Gunakan Teknologi di Kebun Sayur
18 Januari 2023. Hal. 18
Petani milenial di Desa Kalipadang, Kecamatan Benjeng. Gresik sukses menjadi jutawan. Anak-anak muda berhasil mengubah lahan langganan banjir menjadi kebun sayur produktif.
LAHAN yang berada di bantaran Kali Lamong itu menghasilkan jutaan rupiah setiap panen. Tak heran warga setempat dijuluki sebagai kampung sayur Gresik.
Salah satu petani milenial. Agung Saputro (27) mengatakan memilih bertani sayur. Sayur memberikan keuntungan lebih besar dibandingkan dengan bertani padi, jagung, maupun kedelai. Selain itu, masa panen relatif pendek yakni berkisar 20-30 hari. Masa panen yang lebih cepat membuat kelompok petani milenial serius menekuni usaha kebun sayur. Sayur langsung terserap pasar. Pengepul membeli di kebun dengan harga yang pantas.
“Sekali panen, bisa meraup penghasilan mencapai Rp 12 juta per hektare,” kata Agung, Selasa (17/1).
Rekan-rekannya memanfaatkan semua lahan untuk menanam sayur termasuk memanfaatkan pekarangan di depan rumah. Kini hampir 70 persen warganya menjadi petani sayur bayam, kangkung, dan sawi. Produksi sayur asal Desa Kalipadang, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan warga Gresik, tetapi juga warga Surabaya, Lamongan, dan Sidoarjo.
“Semula hanya para orang tua yang bertani. Namun, sejak 5 tahun terakhir, mulai bergeser dan banyak diminati kelompok milenial. Alasannya, keuntungan bertani sayur yang jauh lebih menjanjikan. Akhirnya semuanya bertani,” terangnya.
Meski menjadi langganan banjir, warga di desa ini tidak pernah menyerah. Mereka, membuat waduk penampung air di sekitar kebun. Waduk ini menjadi sumber satu-satunya sumber irigasi petani sayur di musim kemarau.
“Waduk tadah hujan ini menampung air di musim hujan sekaligus sumber air di musim kemarau,” tuturnya.
Kepala Desa Kalipadang, Candra Prasetya Suwandi, menuturkan kelompok petani milenial juga memanfaatkan perangkat teknologi modern. Salah satunya menggunakan penyiram tanaman otomatis (spinkle). Penyemprot tanaman otomatis itu bisa berputar 360 derajat untuk menyirami tanaman. Itu membuat petani bisa bekerja lebih efektif dan hasilnya jauh lebih optimal.
Kelompok petani milenial di desa ini juga berhasil membuat pupuk organik dengan memanfaatkan tanaman lamtoro gung di sekitar kebun. Pupuk inovasi warga ini ramah lingkungan, efektif menyuburkan tanah, dan membuat produk sayur yang dihasilkan lebih sehat.
“Kami semua sedang merancang Desa Kalipadang menjadi kebun sayur ditambah Wahana Wisata edukasi agro sayur. Destinasi wisata ini, menyediakan lahan bagi wisatawan, terutama anak-anak untuk belajar menanam, merawat, hingga memanen sayur,” kata Candra. (wil)

