Seperti Dramaturgi Jawa : Musisi asal Prancis memainkan alat musik tradisional gamelan yang berkolaborasi dengan beberapa musisi Indonesia, saat berlatih sebelum penampilannya dalam Legenda Godogan Kungkum Kodok, di Universitas Ciputra

 

Pada bulan Agustus 2022 komposer dan pemain perkusi Alex Grillo kembali ke Indonesia untuk membuat sebuah karya pertunjukan Prancis-Indonesia baru dengan mitra seniman historisnya, para musisi dan penari komunitas Gayam16. Alex meminta kepada penulis Elizabeth Inandak untuk menulis opera libretto berdasarkan legenda Bali, Pangeran dan Katak. Penulis ini khususnya  dikenal dengan karyanya lagu-lagu pulau dan tiduk tegak, adaptasi bebas dan Serat Centhini. Kemudian dibuatlah pertunjukan tari dan gamelan Legenda Godokan Kungkum Kodok.

Alex Grillo menuturkan, pertunjukan ini meruapakan bentuk opera kecil untuk gamelan, instrumen elektronik, dua penari dan lima musisi yang salah satunya mengomposisikan music secara real time. Karya ini menggabungkan dua budaya artistik Prancis dan Indonesia melalui bagian-bagian yang ditarikan, gamelan spasial (interaksi ruang), dan interaksi elektronik real time dengan Christian Sebille. “Narasinya bi-lingual, dalam bahasa Prancis dan Indonesia, sebagian dinyanyikan dan sebagian dinarasikan, seperti  halnya tradisi dramaturgi Jawa,” ujar Alex dalam gladi resik di Auditorium Universitas Ciputra, Rabu

Khusus untuk Kota Surabaya, IFI dengan Universitas Ciputra untuk pertamakalinya bekerja sama dalam menggelar acara seni. Yakni melalui pertunjukan Tari & Gamelan Legenda Godogan Kungkum Kodok karya kolaborasi Prancis-Indonesia ini.

Menurut Alex, untuk Godogan adalah seorang ilmuwan, ahli bioakustik yang mempelajari nyanyikan katak. Dia menyadari kepekaan batrachian terhadap gangguan lingkungan, dia menyaksikan hilangnya katak emas Monteverde pada tahun 1990, spesies yang secara resmi dinyatakan punah pada tahun 2001.

“Bahwa saat berkunjung ke Yogyakarta dan mendengarkan suara kodok di Merapi, saya mempelajari suara kodok dan bertemu kodok itu di depan matany. Akhirnya terciptalah Godongan Kungkum Kodok. Artinya setelah Kungkum (berendam) terdengarlah suara kodok tersebut,” ujarnya.

Sementara itu musisi gamelan, Marie-Pierre Faurite mengatakan, pertunjukan seni sastra budaya dan antar disiplin seni menghubungkan masalah lalu dengan seni dan juga masa kini dengan digital. Sehingga budaya Prancis dan Indonesia digabungkan di bidang seni ini. Karena juga ingin melestrikan lingkungan dengan seni ini.

“Jadi kesenian ini menggabungkan seni lama yang dikemas seni baru seperti ini. Sehingga godogan yang hidup hari ini dan kisahkan serta menjaga lingkungan dan alam,” ungkapan.