Lebih dari 20 tahun Ependi Simanjuntak berburu “ilmu yang tercecer” di tumpukan buku-buku bekas di lapak tukang loak. Hasil buruannya menjadi andalan banyak mahasiswa, dosen, wartawan, dan para kutu buku yang haus ilmu.
Petang hampir datang ketika dua mahasiswa masuk ke kios buku bekas Guru Bangsa di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, pertengahan Juni lalu. Mereka segera tenggelam di antara jejeran rak yang menyimpan buku-buku sastra dan politik di kios milik Ependi Simanjuntak tersebut.
Ependi, yang biasa disapa Ucok, senang melihat masih ada anak muda. berkunjung dan mengubek-ubek kios buku bekasnya. “Makin ke sini makin sedikit anak muda yang datang dan beli buku. Kebanyakan anak muda sekarang lebih senang main hape. Mudah-mudahan mereka baca buku lewat hape, bukan cuma main medsos,” ujar Ucok, Rabu (16/6/2021), di Ciputat.
Ucok yang berbicara dengan logat Batak nan kental menceritakan, dulu sebagian besar pelanggannya adalah mahasiswa. Mereka umumnya mencari buku teks wajib yang harga barunya sangat mahal untuk ukuran kantong mahasiswa, seperti buku-buku kedokteran, farmasi, biologi, dan hukum. Di luar itu, banyak yang mencari buku-buku sastra, politik, dan kajian agama.
“Buku bekas dari kiosku ini sudah mencetak banyak sarjana, Bang. Selain itu, beberapa pelanggan aku sekarang sudah jadi ‘orang. Ada yang jadi menteri, pejabat kampus, wartawan hebat, dan sastrawan. Beberapa di antaranya dulu suka ngutang buku sama aku, ha-ha-ha,” kata Ucok sambil terkekeh. Ia yakin mereka bisa sukses karena banyak membaca buku banyak meski yang dibaca buku bekas.
Sekarang, kata Ucok, pelanggannya kebanyakan kutu buku, dosen, dan pedagang buku di sejumlah daerah. “Kalaupun mahasiswa, yang datang ke sini paling mahasiswa S-1 yang sebentar lagi lulus atau mahasiswa S-2,” ujarnya.
Sebagian dari mereka kadang datang ke toko buku Guru Bangsa milik Ucok dan ngobrol ngalor ngidul soal buku hingga malam. Dari obrolan itu, Ucok mencatat di kepalanya buku apa yang disukai pelanggannya. “Aku juga baca buku. Ada 2.000 an buku bacaanku di rumah. Malu aku kalau ngobrol sama pelanggan dan aku enggak ngerti apa-apa,” kata Ucok.
Selama pandemi, pelanggan yang datang ke toko buku Guru Bangsa berkurang. Tak banyak lagi kesempatan ngobrol ngalor ngidul soal buku yang membuat Ucok bergairah. Meski begitu, usaha buku bekasnya tidak meredup. Ia memanfaatkan betul lapak virtual dan media sosial. Ia foto sampul buku yang ia jual lantas mengunggahnya di lapak dan media sosial. Harga yang ia pasang mulai Rp 5.000 hingga sekitar Rp 100.000 per buku.
Merantau
Ucok merantau dari Sialang Buah, daerah di pantai timur Sumatera Utara, ke Jakarta pada 1986 untuk meneruskan pendidikan menengah atas. Sembari se kolah, ia jualan koran di Terminal Kalideres, Jakarta Barat. Pekerjaan itu ia tekuni hingga menjelang krisis ekonomi pada 1997. Selanjutnya, ia bekerja sebagai tenaga survei lembaga riset pasar ternama.
“Namun, pekerjaanku dicurigai orang terus, maklum waktu itu suasana politik sedang panas. Akhirnya aku berhenti,” kenangnya. Ucok lantas meneruskan pekerjaan lamanya, jualan koran dan ma jalah di Terminal Lebak Bulus, Jakarta Selatan sejak 1998.
Suatu ketika ketika diajak kawannya untuk menjual buku bekas. Ia dibawa ke lapak-lapak pemulung dan membeli berapa karung buku atau majalah bekas yang mereka kumpulkan. Lantas ia jajakan sembari jualan koran. Awalnya pelanggan Ependi adalah tukang sayur yang perlu kertas bekas untuk bungkus. Lama-kelamaan mulai ada beberapa wartawan yang membeli buka bekas di lapaknya. Kadang mereka nongkrong seharian di kontrakan Ependi untuk mencari buku atau diskusi.
“Ada beberapa nama wartawan yang masih aku ingat. Ada Bang Eros Djarot, Imam Wahyudi, Hawe Setiawan, AS Laksana, dan Richard Oh. Mereka cari buku bekas yang bisa menjadi referensi tulisan,” kata Ucok.
Singkat cerita, bisnis buku dan majalah bekas Ucok terus berkembang. Ia memasok buku ke lapak-lapak buku bekas di Kwitang dan Pasar Senen. Ia juga membuka kios di Pondok Pinang, Jakarta Selatan.
Ucok mengaku banyak men dapat buku bekas dari rumah mantan pejabat militer, pejabat sipil, akademisi, dan tokoh-tokoh penting negeri ini. Ia menyebut beberapa nama pejabat yang koleksi bukunya ia peroleh, antara lain Adam Malik, Ali Sadikin, Ali Said, R Soebiakto, Frans Seda, Buya Hamka, Soedharmono, dan Soesilo Soedarman.
Tokoh seperti mereka, kata Ucok, paling sedikit memiliki koleksi 5.000 buku. Makanya, buku yang ia angkut bukan sekardus dua kardus, melainkan bertruk-truk. “Aku sampai dijuluki tukang kuras buku perpustakaan mantan pejabat oleh teman-temanku,” ujar Ucok.
Sebagian buku bekas milik mantan pejabat itu ia peroleh dari tukang loak. Sebagian lagi ia peroleh langsung dari keluarga mantan pejabat, baik secara gratis maupun mesti ia beli. “Mereka membuang buku koleksi perpustakaan bapak atau ibunya karena tidak sang- gup lagi mengurus atau karena tidak suka baca. Ada juga yang butuh uang,” kata Ucok.
Ucok mengaku kadang merasa sedih melihat buku-buku berikut dokumen penting dan surat pribadi milik para mantan pejabat dan orang penting dalam sejarah bangsa ini berakhir di lapak-lapak tukang loak. Ini bukan omong kosong. Ucok pernah mendapat segerobak buku milik politisi hebat masa lalu dari tukang loak di Kemang, Jakarta Selatan.
“Aku sampai merinding, Bang. Itu buku bagus semua, kok bisa sampai di tukang loak. Ilmu yang ada di buku itu tercecer begitu saja. Kalau tidak aku beli, mungkin buku itu jadi bungkus sayuran,” ceritanya.
Ucok mengatakan, awalnya ia menjual buku bekas semata-mata untuk mencari uang. Kini, ia berpikir apa yang ia lakukan selama lebih dari 20 tahun ini sebenarnya cukup penting, yakni mengumpulkan “ilmu yang tercecer” di lapak tukang loak atau di perpustakaan pribadi yang tidak diurus.
“Aku pikir lebih baik buku-buku bekas yang berharga itu dirawat oleh orang yang suka membaca. Itu lebih bermanfaat,” katanya.
Sumber: Kompas. 24 Juli 2021. Hal. 16

