Menginjak usia 100 tahun pada 15 Januari lalu, RS Darmo berupaya merawat bangunan kuno rumah sakit. Terlebih, gedung rumah sakit tersebut sudah ditetapkan pemerintah kota sebagai salah satu cagar budaya pada 2008. Salah satunya, pemeliharaan taman yang mengelilingi bangunan rumah sakit seluas 4,5 hektare.

“Perawatan taman memang butuh effort lebih karena cukup luas. Dan sejak awal berdiri sudah dikonsep sebagai garden hospital. Ada tim yang terdiri atas 10 gardener ahli. Untuk peremajaan tanaman, kami juga punya ruang khusus pembibitan,” ujar Wakil Direktur (Wadir) RS Darmo dr Veronika Soentiono MARS kepada Jawa Pos kemarin (29/1).

Dia menjelaskan, bunga ataupun tanaman yang sudah tua dengan daun-daun yang mongering akan ditarik. Diganti tanaman yang lebih segar.

“Sementara yang lama diletakkan di ruang pembibitan untuk dirawat dan dikasih pupuk supaya kembali fresh. Selain itu, para gardener rutin memotong rumput. Dan, merapikan tanaman-tanaman perlu supaya tidak menjadi semak belukar,” paparnya.

Meski merupakan bangunan cagar budaya, kata Veronika, kegiatan peremajaan tetap dilakukan. Tetapi, dengan catatan, tidak sampai mengubah bentuk asli bangunan. Karena itu, perawatannya, antara lain, melakukan pengecatan setiap tahun. Juga mengganti genting yang sudah lapuk.

Jendela, pintu, hingga lampu-lampu lilin di sepanjang lorong rumah sakit tetap dipertahankan hingga saat ini. “Semua dilakukan dengan maintenance ekstra. Bahkan, di bagian instalasi binatu, kami masih pakai mesin setrika yang usianya sama dengan usia rumah sakit. Mesinnya masih sangat fungsional dan terpelihara dengan baik,” imbuh alumnus FK Unair itu.

Veronika menambahkan, dua prasasti juga masih bisa ditemui di dalam kompleks rumah sakit. Yakni, prasasti berbahasa Belanda di lobi utama yang menerangkan peletakan batu pertama di RS Darmo dilakukan pada 15 Januari 1921. Satu lagi adalah prasasti tentang per-tempuran 10 November oleh ­arek-arek Suroboyo yang melawan tentara sekutu.

 

Sumber: Jawa Pos, 30 Januari 2021