Oleh : Freddy H. Istanto (Dosen Prodi Arsitektur-Interior, Fakultas Industri Kreatif, Universitas Ciputra)

 

Saat melihat sosok yang mengingatkan gerbang di Kota Paris itu, perasaan ini campur aduk. Aneh ada bangunan bergaya Neo-klasik itu di kabupaten Kediri. Semua orang tahu bahwa tongkrongan bangunan itu adalah Arc de Triomphe yang berada di ibu kota Prancis memang monumental. Kediri juga kabupaten yang hebat, pernah punya kerajaan yang tercatat di buku-buku Sejarah. Mengapa ya Kediri tidak mampu menghadirkan jati dirinya sendiri?

Sejak globalisasi merasuk ke mana-mana, pertukaran bentuk-bentuk arsitektur terjadi di mana-mana di dunia. Sebenarnya pada zaman colonial Belanda juga sudah ada bentuk-bentuk bangunan yang menyomot bangunan di Belanda kemudian diterapkan di Indonesia. Juga Spanyol, Portugis, Tiongkok, dan Arab membawa pengaruh pada karya-karya kreatif di Nusantara.

Menutup dasawarsa millennium dua, Indonesia kebanjiran bangunan dengan gaya arsitektur Mediterania. Lalu disusul bangunan-bangunan dengan bentuk seperti Colloseum, Arc de Triomphe, Windmill/Kincir angin, Menara Eiffel, Pagoda (Tiongkok), Torii (gerbang di Jepang) dan masih banyak lagi.

Lalu apa salahnya Monumen Simpang Lima Gumul, Kediri, yang “Arc de Triomphe” di Kediri itu? Memang ini bukan masalah betul atau salah. Kalau bangunan itu adalah penanda kota, pertanyaannya adalah apakah penanda itu punya relevansi dengan kotanya? Arc de Triomphe dibangun untuk menghormati para pejuang yang bertempur pada Revolusi Prancis. Kabarnya bangunan di pusat Simpang Lima Gumul ini idenya seperti juga Arc de Triomphe yang berada di pusat pertemuan 12 Jalan di Kota Paris. Lalu hanya itu saja? Ketika viral, posting tentang banyaknya patung Merlion dibangun di beberapa kota di Indonesia, pikiran jadi melayang ke Arc de Triomphe kabupaten Kediri itu lagi. Kekhawatiran terbesar adalah model patung-patung yang berbentuk Mermaid dan Lion itu dijadikan ikon kota. Kekhawatiran lain adalah patung-patung itu hanya di copy-paste saja, tanpa ada upaya kreativitas. Kegelisahan yang menakutkan adalah patung-patung yang ide asalnya dibangun sebagai ikon kota Singapura itu digagas oleh pemangku kebijakan di kota-kota itu.

Meskipun ikon-ikon kota bisa bebas berbentuk apa saja, bahkan bisa hadir tanpa disengaja.

Kota-kota Magelang, Bontang, Karanganyar, Banjarnegara, Batam, Deli Serdang, dan Madiun punya patung dengan raut patung Merlion itu. Hadir dimanfaatkan sebagai elemen-elemen untuk mempercantik lokasi-lokasi mereka. Di Surabaya ada di Kawasan Citralan, bahkan yang pertama dibangun di Indonesia.

Citraland meng-copy-paste dari asli di Singapura sana untuk menguatkan konsep kawasannya yaitu The Singapore of Surabaya. Melengkapinya dengan ornament-ornamen seperti Merlion, Patung Reffles, fountain of wealth, dan lain-lain.

Ketika membedah gaya arsitektur Mediterania yang marak di Indonesia decade akhir millennial dua, ternyata gay aitu tidak sekedar tren arsitektur. Ada lifestyle baru dan fenomena-fenomena kebudayaan yang menarik. Gaya Arsitektur Mediterania di Indonesia menghadirkan situasi budaya “seolah-olah”. Seolah-olah tinggal di Mediterania. Gaya hidup “seolah-olah” sudah diprediksi lama. Kebudayaan yang oleh Baudrillard (1983) mengikuti model produksi yang disebut “simulasi”.

Isu Mediterania di Indonesia saya bawa dalam konferensi internasional yang diadakan oleh University of California Berkeley. Topik yang menguat di dunia saat itu memang seputaran hyperrelists.

Seolah-olah berada di kota Paris, padahan sejatinya ya di kota Kediri. Kawasan yang tertib, aman, disiplin, teratur, dan bersih maka itu adalah Singapura. Maka tinggallah di the Singapore of Surabaya. Masih perlu ditelaah, apakah hadirnya patung-patung Merlion di beberapa kota di Indonesia adalah fenomena Hiperrealitas/budaya (seolah-olah) atau karena bentuknya menarik (Mermaid dan Lion). Atau bisa juga piknik terjauhnya yak e Cuma ke Singapura sana, jadi kebanggaannya baru sampai di sana?

Era kesejagatan atau globalisasi sebenarnya menawarkan global paradoks. Ikon-ikon kota atau elemen-elemen urban, seharusnya menampilkan kekhasan local yang unik dan tidak ada duanya di bagian lain di dunia. Konteks-konteks tradisional atau lokalitas justru yang akan dicari orang. Memasakinikan elemen-elemen tradisional atau lokal tidak hanya akan menarik bagi pendatang, tetapi juga akan menarik untuk warga kotanya sendiri. Tantangannya adalah bagaimana warga kota atau bahkan pemimpin kotanya sendiri terjangkit atau tidak pada budaya “seolah-olah” itu.

Patung-patung Merlion itu jelas sebuah langkah pastiche atau hanya pengimitasian. Sama juga dengan Arc de Triomphe di Kediri itu, jelas sebuah karya yang miskin kreativitas. Kota Surabaya sendiri juga tidak lepas dari Langkah copas meng-copas itu. Bahkan Ikon kota “Suro-Boyo” malah dikloning di beberapa tempat di kotanya sendiri.

Kreativitas desainer, arsitek, ahli rancang-bangun Indonesia sebenarnya luar biasa. Desainer yang baik tentu akan tabu dengan gaya copy-paste atau “Me too” itu. Di sisi lain, Sebagian masyarakat era ini masih suka desain-desain yang oleh aliran post-modern dicatat sebagai desain-desain yang kreativitasnya begitu-begitu saja (pastiche, parodi, kitsch, dan skizofrenia). Tantangan-tantangan desain di era ini. Tabah dan kuatkan Iman kawans.

 

Sumber: Harian Dis Way.7 Februari 2021.Hal.14-15.