
Sejarah panjang Kampung Peneleh tidak berhenti pada masa Kerajaan Majapahit. Peneleh juga memiliki sejarah perkembangan Islam di Surabaya. Dimana perkampungan Peneleh dijadikan sebagai tempat singgah Sunan Ampel sebelum menginjakkan kaki di Kawasan Ampel.
DOSEN sejarah dari Universitas Airlangga (Unair) Adrian Perksa menyebutkan, Peneleh berasal dari Bahasa Jawa pinilih, bermakna yang terpilih. Nama itu diambil karena dari kampung-kampung yang lain di Surabaya, kampung Peneleh menjadi satu diantara kampung yang disinggahi oleh Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Ampel, sebelum ia berlabuh ke Ampel, tahun 15 Masehi lalu.
Sunan Ampel singgah ke Peneleh melalui jalur Sungai Kalimas yang pada masa itu menjadi jalur transportasi terbesar. Karena Kawasan Peneleh terletak paling dekat dengan sungai, maka singgahlah Sunan Ampel ke kawasan ini. Setelah sebelumnya juga sempat transit di Kembang Kuning.
Singgahnya Sunan Ampel di Masjid Jami yang bangunannya masih ada hingga sekarang.
“Dari forklore yang beredar di masyarakat, sebelum mendirikan masjid ini, Sunan Ampel terlebih dahulu bertarung melawan jago kampung atau ketua kampung yang saar itu menentang kedatangannya. Karena Sunan Ampel menang pada saat itu, maka ia diizinkan untuk mendirikan masjid,” paparnya.
Selain mendirikan masjid kedatangan Sunan Ampel juga mendirikan pondok pesantren yang terletak tepat di samping masjid. “Peneleh juga punya arti tempat yang terpilih untuk mendirikan pondok pesantren,” imbuhnya.
Keberadaan Masjid Jami Peneleh yang ada di tengah-tengah pemukiman penduduk, lanjut mantan Cak Suroboyo ini, terjadi belakangan. Setelah semakin banyak orang berdatangan dan membangun pemukiman dan mengepung masjid. “Dulu letaknya juga di jalan besar, ya mirip seperti Masjid Ampel yang sekarang, dikepung oleh kampung tambahnya.
Masjid ini, menjadi satu-satunya masjid di Kawasan Peneleh. Dan menjadi jujukan warga muslim sekitar, seperti Plampitan, Pandean dan Jagalan untuk beribadah. (bersambung/nur)
