Juragan Mi Ayam Dari Surabaya. Kompas. 25 Agustus 2017. Hal.16 001-page-001

Mi ayam turut mengangkat kehidupan Parmu sekeluarga dari jurang kemiskinan ke puncak kekayaan. Ia bahkan bisa membantu korban pemutusan hubungan kerja dan remaja yang di telantarkan di jalanan untuk keuar dari jerat kesengsaraan.

OLEH AMBROSIUS HARTO

Kisah hidup lelaki kelahiran Rembang, Jawa Tengah, ini dimulai saat menikahi Winangsih, pujaan hati asal Jombang, Jawa Timur, 1993. Selepas menikah, Parmu gagal mendapat pekerjaan dan menganggur setahun di Jombang.

Tidak ingin terus menjadi pengangguran, Parmu pergi ke Surabaya, ibu kota Jatim, untu menjadi kuli proyek. Parmu menerima upah Rp 7.000 per hari. Dengan susah payah, Parmu bisa menabung maksimal Rp 60.000 per bulan.

Selama menjadi kuli di Surabaya, Parmu terkesan dengan mie ayam yang digemari banyak orang. Dalam pikiran Parmu, berjualan makanan itu akan cepat mendatangkan hasil. Parmu tergiur mencoba dan meninggalkan pekerjaan kuli proyek yang dijalani tak sampai setahun. Parmu kembali ke Jombang dan memulai usaha mi ayam.

Di Jombang, Parmu membuat gerobak dan menjual mi ayam buatan sendri bersama istri. Parmu tak punya bekal pengetahuan membuat mi ayam sehingga ia gagal beberapa kali. Namin, ia tidak menyerah. Sekali gagal, coba lagi. Begitu seterusnya hingga stok sekarung tepung yang ia miliki habis.

Setelah bisa membuat mie ayam, Parmu berkeliling “Bumi Santri”, julukan Jombang, menjajakan makanan buatannya. Hasil yang didapat ternyata jauh dat harapan. “Sehari Cuma untung lima ribu.” Katanya saat ditemui di kediaman yang apik di King Safira Residence, Sidoarjo, Jatim,  Jumat.

Parmu dan Winangsih hanya tahan berjualan di Jombang tak sampai setahun.  Mereka kemudian mencoba mengadu nasib dan peruntungan ke Sidoarjo dengan menumpang di tempat kerabat. Mereka nekat menjual cincin kawin dan mendapat Rp 90.000 untuk biaya angkut gerobak, perkakas, dan perlengkapan (Rp 30.000), bahan – bahan mi ayam (Rp 40.000), dan jaga – jaga (Rp 20.000).

Di Bluru Kidul, sejak 1997, mereka berjualan mi ayam. Hasilnya segera terasa. Dalam sehari, Parmu menangguk laba Rp 40.000. Laba dikumpulkan untuk membeli geronak bekas senilai Rp 350.000 mlik pedagang mi ayam yang tak sukses lalu kembali ke kampung halaman. Dengan dua gerobak, Parmu dan Winangsih mencoba berkembang dalam usaha skala mikro tersebut.

Membantu korban PHK

Saat krisis ekonomi dan reformasi politik mengguncang negeri pada 1998, kehidupan Parmu tak terpengaruh. Malah, saat itu, Parmu sudah memiliki delapan gerobak yang enam di ataranya dipegang oleh pegawai. Jumlah gerobak terus ditambah. Sebagian dari keuntungan disisihkan oleh Parmu untuk membuat gerobak – gerobak baru.

Parmu meminjamkan secara cuma – cuma gerobak itu kepada buruh yang terkena PHK dan membutuhkan pekerjaan. “ Saya pinjamkan dengan syarat mereka menjual mi buatan saya,” kata bapak tiga anak itu.

Tak terasa, gerobak yang dibuat Parmu sudah mecapai 80 unit. Para buruh korban PHK yang berjualan mi ayam ternyata bertahan hidup bahlan berkembang. Parmu dan enam pegawai awal akhirnya fokus pada produksi mi. Komoditas ini diproduksi di Magersari, Krian, dan Pasar Larangan. Parmu memasok mi dengan merek Jago Mie untuk 350 pelanggan dengan kapasitas produksi 1,2 ton per hari. Dari sana, Parmu bisa menangguk keuntungan hingga Rp 1 juta per hari.

Hidup keluarga Parmu berubah. Mereka tak lagi miskin dan sengsara. Namun, Parmu tak ingin serakah. Parmu dan keluarga ingin berbagi dan berkembang dalam menjaga kualitas produk. Mereka menjalin kerja sama dengan produsen tepung lalu bergabung dengan Paguyuban Mi Ayam Surabaya dan Sekitarnya (Pamas) sejak 2007.

Tiga tahun kemudian, Parmu dipercaya menjabat sebagai Ketua Pamas. Hingga kini tidak ada yang bersedia menggantikannya. “ Heran saya. Saya minta teman – teman untuk mengudeta malah tidak ada yang mau,” katanya sambil ketawa.

Pamas beranggotakan 19 juragan mi ayam. Mereka memasok mi untuk lebih dari 3.000 pelanggan yang 1.000 di antaranya penjual keliling mi ayam. Pamas menghabiskan tepung terigu sebanyak 9.700 zak atau 24,5 ton per bulan. Mi buatan mereka dijual dengan harga termurah Rp 9.000 per kg dan termahal Rp 14.000 per kg.

Bersama Paguyuban Parmu mendorong agar mie ayam menjadi produk makanan yang bisa diterima secara luas dan dipercaya. Meski usaha sempat kendur akibat isu pemakaian formalin, Pamas tak menyerah. Mereka terus meyakinkan konsumen bahwa mi ayam buatan Pamas tidak ada yang berpengawet dan berbahan kimia. “ Mi buatan Pamas cuma bertahan sehari karena tanpa pengawet,” kata Parmu.

Untuk lebih meyakinkan konsumen, pamas mendirikan 10 outlet di pasa tradisional dan pusat belanja modern. Idenya mengadopsi toko roti yang memperlihatkan seluruh proses buat, hias,dan hidang di depan konsumen. Pembangunan outlet mi untuk membuat pembeli yakin dengan mata dan kepala sendiri bahwa komoditas buatan Pamas dibuat dalam proses yang bersih dan higienis sehinggan aman dikonsumsi. Jumlah outlet akan ditambah setiap tahun.

Selain berbisnis, Pamas di bawah kepemimpinan Parmu juga kian aktif lama kegiatan sosial. Pamas bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk program pelatihan membuat mi ayam bagi perempan yang dilacurkan, remaja korban penyalahgunaan narkoba, dan mereka yang ditelantarkan.

Selepas keluar dari lembaga pemasyarakatan atau panti rehabilitasi, beberapa remaja yang sempat mendapat pelatihan akhirnya mencoba berjualan mi ayam. Ternyata mereka mampu bertahan dan mulai berkembang.

Pamas berhasil mendorong Pemprov Jatim, Pemkot Surabaya, dan Pemkab Sidoarjo memberikan bantuan modal usaha untuk berjualan mi ayam bagi kalangan warga yang mengalami kesulitan ekonomi.

Parmu mengingat asal awal – awal berjualan mi ayam, menyisihkan laba untuk membeli gerobak dan meminjamkannya kepada mereka yang kesusahan. “Dengan kail dan umpa, kita bisa mendapat ikan untuk dijual dan untuk makan.” Kata Parmu yang tak lelah mengajak orang lain untuk berdaya lewat mi ayam.

Sumber: Kompas. 25 Agustus 2017. Hal.16