Menyiapkan generasi emas adalah misi khusus bagi Petrus Yoseph Bayleto, ia pernah merasakan getirnya perang suadara sehingga ia terpanggil untuk ikut membangun fondasi nasionalisme di tapal batas. Jalur “nasionalismenya” yang tidak biasa-biasa saja itu mempertemukannya dengan banyak dunia baru, termasuk dunia film.
OLEH SAIFUL RIJAL YUNUS DAN AGNES THEODORA
Saya ini kuli PAUD. Itu sudah !
Kalau kuli kan, kerjanya harus bagus biar majikan bangga. Majikannya, ya, anak-anak itu, ahli waris NKRI. Mereka akan menjaga Merah Putih berkibar lebih tinggi pada 2045,” kata Petrus Yoseph Bayleto yang biasa di sapa Yap.
Ia tekun menyiapkan generasi emas untuk menjaga Indonesia melalui Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Fajar Usia Emas di Kelurahan Tenukik, Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Selasa pagi, awal Agustus lalu, 40-an anak-anak berusia 3-6 tahun riang gembira di PAUD yang di gegas sejak enam tahun lalu itu. Teriakan dan lengkingan khas anak-anak terdengar bersahut-sahutan.
Tiga guru pendamping anak-anak yang terbagi di dua kelas. Dua guru mendampingi anak berusia lebih muda. Anak-anak itu sedang di ajarkan membersihkan tangan sehabis berkegiatan. Satu per satu bocah-bocah lucu itu maju ke pancuran air di bimbing sang guru.
“Si Bella, yang baju ungu itu, anak eks pengungsi (Timor Timur yang sekarang menjadi Republik Demokratik Timor-Leste). Yang pakai kaus kaki merah juga. Ada juga anak-anak yang beda suku atau agama,” ucap Yap. Apa pun latar belakang, anak-anak di PAUD itu bebas bermain dan bersosialisasi dengan anak lain. Tidak ada perbedaan perlakuan.
“Bukankah dengan menghargai perbedaan kita semakin rendah hati?” ujar Yap sambil mengawasi anak-anak dari teras rumahnya. PAUD itu memang tepat berada di depan rumah Yap, memanfaatkan lahan kosong di halaman.
Toleransi adalah pelajaran utama yang dikenalkan kepada anak-anak PAUD Fajar Usia Emas. Di ruang kelas yang penuh dengan tempelan kertas dan poster dengan mudah ditemukan penjelasan tentang agama-agama yang ada di indonesia, ciri-ciri fisik anak-anak, suku-suku, dan peta Indonesia.
Sebagian besar gambar itu dicetak sendiri oleh Yap dengan mengunduh dari internet. PAUD ini masuk 12 besar PAUD holistik integratif terbaik se-Kabupaten Belu dari Save The Childern.
Yap berharap pelajaran tentang toleransi akan terus melekat di memori anak-anak sehingga mereka bisa menjadi perekat kehidupan berbangsa di kemudian hari.
Hal-hal lain terus isa dukungkan termasuk kepada guru, adalah pentingnya merawat nasionalisme. “NKRI itu sudah final. Tugas kita bagai mana mengenalkan nilai tersebut kepada anak-anak. Makanya setiap menyanyikan lagu kebangsaan setiap pagi, saya ingatkan guru agar memberi contoh menghormati lagu kepada anak-anak,” katanya.
Anak itu investasi
PAUD Fajar Usia Emas resmi berdiri sejak 2012. Sekitar 40 persen biaya pembangunan PAUD ditanggung Yap dan keluarga meski mereka harus berutang. Sisanya berasal dari bantuan pemerintah.
Sebelum mengurus PAUD, Yap adalah aktivis perlindungan anak di Kabupaten Belu. Pada 2010 dia mendapatkan pelatihan tentang PAUD. Dari situ dia tertarik membantu PAUD karena belum ada disekitar tempat tinggalnya.
Dengan segala upaya, sebuah ruang kelas berukuran 5 x 6 meter akhirnya terbangun. Setelah menemukan guru yang mau mengabdi, Yap mendatangi satu-satu rumah warga yang mempunyai anak usia 3-6 tahun untuk mengenalkan PAUD Fajar Usia Emas. Dia juga mencetak selebaran, mengedarkannya di sejumlah tempat. Usahanya membuahkan hasil. Sebanyak 30 anak mendaftar. Setahun pertama Yap menggratiskan biaya sekolah. Baru pada 2013, setiap siswa di kenai biaya 20.000 perbulan. “Tahun ini baru naik Rp 25.000 per bulan. Namun, kami tidak harapkan dari situ karena kondisi masyarakat juga belum cukup baik. Yang penting anak-anak di usia emasnya bisa sekolah dulu.”
Honor guru yang di bayar Rp 200.000 per bulan di peroleh dari bantuan sana-sini. Tidak jarang kas keluarga dari toko kelontong miliknya digunakan untuk menutupi biaya operasional.
Jalan hidup
Jalan hidup Yap memang tiak biasa-biasa. Nenek dari ayah Yap yang berasal dari suku Kemak, wilayah Timor-Leste, pindah ke Atambua sejak 1911. Generasi ini lalu beranak pinak di wilayah Atambua. Yap yang tumbuh dewasa di Atambua sejak 1995 bekerja di Dili ketika wilayah itu masih bergabung dengan Indonesia.
“tahun 1999 saya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana perang saudara terjadi. Saya tidak mau itu terjadi lagi. Perang itu tidak ada untungnya,” kata Yap dengan air mata berlinang. Setelah kembali ke Atambua, Yap memulai kehidupan baru. Ia pernah menjadi pengawas proyek. Setelah itu ia menjadi aktivis sosial.
Karena aktivis sosialnya, Yap terlibat dalam pembuatan video dokumenter yang di produksi dan di industri dari duo Mira lesmana dan Riri Riza. Setelah itu, Mira dan Ririn membuat film tentang kondisi sosial di Atambua dengan jdul Atambua 39 Derajat Celsius.
Setelah melalui casting, Yap terpilih memerankan seorang eks pengungsi yang meninggalkan istri dan anak perempuannya di wilayah Timor- Leste. “ tokoh itu di gambarkan suka mabuk-mabukan dan marah-marah. Kalau itu saya bisa. Masalahnya saya di suruh nangis juga. Otu susah sekali,” cerita Yap yang tidak memiliki latar belakang akting ini.
Postur Yap dengan tinggi 180 senti meter lebih, rambut bagian belakang panjang, dan kumis tebal memang tidak cocok menangis.
Setelah film itu tayang, Yap mendapat banyak sambutan baik. Di ajang indonesia Movie Awards 2013, Yap terpilih sebagai pemeran pendukung peia terbaik, Yap tidak anggup hadir di ajang itu sehingga penerimaan piala diwakili Didi Petet (almarhum).
Lalu kenapa tidak mengajarkan akting kepada anak muda di lingkungan?” saya masih fokus di PAUD dulu. Saya juga mau kuliah. Ilmunya kurang kalau cuman lulusan SMK. Saya juga sudah memperjuangkan guru- guru PAUD untuk bisa kuliah,” ucap Yap.
Sumber: Kompas, 21 Agustus 2017. Hal.16

