Pilihan di Tengah Keterbatasan. Kompas.4 Mei 2015.Hal.16

Warga sekitar Karst Citatah di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, pernah hidup tanpa banyak pilihan. Itu sebabnya, saat kesempatan itu datang, mereka tidak ingin melewatkannya.

Obrolan hangat di saung penyimpanan panen jambu batu di kKampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, tiba-tiba terganggu suara ledakan dari sekitar kawasan Karst Gunung Hawu.

Deden Syarif Hidayat tak menunggu lama. Ia segera menaiki sepeda motornya menuju titik ledakan, sekitar 2 km dari saung bamboo.

“Bummmm…..,” bunyi ledakan kedua terdengar saat Deden baru saja menarik tuas gas sepeda motor.

Tak menghiraukan jalan berkelok dan berbatu yang dibangun petani jambu, Deden lincah mengendarai sepeda motor. Di tengah jalan, ia kembali disambut ledakan ketiga. Ia turun dari sepeda motornya ketika berjarak 1 km dari ledakan. Ia masih melihat batuan kapur berhamburan ke udara seperti air mancur. Reruntuhan kecil masih luruh dari Gunung Hawu.

”Sebelumnya saya sudah lega. Sudah 6 bulan tidak ada ledakan bom di Gunung Hawu, tapi sekarang….,” ujarnya.

Belum selesai bicara, konsentrasi Deden dibuyarkan tiupan peluit dan sirene seperti ambulans. Samar-samar terdengar orang berteriak. Entah apa yang diucapkan orang itu. Namun, Deden tahu itu isyarat aka nada ledakan selanjutnya. Sekitar 15 menit kemudian, dugaan itu benar. Bunyi ledakan keempat terjadi tepat di depan matanya.

“Bummmm….”

Deden kembali tidak bisa berbuat apa-apa. Matanya nanar. Hatinya remuk seperti tebing kapur yang runtuh.

Di dekatnya, Iim (60), petani setempat yang baru saja kemarin memanen jambunya, tersenyum kecut. Iim juga tak menyangka akan ada ledakan lagi.

”Bapak tos cape nambang. Mending ayeuna mah melak jambu ieu we (Bapak sudah lelah menambang. Lebih baik sekarang menanam jambu),” kata Iim, seperti menenangkan hati Deden yang galau.

Mendengar itu, Dadang terdiam. Hatinya sedih sekaligus lega. Diantara deru penambangan yang terus berjalan, pendampingan yang dilakukan bersama Forum Pemuda Peduli Karst Citatah (FP2KC) menjadi semangat kecil bagi warga untuk mempertahankan hidup. Budi daya jambu batu hanya salah satu alternatif yang terus didukung.

Keras

Ingatan Deden melayang pada 6 tahun lalu di Tebing 125, salah satu titik vital di Karst Citatah, Kabupaten Bandung Barat. Kecintaan pada panjat tebing membawanya kerap melatih kekuatan jari jarinya di sana, yang berjarak 1 km dari kediamannya di Kampung Cidadap.

Saat itu, kegembiraannya terganggu. Ketika asik menguras keringat menapaki tebing, konsentrasinya terganggu suara gaduh. Aktivitas penambangan, seperti garukan alat berat hingga ledakan menghancurkan tebing kapur, membuatnya khawatir.

Beragam pertanyaan berputar di kepalanya. Bagaimana jika penambangan menghancurkan Tebing 125, atau apa yang terjadi jika Karst Citatah yang ampuh menyimpan air rusak. Padahal, kawasan Karst yang berusia 20-30 juta tahun itu lama hidup bersama warga di sekitarnya.

Karst Citatah adalah salah satu kawasan kapur penting di Jabar. Di sini, kehidupan manusia prasejarah pernah tinggal. Sumber air bersih juga mengalir di rongga kapur bawah tanah. Namun, kini beberapa gunung kapur penting, seperti Pabesan, Karang Panganten, dan Pasir Manik, dipaksa mengorbankan tubuhnya digerus penambangan sejak 1970-an.

Darah mudanya bergolak. Bersama kawan-kawannya, Deden membentuk FP2KC tidak lama kemudian. Ia memimpin banyak aksi menentang penambangan. Dalam setiap aksinya, ia selalu berteriak tutup penambangan dan pabrik kapur.

Tak heran ia sering mendapatkan ancaman melalui pesan singkat. Tawaran rupiah asal Deden dan rekan-rekannya di FP2KC mengerikan aksinya juga bermunculan.

Meski demikian, seiring waktu berjalan, bukan ancaman yang membuatnya berpikir mengubah strategi. Minimnya partisipasi masyarakat hingga masih tingginya ketergantungan warga pada tambang membuatnya harus memutar otak.

”Harus ada pemahaman baru atau keterampilan baru yang melibatkan masyarakat. Aksi harus tetap jalan, tetapi harus diimbangi dengan pendidikan masyarakat,” katanya.

Ia pun mendirikan Rumah Alam 125. Letaknya di kaki Tebing 125. Remaja setempat diajak beraktivitas bersama, mulai diskusi lingkungan, pelatihan panjat tebing dan pembuatan proses produk berbasis sampah, pelatihan seni budaya, hingga siaran radio terbatas.

”Ada juga pesantren alam dengan titik berat pada penjagaan nilai lingkungan. Keterlibatan masyarakat sangat tinggi,” katanya.

Minat masyarakat itu pula yang mendorongnya menggagas program Kelompok Pemberdayaan Masyarakat (pokdarwis). Masyarakat diminta membuat kelompok khusus untuk menjaga, sekaligus mendapatkan keuntungan ekonomi dari potensi wisata di sekitar Karst Citatah. Dengan harapan, Karst tetap terjaga dan warga bisa mendapatkan penghasilan.

Kelompok pertama muncul di kampung Girimulya, Desa Gunung Masigit. Di kampung tersebut, warga diajak mengelola taman batu yang dibentuk alam sejak ratusan juta tahun lalu.

Secara swadaya, masyarakat mengumpulkan uang untuk membuat jalan yang layak bagi pengunjung. Warga juga mencari sendiri sumber mata air dan paralon untuk menyalurkan air bagi sarana-prasarana pendukung kawasan. Pelatihan bagi 70 pemandu wisata juga dilakukan. Pengunjung diminta membayar Rp3000 per orang untuk biaya perawatan kawasan, kebersihan, dan asuransi.

”Perbaikan pelayanan ini sedikit banyak berkontribusi bagi kunjungan ke Taman Batu. Tidak jarang, dalam sepekan kunjungan wisatawan hingga 1000 orang. Mayoritas pengunjung adalah pelajar dan mahasiswa,” katanya.

Sukses di Taman Batu menginspirasi berdirinya tiga pokdarwis lain di Padalarang. Pokdarwis Kampung Cinangsi Desa Gunung Masigit, sekitar Gunung Puteri; Pokdarwis Kampung Pamucatan, desa Padalarang, mendampingi area panjat Tebing 125; dan Pokdarwis Kampung Cidadap, Desa Padalarang, yang menjaga Gunung Hawu-pabeasan. Tidak sedikit anggota pokdarwis adalah mantan petambang.

”Pilihan yang dimiliki warga Ini hanya salah satu dari sekian jalan yang muncul setelah menjaga Karst. Masih banyak pilihan yang tidak disadari justru mengharumkan nama Bandung Barat,” katanya.

Sumber: Kompas, Mei 2015