat penghargaan.

Rapper Kanye West seolah tak setuju dewngan keputusan dewan juri itu. Sebelum Beck menyampaikan pidato kemenangnnya, Kanye naik penggung hendak berbicara, tetapi ia urungkan. Kejadian itu serupa dengan yang dilakukan Kanye terhadap Taylor Swift pada ajang MTV Music Award 2009. Saat itu, Swift, si anak baru, menyingkirkan Beyonce.

Beck sendiri tak menduga albumnya bisa jadi album terbaik. Keterkejutannya terekam kamera saat prince menyebutkan namanya. Ketika berjalan menuju panggung, dia masih canggung dan menyalami Pharell yang menjabat tangannya sembari tersenyum. Laddy Gaga juga mengucapkan selamat untuk Beck melalui akun Twitter.

Banyak komentar bernada miring di media sosial yang meragukan Beck. Bahkan, tak sedikit yang bertanya siapa sebenarnya Beck. Tak lama setelah mendapat piala itu, laman Billboard sampai perlu menurunkan tulisan yang menjelaskan Beck yang awet ceking layaknya rocker era 1990-an ini.

Selain menyabet album terbaik, Morning Phase juga ditabalkan sebagai album rock terbaik. Album itu menyingkirkan album Song od Inocence milik U2,  Turn Blue milik The Black Keys, dan Hypnotic Eye milik Tom Petty and The Heart-breakers. Selain itu, pengerjaan album Beck juga dapat pnghargaan Best Engineered Album.

Bagi ajang Grammy, nama Beck sebenarnya tidak asing. Ia pernah berkibar pada Grammy Awards 1997 dengan dua penghargan Best Alternative Music Performance. Trofi Grammy terakhirnya dia peroleh pada 2000 untuk album Mutations sebagai Best Alternative Music Performance.

Pada awal kemunculannya di permulaan dekade 1990-an, kerya Beck banyak digolongkan sebagai musik rock alternatif. Seperti kebanyakan musisi alternatif masa itu, musik Beck tidak terlalu nge-rock, jika standar rock adalah AC/DC atau Van Halen. Beck mencampurkan unsur rock dengan folk, country, sampai disko.

Lagi “Where It’s At” jadi lagu wajib yang diputar di stadium MTV saat itu. Begitu juga dengan tembang “Loser” yang melejitkan namanya. Pada lagu tentang pecundang itu, Beck menyandingkan sisi akustik musik country dengan ketukan hip hop. Lagu dari album Mellow Gold itu dinominasikan sebagai lagu alternatif terbaik 1994 oleh MTV Eropa.

Musikalitas Beck dibentuk oleh lingkungan keluarganya. Di lahir di Los Angeles pada 1970 dari ayah David Campbell, musisi bluegrass, dan ibu Bibbe Hansen yang sering bergaul di lingkungan Andy Warhol di era 1960-an. Kakeknya, Al Hansen, adalah anggota Fluxus, kelompok seniman garda depan.

Majalan Rolling Stone menulis, Beck tidak menamatkan jenjang SMP. Pada usia 18 tahun, Beck berkeliling Amerika Serikat menumpang bus. Dia singgah setahun lebih di New York, memainkan musik folk di sudut jalanan Lower East Side. Di awal 1990, ia kembali ke Los Angeles.

Di kampung halamannya, Beck rutin berpentas di acara musik punk, seperti di Raji’s and Al’s Bar. Masa itulah Beck merekam lagu “Loser” di ruang tamu rumah temannya. Lagu itu diedarkan sebagai singel oleh Tom Rothrock, pemilik label independen Bong Load Custom Records.

Lagu itu kemudian masuk ke sejumlah radio dan menjadi lagu yang sering diputar. Karena sering muncul di radio, produser rekaman dari label besar mulai berdatangan mengetuk pintu rumah Beck. Dia sudah mengikat kontrak dengan perusahaan David Geffen untuk mengedarkan album Mellow Gold. Perusahaan itu juga rumah bagi band rock alternatif lainnya, seperti Nirvana dan sonic youth.

Wakil generasi X

Kesuksesan lagu “Loser” membuat Beck diidentikkan sebagai pecundang dan pemalas seperti cerita di lagunya. Dia juga dilekatkan sebagai generasi X yang identik dengan “banyak waktu luang”. “Orang-orang sepertinya tidak mengerti yang aku lakukan. Aku merasa harus membuktikan diriku,” kata Beck.

Keraguan itu ia patahkan dengan menghasilkan album Odelay pada 1996. Lewat album itu, Beck semakin diakui. Dari citra seorang pecundang, ia mulai dianggap sebagai musisi berwawasan luas dan berselera bagus.

Pada album Odelay, Beck tak hanya mencampurkan country dan hip hop. Irama disko dan punk makin kental, dan makin menjadi-jadi di album berikutnya, Midnite Vultures.

Pada 2002, Beck mengeluarkan album Sea Change. Dia kembali mengubah warna musiknya. Album bernada sedih itu mengusung warna akustik yang kental. Rupanya, hubungan asmara Beck dengan tunangannya baru saja berakhir. Ia memilih “curhat” lewat lagu.

Warna di Sea Change inilah yang kembali terasa di album Morning Phase menawarkan nuansa folk-rock yang tenang dengan bebunyian yang bening. Pada lagu “Morning”, Beck bercerita tentang indahnya bunga mawar di pagi hari meski banyak duri. Di bagian refrein ia bertanya, “Can we start it all over again?”

Beck sepertinya sedang menikmati pagi, bagian dari waktu yang tidak kejam lantaran bisa berulang.

(Rolling Stone/Billboard)

Sumber : Kompas 10 Febuari 2015