Bersyukur atas keanekaragaman alam dan budaya Indonesia saja tak cukup untuk merawat kekayaan bangsa kita. Kita butuh lebih kreatif untuk mejadi Indonesia kian berdaya. Dengan semangat itulah Indonesia Tourism and Creative Economy Fair (ITCEF) 2014 dihelat.
PARIWISATA dan ekonomi kreatif memiliki potensi yang sangat besar dalam menopang perekonomian nasional. Ketua Badan Promosi Pariwisata Indonesia (BPPI) Wiryanti Sukamdani bercerita, kita bisa melihat contoh bisa Jepang dan Korea Selatan. Ketika sektoor industri lain sedang tidak begitu bagus, inovasi di bidang pariwisata dan ekonomi kreatif menjadi tumpuan.
Di Indonesia sendiri, hingga kini ekonomi kreatif memiliki sebesar 7,6 persen atau Rp 140 triliun terhadap total produk dosmetik bruto (PDB), serta menyumbang sekitar 10 persen terhadap total ekspor. “Industri pariwisata dan ekonomi kreatif mempekerjakan paling tidak 20 juta penduduk Indonesia,” ujar Wiryanti, Kamis (14/8).
Dalam rangka memperkenalkan kekayaan pariwisata Indonesia, Kementrian Pariwisata Indonesia, Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama BPPI akan menyelenggarakan ITCEF 2014 di Jakarta Convention Center (JCC) pada 29-31 Agustus 2014. Ajang yang ketiga kalinya semenjak digelar pada 2012 ini merupakan kegiatan pameran dan promosi yang menampilkan berbagai produk pariwisata dan ekonomi kreatif di Indonesia. Ada berbagai rangkaian acara, seperti table top, house keeping and bed set-up, table set-up, uniform parade, pertunjukan musik dan budaya, stand up comedy, fashion show, dan lokakarya ekonomi kreatif.
Tahun ini, jumlah peserta ITCEF sebanyak 160. “Inilah tempat berkumpulnya industri pariwisata dan ekonomi kreatif. Akan hadir perhotelan, agen travel, Badan Promosi Pariwisata Daerah, dan Intenasional Tourism Office, yaitu dari Korea, Jepang, Thailand, India, Filipina, dan Paraguay. Dari industri ekonoi kreatif ada fashion, video, kerajinan, arsitektur, musik, dan seni pertunjukan. Pameran ini diharapkan mencapai target 50.000 pengunjung dan dari situ terjadi transaksi antara penjual dan pembeli,” ujar Wiryanti.
Tuntutan berkreasi
Wisata bahari memang masih menjadi primadona pariwisata Indonesia. Tahun ini, ITCEF juga banyak menghadirkan paket wisata ke Indonesia timur yang berkonsentrasi pada wisata pantai dan laut. Selain wisata bahari yang masuk didalam jenis green tourism, ada jenis pariwisata lain yang terus dibangkitkan. Low season tourism dan creative tourism. Ada masa-masa tertentu ketika pariwisata sepi, inilah low season. Pariwisata kreatif awalnya lahir dari kondisi ini. Ada sesuatu yang harus diciptakan untuk menjadi magnet wisata baru.
“Creative tourism adalah yang dibuat oleh manusia. Contohnya wisata belanja, kuliner, wellness atau kesehatan, olahraga, festival, dan pameran. Pariwisata kreatif biasanya lahir dari budaya, angklung misalnya. Di Jawa Barat, bambu banyak sekali sehingga dibuatlah musik bambu. Nah, ini dahsyat, bahkan sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO,” jelas Wiryanti.
Keunggulan Indonesia yang utama terletak pada budaya yang begitu kaya. “Yang tidak kalah pentingnya, value for money. Dibandingkan negara ASEAN yang lain, harga di Indonesia lebih kompetitif,” tamabh Wiryanti.
Ditengah potensi yang begitu besar, Indonesia masih harus banyak berbenah. Infrastruktur yang kita miliki menyangkut pelabuhan, bandara, dan akses transportasi di daerah tujuan masih jauh memadai. Petunjuk arah juga minim. Sumber daya manusia juga belum semuannya sadar wisata. “Bisnis pariwisata itu melayani orang, maka profesionalisme sangat penting,” tutur Wiryanti. Selain itu, biaya promosi juga masih perlu ditingkatkan karena kita memerlukan media promosi seperti video atau foto-foto yang menarik.
Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan untuk menjadi negara yang benar-benar bisa mengoptimalkan potensi wisata. Kegiatan-kegiatan semacam ITCEF diharapkan dapat menjadi penyemangat ddan inpirasi untuk bekerja lebih giat. [NOV]
Sumber: Kompas. 28 Agustus 2014. Hal.33

