Mengenal Parkinson, Penyakit Degeneasi Otak. Jawa Pos.16 Maret 2017. Hal.27

 

Selama ini kita mengenal Parkinson sebagai penyakit tremor yang diderita almarhum Muhammad Ali. Penyebabnya, kita menyimpulkan bekas petinju itu sering terkena pukulan di bagian kepala. Itu tidak salah. Namun, sebagai penyakit degenerative, penyebab pastinya tidak diketahui.

Seiring dengan bertambahnya usia organ-organ tubuh juga ikut menua. Termasuk otak yang mengalami penurunan fungsi. Penyakit parkinson muncul karena adanya proses degenerasi pada substansi nigra di otak tengah. Penyebab pasti degenerasi tersebut bersifat idiopatik atau tidak diketahui. Hal itu tidak dapat dicegah.

Dalam kasus Ali, parkinson disebabkan cedera pada otak. Otak memiliki beberapa bagian dan sekat yang punya fungsi masing-masing. Otak yang terlalu sering kena pukulan akan berputar atau bergeser dari sekatnya. “Bergesernya otak dari sekatnya itu mengacaukan fungsi otak,” jelas dokter spesialis saraf dr Linardi Widjaja SpS(K).

Parkinson juga bisa dipicu dari bahan-bahan kimia. Misalnya, pestisida, herbisida, dan fungisida. Semakin sering seseorang terpapar bahan kimia tersebut, risiko terkena Parkinson akan semakin tinggi. Bahan itu bersifat racun bagi tubuh dan mengakibatkan degenerasi neuron serta kerusakan sel otak disubstansi nigra. Alhasil, kadar dopamin pada otak menurun sehingga gerakan motoris manusia melemah.

Parkinson, lanjut dia, bisa diakibatkan faktor keturunan. Namun, hal itu cukup langka. Hanya 10 – 15%. “Faktor genetic, cedera, dan bahan kimia itu bisa memunculkan gejala lebih dini. Misalnya, pada usia 40 tahun. Bergantung ketahanan tubuh,” jelas alumni FK Universitas Airlangga Surabaya tersebut

Gejala Parkinson diawali dengan penurunan fungsi motoric. Ada tiga hal utama yang menjadi tandanya yakni tremor atau gemetar, rigiditas atau kekakuan, dan hypokinesia atau perlambatan gerakan motoris. Ketiganya tidak selalu berurutan. Seseorang bisa mengalami gejala hypokinesia lebih dulu baru tremor atau sebaliknya.

Dalam stadium lebih lanjut, gangguan motoris akan disusul dengan gejala non motoris. Yakni, gejala sensoris. Tanda-tandanya, daya penciuman menurun, lalu muncul gejala psikiatris yang berpengaruh pada mental dan mood. seorang jadi lebih mudah marah dan susah tidur. Selanjutnya, fungsi kognitif menurun. Kecerdasan mulai berkurang dalam tahap tersebut. “Penderita mulai sulit mengambil keputusan. Puncaknya Parkinson akan berujung Dimensia atau pikun total,” jelasnya.

Sebetulnya, Parkinson bukan jenis penyakit yang berbahaya. Hanya, gejala yang muncul sangat mengganggu kegiatan sehari-hari. Belum ada obat atau terapi yang bisa menyembuhkan dan mencegah degenerasi sel otak. Karena itu, treatment yang bisa dilakukan hanya sebatas mengurangi gejala.

Dokter Achmad Fahmi Baabud SpBS(K) Func menambahkan, resep yang umum diberikan meliputi L-DOPA. Yakni, obat yang berfungsi menggantikan kekurangan produksi dopamin dalam otak serta obat yang berfungsi mengaktifkan reseptor dopamin di otak. “Intinya, obat-obatan tersebut digunakan agar sedikit dopamin dari tubuh bekerja optimal dan tidak terbuang,” paparnya.

Spesialis bedah saraf National Hospital Surabaya Itu menjelaskan, pasien akan mendapatkan obat untuk mengurangi gejala lain seperti tremor. Bila pengobatan dan terapi belum membantu, dokter biasanya bakal mempertimbangkan tindakan operasi stereotactic brain lession Stone atau deep brain stimulation.

Dukungan keluarga dan orang-orang terdekat juga bisa mendukung treatment. Menurut dr Bambang Kusnardi SpS, banyak orang yang salah kaprah menangani pasien Parkinson. Penderita sering dilarang beraktivitas. ”Justru pasien Parkinson Gak boleh diam. harus ada aktivitas supaya keseimbangan dan kontrol gerakannya membaik,” tandasnya.

Spesialis secara National Hospital Surabaya menjelaskan, pendampingan pada pasien berfungsi membantu gerakan pertama bila pasien mengalami postural imbalance atau ketidak seimbangan dan perlambatan. “Parkinson merupakan movement disorder. Jadi, masalahnya berada dalam kontrol gerakan, bukan yang lainnya,” jelasnya. Bila ada dampak lain seperti ganggu memori atau bahasa hal itu dipicu gangguan kesehatan lainnya.

 

Waspadai TRAP!

Penyebab pasti penyebab pasti Parkinson belum diketahui. Namun penyakit ini bisa dideteksi lewat gejala-gejala yang disingkat TRAP plus gejala nongerak.

Tremor

Anggota tubuh penderita seperti tangan, kaki, bahkan kepala bergerak gerak sendiri ketika sedang tidak beraktivitas (resting tremor). Gerakan ini biasanya tidak disadari penderita.

Rigid (kekakuan)

Otot-otot badan kaku sehingga penderita sering mengalami pegal. Selain itu, rigid terjadi saat bergerak. Contohnya, ketika berjalan, tidak ada lambaian tangan. Otot wajah juga kaku sehingga kerap muncul ekspresi statis atau wajah topeng (masking face).

Akinesia (perlambatan)

Motorik  penderita Parkinson melambat. Baik motorik kasar seperti berjalan atau aktivitas lain maupun motoric halus (menulis, mengancingkan baju).

Postural imbalance

Di stadium lanjut, penderita akan mengalami ketidakseimbangan. Akibatnya, mereka mudah jatuh atau terhuyung. Agar lebih stabil, penderita harus membungkukkan badan.

Gejala nongerak (otonom)

Selain TRAP, penderita biasanya mengalami gangguan pola tidur, halusinasi, dan kepikunan. Ketika berbicara, penderita bersuara pelan dan sulit berdialog dengan kalimat panjang.

FAQ: Parkinson

Apakah bisa sembuh?

Kemungkinan sembuh 100% tidak ada, tapi bisa membaik. Pengobatan berfokus pada perbaikan kondisi sehingga pasien bisa beraktivitas normal.

Apakah pengobatannya mahal?

Pengobatan Parkinson sudah termasuk jaminan BPJS. Untuk pasien non BPJS, ada beberapa obat yang bisa ditebus dengan resep dokter. Umumnya, kontrol dilakukan sebulan sekali. Jika kondisi pasien stabil, dapat berkurang menjadi 3 – 4 bulan sekali.

Apa yang harus dilakukan oleh keluarga?

Sebisa-bisanya ikuti “ritme” pasien. Jangan memaksa pasien diam saja atau bergerak lebih cepat. Sebab hal itu justru membuat mereka “macet”. Kondisi panik, cemas, dan takut akan memperparah gejala yang dialami pasien.

Usia berapa rentan terkena Parkinson?

Kini, banyak pasien yang berusia sekitar 40 tahun. Paling banyak kasus tersebut muncul pada usia 60-an. Ada beberapa kasus Parkinson usia 20 atau 30 tahun, tapi dipicu penyebab sekunder. Misalnya tumor di kepala atau gangguan sistem saraf pusat.

 

Sumber: Jawa-Pos.16-Maret-2017.-Hal.27