MENURUT Dr dr AylingSanjaya MKes SpA, stunting tidak hanya berbicara mengenai anak yang pendek. Namun juga terkait aspek gangguan tumbuh kembang anak dan malanutrisi serta penyakit yang dapat menyertainya. Dosen Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) itu menyebutkan, penyebab serta faktor risiko stunting bisa terjadi sejak di kandungan atau pascalahir pada masa anak-anak. Di wilayah perkotaan, lanjut Ayling, justru stunting disebabkan ketidak pahaman para ibu tentang pentingnya air susu ibu (ASI) untuk bayi. Terpisah, dr Meta Herdiana Hanindita SpA (K) menjelaskan, berdasar penelitian, stunting dapat terjadi mulai saat janin dalam kandungan (11,2 persen), antara lahir sampai berusia 2 tahun (60,6 persen), dan antara 2–5 tahun (28 persen). Dia menyatakan, pendek belum tentu stunting, tapi stunting sudah pasti pendek. Jika memang benar stunting, tentu asupan nutrisi yang memenuhi kebutuhan
diperlukan. Dokter Salmon Charles Siahaan SpOG mengatakan, menjaga kandungan yang cukup nutrisi merupakan hal yang penting sekali. Apakah ibu bisa mengetahui calon bayi akan stunting? Charles menjelaskan, penunjuk atau prediktor anak stunting banyak sekali. Salah satunya adalah ukuran lingkar lengan atas (lila) ibu. Ukuran lila penunjuk dari seorang ibu mengalami kurang energi kronis (KEK). (sam/c9/tia)

