Prof Denny Bernardus Kurnia Wahyudono, dari Urusan Real Estat sampai Jadi Guru Besar UC. Didukung Ayah hingga Dibuatkan Pidato Pengukuhan

Jawa Pos. 26 Januari 2024

MARIYAMA DINA

Prof Dr Ir Denny Bernadus Kurnia Wahyudono MM bangga saat dikukuhkan sebagai guru besar Universitas Ciputra. Dia lebih bahagia lagi karena gelar tersebut diraih berkat dukungan penuh sang ayah, Prof Dr Johannes Gerardus Nirbito MPd.

“Mama, dirumah sekarang ada dua guru besar. Tapi tenang, Mama tetap pemimpinnya,” ujar Denny dalam pidato pengukuhan gelar profesornya di Universitas Ciputra.

Mendapat gelar profesor di usia 56 tahun membuat Denny kini bisa bersanding dengan sang ayah, seorang guru besar yang berusia 83 tahun.

Denny bercerita, dirinya tidak pernah berpikir untuk menjadi professor. Bahkan, menjadi tenaga pendidik dan terjun di dunia pendidikan pun tidak ada di pikirannya saat masih muda. “Tapi, background keluarga saya adalah keluarga pendidik. Ayah dan ibu saya seorang dosen. Kakek juga guru. Kalau lagi makan siang, yang dibahas itu dunia pendidikan, dunia kampus. Dari sana rasanya alam bawah sadar saya sudah punya bibit guru,” papar Denny saat ditemui usai pengukuhan.

Namun, setelah lulus dari jenjang pendidikan perguruan tinggi, rasa menjadi seorang pendidik itu hilang. “Itu hilang waktu bekerja di Ciputra Group di bagian korporasi sebagai arsitek. Di sana kan saya fokusnya ngurusin real estat. Jadi, sampai 18 tahun itu hilang,” lanjutnya.

Takdirlah yang membawa Denny kembali ke dunia pendidikan, sama seperti kedua orang tuanya maupun sang kakek. Pada 2008 dia diminta untuk mengembangkan Universitas Ciputra. “Waktu itu Pak Harun, managing director Ciputra Group, yang meminta saya untuk ke UC. jadi, saya seperti teh celup yang diminta untuk memberikan rasa Ciputra di kampus ini,” kenang Denny, lantas tertawa.

Dua tahun terjun di dunia pendidikan dan bertindak sebagai dosen membuat Denny ingin kembali melanjutkan studi. Pria dua putri itu akhirnya melanjutkan pendidikannya untuk meraih gelar doktor. Setelah lulus, dia pun tidak ingin melanjutkan ke guru besar. “Waktu itu saya merasa kalau jadi guru besar itu, tuntutannya banyak sekali. Apalagi, saya sebelumnya bukan orang akademik, melainkan orang proyek. Yang mana lebih seneng lihat omzet,” ujar Denny, lantas tertawa.

Namun, saat perjalanannya di UC semakin lancar hingga sampai menjadi lektor kepala, dia merasa harus memberikan sesuatu yang lebih untuk dunia pendidikan. Dari sana, akhirnya dia berusaha untuk bisa meraih gelar guru besar. “Bikin riset atas bantuan teman-teman dan keluarga. Termasuk ayah. Bahkan beliau juga bikin pidato pengukuhan,” tambahnya.

Demi meraih gelar profesor, Denny mengaku sampai meninggalkan segala hobinya selama tiga tahun terakhir. Mulai hobi mobil klasik hingga diving dia tinggalkan. “Tapi, karena sekarang akhirnya sudah tercapai, agak lega. Habis gini bisa main sama hobi lagi,” ujarnya.

Denny mengungkapkan, butuh waktu 30 tahun berkarier di Ciputra Group untuk sampai di titik saat ini. “Dan, saya selisih 20 tahun dengan gelar profesor ayah,” katanya. Menjadi anak guru besar yang ayahnya masih bisa menemani hingga meraih gelar itu pun tidak banyak. “Bisa dibilang hanya 1 persen dari populasi dosen,” imbuhnya. (*/c7/ai)