Atika Walujani

Diare. Nyeri perut atau ada darah pada tinja sebaiknya tidak diremahkan. Apalagi jika sering kambuh. Bisa jadi itu gejala inflammatory bowel disease (IBD) atau penyakit radang usus. Jika tidak diatasi dengan baik, penyakit autoimun ini bisa meningkatkan resiko kanker kolorektal atau kangker usus besar dan dubur.

Dalam diskusi daring terkait World IBD Day 2021, akhir pekan lalu, Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Aziz Rani, yang juga krtua yayasan Gastroenterologi Indonesia (YGI), menjelaskan IBD adalah peradangan kronis saluran cerna akibat kerentanan genetic, pengaruh lingkungan (merokok, pola makan, obat obatan dan mikrobiota usus), peningkatan permeabilitas usus, serta respons imun.

Ada dua jenis gangguan pada IBD yakni penyakit Crohn ysng diidentifikasi tahun 1932 dan colitis ulseratif yang telah dikenal sejak tahun 1859.

Laman World IBD Day mencatat, penyakit ini diderita lebih dari 5 juta orang di seluruh dunia. Menurut Aziz, setiap tahun terjadi pertambahan kasus 6 per 100.000 penduduk asia, 19 per 100.000 penduduk di Amerika Utara dan 24 per 100.000 penduduk di eropa. Adapun insiden di Indonesia 0,88 per 100.000 penduduk per tahun.

IBD dapat menyebabkan kualitas hidup penderita menjadi buruk, angka kesakitan tinggi, dan tidak jarang menyebabkan komplikasi yang perlu perawatan dan prosedur bedah. “Berdasarkan eksplorasi dari patogenesis penyakit, epidemiologi, dan target pengobatan baru, tujuan terapi kini bergeser dari mengontrol gejala kea rah upaya mengatasi penyakit sejak dini untuk mencegah kerusakan lambung dan terjadinya disabilitas,” ujar Aziz.

Intervensi dini hanya bisa tercapai jika ada kesadaran luas terkait IBD. Karena itu, para ahli penyakit dalam terkait gangguan sistem pencernaan mendirikan Yayasan Gastroenterologi Indonesia sebagai wadah melakukan edukasi ke masyarakat awam.

Menurut Marcellus Simadi Brata, Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam FKUI, di acara sama, penyakit Crohn bisa mengenai seluruh bagian saluran pencernaan, mulai dari mulut hingga retrum (dubur). Paling sering terjadi diusus halus sebelum masuk ke usus besar.

Peradangan terjadi berselang-seling dengan daerah sehat. Luka akibat radang bisa menembus lapisan dinding usus dan merembet ke organ lain di dekatnya, seperti kandung kemih, vagina, atau bagian usus lain. Komplikasi lain adalah penyempitan dan sum batan usus, usus berlubang, dan bernanah. Pada penderita anak dan remaja, bisa terjadi hambatan pertumbuhan akibat malnutrisi atau kurang gizi.

Pada kolitis ulseratif, peradangan hanya dari rektum hingga usus besar. Peradangan juga terbatas pada dinding usus. Komplikasinya, pelebaran dan pecahnya usus besar.

Selain gejala umum berupa diare, rasa lelah, nyeri perut, dan penurunan berat badan, gejala spesifik penyakit Crohn adalah demam dan terhentinya pasokan darah ke usus. Adapun gejala khusus kolitis ulseratif meliputi perdarahan pada dubur, nyeri atau kram perut, dan sering buang air besar dengan rasa tidak nyaman.

Penyakit Crohn dan kolitis ulseratif sering kali juga bermanifestasi di luar saluran cerna, seperti nyeri otot dan sendi, gangguan kulit, kurang gizi, batu empedu, radang saluran empedu, kanker saluran empedu, radang hati, infeksi mata, serta batu ginjal.

“Penyakit ini menyebabkan gangguan produktivitas, me nyebabkan sering tak masuk kerja yang bisa berujung pada pemecatan atau tak masuk sekolah, menimbulkan disabilitas, menurunkan kualitas hidup, menyebabkan kecemasan dan depresi, serta meningkatkan ke matian,” papar Marcellus.

Kematian umumnya akibat kanker kolorektal. Prevalensi kanker kolorektal terkait IBD di kawasan Asia Pasifik 0,3-1,8 persen.

Pengobatan IBD bersifat simtomatik (mengurangi geja la) dilanjutkan upaya penyem buhan mukosa (lapisan din ding saluran cerna) secara ber tahap. Jenis obat, antara lain, golongan amino salisilat, antibiotik, kortikosteroid, penekan sistem imun, agen biologis, dan obat simtomatik. Penyembuhan akan lebih maksimal jika penderita berolah raga 30 menit per hari, tidur cukup, mendapatkan psikoterapi, hipnoterapi, dan dukungan sosial.

Mengatur pola makan

Selain terapi obat, yang tak kalah penting adalah pengaturan pola makan. Dalam hal ini pantangan makanan dan minuman untuk menghindari ke kambuhan sekaligus menjamin kecukupan gizi.

Menurut Marcellus, kebutuhan protein 1,2-1,5 gram per kilogram berat badan per hari untuk orang dewasa perlu di penuhi. Selain itu, juga pemberian probiotik, zat besi untuk mengatasi anemia, suplemen atau makanan kaya vitamin D3, dan kalsium.

Makanan yang harus dihindari jika mengidap IBD, demikian MedicineNet, 27 Agustus 2020, adalah makanan berlemak yang digoreng, makanan pedas, daging, saus krim, makanan berserat tinggi termasuk buah dan sayuran mentah, kacang-kacangan, biji-bijian, minuman berkafein, permen, soda, jus buah yang manis, serta alkohol. Membuat jurnal harian makanan untuk mencatat apa yang dimakan dan gejala yang mungkin dialami bisa membantu menghindari makanan penyebab kekambuhan.

Saat kambuh dianjurkan mengonsumsi makanan netral dan lembut, seperti kentang tumbuk, nasi, mi, roti putih, sereal tawar, oatmeal, pisang. saus apel, daging unggas atau ikan tanpa lemak, dan telur.

Crohn’s & Colitis Foundation menyarankan penderita makan empat sampai enam porsi kecil setiap hari. Siapkan makanan yang bisa ditoleransi pencernaan dan gunakan te knik memasak sederhana, yak ni rebus, panggang, atau kukus. Minum dalam jumlah cukup agar tidak mengalami dehidrasi. Boleh berupa air, kaldu, jus buah tanpa gula, atau larutan rehidrasi. Minum perlahan, hindari memakai sedotan yang menyebabkan Anda menelan udara sehingga kembung.

Jika diare dan nyeri perut mereda, mulai terapkan pola makan beragam dan kaya zat gizi. Lakukan secara perlahan. Konsultasikan dengan dokter atau ahli gizi sebelum membuat perubahan pola makan.

Makanan yang dapat mem bantu tetap sehat dan terhidra si, antara lain, kacang-kacang an, biji-bijian, daging tanpa le mak, ikan, telur, berbagai sa yuran dan buah yang dikupas kulitnya, susu, serta makanan probiotik (yogurt, kimchi, miso, sauerkraut, dan tempe).

Mengingat penderita IBD mengalami ketidakseimbangan mikroba usus atau lebih ba nyak bakteri buruk penyebab peradangan, maka probiotik yang terdiri dari bakteri baik dan bersifat anti-peradangan sangat disarankan untuk di konsumsi.

 

Sumber: Kompas. 29 Mei 2021. Hal.8