PEMILU legislatif yang akan diselenggarakan pada 9 April tinggal menunggu hari. Makin dekat, makin gencar pula para caleg berlomba-lomba untuk menarik hati seluruh lapisan masyarakat. Mereka menggunakan spanduk, baliho, poster, selebaran, dan televisi sebagai media iklan, untuk merebut suara pemilih dengan memberikan janji-janji kepastian, kesejahteraan, keadilan, bebas korupsi, dan lain-lain.
Ada pula partai yang sengaja menyandingkan nama dan foto tokoh negarawan agar lebih dipercaya. Tidak hanya melalui media iklan saja, para caleg sudah mulai menggunakan metode kampanye blusukan. Metode ini pernah dipopulerkan Joko Widodo sejak menjabat sebagai Wali Kota Solo hingga menduduki kursi Gubernur DKI Jakarta. Dengan sekejap, metode itu menjadi role model yang dianggap jitu oleh para calon legislatif (caleg). Sayangnya, masih banyak para caleg yang blusukan tidak menanggalkan atribut partainya, sehingga itu terkesan ada pamrihnya. Berbeda dengan Jokowi yang menanggalkan atribut itu.
Disinilah masyarakat harus benar-benar cerdas dan jeli untuk mengetahui tujuan para caleg yang akan dipilih. Masyarakat harus bisa melihat calon wakilnya yang benar-benar mempunyai integritas dan moralitas yang teruji. Sedikitnya ada tiga tujuan berbeda yang dibawa para caleg. Itu perlu dicermati oleh masyarakat untuk bekal sebagai pemilih. Pertama, para caleg menjadikan posisi wakil rakyat sebagai ladang untuk menambah pundi-pundi mata pencaharian. Kedua, para caleg menjadikan jabatan wakil rakyat demi mengejar gengsi. Ketiga, mereka yang mengedepankan kepentingan masyarakat ketimbang kepentingan pribadi dan secara track record memang terlihat memiliki hasil pekerjaan yang bisa diandalkan. Yang ketiga ini perlu mendapatkan apresiasi dan layak menjadi figur.
Sebab, dia memiliki misi dan aspirasi yang jelas untuk kepentingan rakyat. Tagline sebuah iklan televisi, wani piro, dapat menjadi peringatan bagi kita agar berhati-hati dengan calon wakil rakyat yang memiliki motivasi dan tujuan ingin kaya raya, punya puluhan rumah, mobil mewah, dan selingkuhan di mana-mana. Tentunya kita tidak menginginkan wakil rakyat yang memiliki motivasi dan tujuan seperti di atas bukan? Oleh karena itu, masyarakat harus cerdas dan jeli dalam memilih untuk mewujudkan wakil rakyat yang berkualitas. Selamat memilih. (*/c2)
Penulis adalah: Raden Panji (Staff Perpustakaan, Universitas Ciputra)
Sumber: Radar-Surabaya-19-Maret-2014. Hal. 2

