Bagi Prof Kim Soo-il Indonesia memiliki tempat istimewa di hati. Pada 2012 pria 61 tahun asli Busan, Korea Selatan, tersebut mendirikan Busan Indonesia Center yang dijadikannya sebagai gedung persahabatan antara dua negara. Berikut catatan wartawan Jawa Pos NORA SAMPURNA yang pekan lalu berkunjung ke Korsel.
Jalan Surabaya Ada di Kota Busan
Lambang negara Garuda Pancasila tertempel di dinding, sedangkan bendera Merah Putih berkibar di halaman depan. Banyak yang mengira bahwa Busan Indonesia Center (BIC) adalah gedung yang didirikan pemerintah Indonesia. Padahal, pendirinya Kim Soo-il, guru besar asli Negeri Ginseng itu.
Pria kelahiran Busan, 20 Januari 1953, tersebut memiliki ikatan yang sangat erat dengan Indonesia. Dia pernah menjadi konsul kehormatan RI di Busan pada 1993-2007. “Saya terikat dengan Indonesia sejak 1972, tepatnya ketika kali pertama saya mempelajari bahasa Indonesia di kampus,” ujarnya dengan bahasa Indonesia yang fasih kepada Jawa Pos yang menemuiya di lantai 4 gedung BIC.
Di ruangan tersebut, bamyak terpajang foto Kim bersama presiden dan mantan presiden Indonesia, mulai Soeharto yang menandatangani surat penunjukan dirinya sebagai konsul kehormatan pada 1993, B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, hingga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Juga, sederet plakat dan piagam penghargaan yang pernah diterimanya dari pemerintah Indonesia.
Profesor Kim lantas mengajak berkeliling gedung BIC. Dia menunjukkan beberapa ruangan di lantai 4. Di antaranya, ruang Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) untuk promosi pariwisata dan industri kreatif Indonesia serta ruang BNP2TKI untuk konseling bagi para TKI di Busan. Turun ke lantai 3 yang merupakan kantor Konsulat Indonesia, terdapat ruang perpustakaan mini yang menyediakan bahan rujukan tentang Indonesia. Lantai 2 merupakan gallery hall yang memajang lukisan dan barang-barang seni koleksi Kim. Pekan lalu yang dipajang lukisan-lukisan karya pelukis Korea. “Oktober ini giliran lukisan karya para pelukis Bali bakal dipamerkan di sini,” kata Kim.
Sementara itu, lantai 5 dijadikan guest house. BIC juga menyelenggarakan kursus bahasa Indonesia setiap Senin pukul 19.00-20.30. Pesertanya saat ini 15 orang, kebanyakan dari kalangan pebisnis yang ingin berinvestasi di Indonesia. Satu program durasinya tiga bulan. “Pengajarnya mahasiswa Indonesia yang kuliah di Busan.”
Selanjutnya, Kim mengajak ke lantai paling bawah, menuju Kafe Luwak. Kafe itu didesain Indonesia banget. Kopi-kopi yang disajikan didatangkan langsung dari Indonesia. Begitu pula menu-menu seperti nasi goreng dan mi goreng yang bisa menuntaskan rasa kangen bagi warga Indonesia di Busan. Melangkah ke dalam, Jawa Pos disambut alunan tembang Bengawan Solo dan Sapu Tangan.
“Saya suka lagu-lagu lama Indonesia mirip dengan lagu-lagu lama Korea,” ucap Kim lalu tersenyum. Bukan hanya itu, barang-barang kerajinan dari Bali, Jawa, dan daerah-daerah lain di Indonesia dipajang di berbagai sudut.
Dia lantas memesan sepiring nasi goreng dan menikmatinya dengan lahap. “Ada beberapa gerai maknaan asing yang ingin masuk ke BIC. Tetapi, saya tidak menyetujui karena ingin menjaga identitas Indonesia di gedung ini. Jadi, yang boleh masuk hanya brand Indonesia,” tuturnya.
Keberadaan kafe di lantai 1 BIC, kata Kim, tidka semata-mata berorientasi bisnis, melainkan lebih kepada promosi kuliner Indonesia.
Di bagian depan kafe terdapat patung Suro dan Boyo yang diresmikan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini beberapa waktu lalu. Surabaya memang memiliki kaitan erat dengan Busan. Sejak 1994 keduanya menjadi sister city. Istimewanya lagi, jalanan tepat di samping gedung BIC berdiri diberi nama Surabaya-Gil atau Jalan Surabaya. Itu juga atas rekomendasi Prof Kim kepada Pemerintah Kota Busan.
Kim berharap gedung BIC dan Surabaya-Gil bisa dimanfaatkan dengan lebih optimal. Misalnya dipajang lebih banyak tetenger Kota Surabaya. “Nanti lebih bagus lagi jika tidak hanya Surabaya, tetapi patung-patung dari tiap provinsi Indonesia. Efek promosinya akan sangat besar,” ucap suami Jun Song-hak itu.
Kim menuturkan, dirinya membuka kesempatan seluas-luasnya bagi pemerintah Indonesia dan pemerintah kota di Indonesia untuk membuka kantor perwakilan di gedung BIC.
Keberadaan BIC di Busan, diakui Direktur Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Busan Indra Wijayanto, sangat berperan dalam hubungan baik Indonesia dan Korsel di berbagai bidang, termasuk perdagangan, tenaga kerja, dan promosi pariwisata,” ungkapnya.
Gedung yang diresmikan pada 13 April 2012 itu merupakan impian Kim sejak puluhan tahun silam. “Sepanjang umur saya sejak kali pertama terlibat dengan Indonesia, saya ingin membangun gedung yang bisa menjadi jembatan antara Indonesia dan Korea Selatan,” tutur Kim.
Gedung BIC diresmikan Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sapta Nirwandar. Dalam acara itu, para anggota parlemen Korea Selatan dan ketua Dewan Kota Busan juga hadir. Gedung multifungsi tersebut dibangun dengan dana sekitar USD 6 juta hasil tabungan gaji Prof Kim selama puluhan tahun. Sejak 1984 Kim menjadi dosen hubungan internasional di Busan University of Foreign Studies (BUFS). Kim jufa pernah memegang banyak jabatan, antara lain, ketua Asosiasi Hubungan Internasional Seluruh Korea dan Asosiasi Dekan Seluruh Universitas di Korea. “Dulu saya memang sangat aktif, sekarang mulai mengurangi. Yang masih sampai sekarang mengajar di BUFS,” tutur ayah dua anak tersebut.
Kini Kim merasa lega sudah berhasil membangun gedung yang menjadi wujud cintanya kepada Indonesia. “Sekarang saya bisa tenang, impian selama 30tahun sudah tercapai. Ke depan saya ingin concern mengurus BIC dan berharap pemanfaatannya bisa lebih optimal,” ucapnya.
Yang membuatnya makin lega, sang putri, Cherry, memiliki kecintaan yang juga besar terhadap Indonesia dan turut membantu mengelola BIC. Sedangkan putra sulungnya Yoo-bin seorang ekonom yang bekerja di kantor pemerintah Korea Selatan.
Hingga saat ini profesor yang menyenangi kopi tubruk dan rendang Padang itu masih sering berkunjung ke Indonesia. Dalam setahun 4-5 kali dia “mudik” ke Indonesia. Baik untuk lawatan wisata, sosial, budaya, maupun ekonomi. Pada 22-26 Oktober Kim rencananya membawa rombongan dokter dari Korea Selatan ke Tana Toraja, Sulawesi Selatan.
Sejak kali pertama datang ke Indonesia pada awal 1970-an, Kim sudah mengunjungi berbagai daerah di Indonesia, bukan hanya kota-kota besar di Jawa, tetapi juga wilayah Sumatera dan Kalimantan. Kim juga pernah memiliki pengalaman berkesan saat bekerja di perusahaan konservasi hutan di Tarakan, Kalimantan Timur, periode 1977-1978.
Dia bertemu suku pedalaman yang tidak bisa berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. “Mereka bawa ayam, menunjuk bungkusan mi yang kami bawa dari Korea. Rupanya, maksudnya ingin menukar ayam dengan mi, tetapi kami tidak mengerti karena mereka tidak bisa berbahasa Indonesia,” cerita Kim.
Setelah peristiwa itu, Kim yang notabene orang Korea tergerak untuk mengajarkan bahasa Indonesia kepada mereka. “Sekitar enam bulan saya mengajari mereka. Sulit sekali, tetapi itu pengalaman yang sangat berkesan. Jadi, saya mengajarkan bahasa Indonesia kepada masyarakat Indonesia,” ujarnya, lantas tertawa mengingat penglaman itu. (*/c10/ari)
Sumber : Jawa Pos, 4 Oktober 2014. Hal. 1,15

