Oleh: Dewa Gde Satrya (Dosen Hotel & Tourism Business, Fakultas Pariwisata, Universitas Ciputra)
Anies Baswedan-Sandiaga Uno dilantik sebagai gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022 pada Senin (16/10). Jakarta tidak hanya ibu kota negara, tetapi juga etalase peradaban Indonesia.
Jakarta yang semakin beradab, toleran dan memanusiakan setiap orang yang ada di dalamnya, menjadi harapan bangsa. Karena itu, kepemimpinan Jakarta yang baru menjadi pilar penting bagi ‘wajah’ Jakarta yang humanis.
Salah satu lembaga penting bagi tumbuhnya nilai-nilai humanisme dan Jakarta yang beradab adalah museum dan ruang-ruang kebudayaan. Anies Baswedan pernah melontarkan gagasan untuk meningkatkan edu-tourism di Jakarta dengan mendorong kunjungan ke museum. Bahkan dia akan mendorong bus gratis untuk warga Jakarta berkunjung ke museum.
Tema besar pembangunan budaya yang disusung pasangan Anies dan Sandiaga adalah Pembangunan Manusia yang dikategorikan sebagai Pilar I dalam program mereka. Di dalamnya, ada aktivitas meningkatkan kualitas pusat budaya di setiap kota, dan membuat festival kebudayaan secara reguler.
Program menarik dari pasangan Anies dan Sandiaga mengingatkan kita akan potensi museum di Jakarta. Karena itu, ada harapan yang besar akan tumbuhnya performa museum di DKI Jakarta, dan meniscayakan peningkatan minat kunjungan ke museum.
Dimyati (2010) mengulas 47 museum pilihan dari 147 museum yang ada di Jakarta. Kekayaan Jakarta akan museum bahkan sangat lengkap, mencakup sepuluh tema museum yang semuanya ada di ibu kota negara ini yakni msueum seni, ekonomi, etnografi, flora, dan fauna, iptek, militer, olahraga, politik, religi, dan sejarah. Masing-masing menampilkan kekhasan, atraksi wisata dan daya tarik yang menggugah harapan terbangunnya citra baru museum yang dicontohkan dari Jakarta.
Keberadaan museum-museum di Jakarta tidak lepas dari peran Ibu Tien Soeharto. Kala itu, Ibu Tien gencar mendorong berdirinya museum, 15 di antaranya berada di area ‘Taman Mini Indonesia Indah’ seperti Museum Asmat, Museum Indonesia, Museum Keprajuritan Indonesia, Museum Komodo dan Taman Reptilia, Museun Listrik dan Energi Baru, Museum Minyak dan Gas Bumi, Museum Olahraga, Museum Perangko Indonesia, dan Museum Pusaka.
Ada pula Museum Serangga dan Taman Kupu, Museum Telekomunikasi, Museum Transportasi, Museum Penerangan, Museum Istiglal, dan Museum Timor Timur.
Di Museum Fauna Indonesia “Komodo” misalnya, pengunjung yang punya penyakit kulit seperti kudis, jerawat, luka bakar, dan bisul. Museum ini menyediakan layanan jasa pengobatan alternatif dengan empedu kobra 2 minggu sekali.
Pengelola museum juga menyediakan layanan wahana interaktif di mana pengunjung dapat memegang ular sanca batik dengan bantuan pawang. Ada juga atraksi tahunan bergelut dengan ular berbisa, di mana para pemain mempertontonkan aksi bertarung dengan ular, mencium mulut King Kobra, mandi bersama ular, memasukkan ular ke dalam lubang hidung dan pementasan spektakuler lainnya (hal. 113). Koleksi Museum Fauna Indonesia menampilkan fauna-fauna khas yang hidup di kepulauan Nusantara, dikelompokkan menurut teritori penyebarannya dari barat ke timur dan diklasifikasikan sesuai dengan habitatnya.
Dari penjelasan penulis tergambar nuansa pengetahuan selera tinggi yang dihadirkan museum ini, yang membuat cakrawala pengetahuan pengunjung akan terbuka lebar emngingat jasa Alfred Russel Wallace, naturalis yang menetapkan garis persebaran fauna di Indonesia (Garis Wallacea) berdasarkan penelitiannya selama 8 tahun (1854-1861) di Indonesia.
Minimnya atraksi dan aktivitas fun yang dapat dilakukan di museum sebagaimana menjadi kendala internal kebanyakan museum di Indonesia, tampaknya tidak terlihat di Museum Taman Fatahillah.
Di sana, pengunjung dapat menyaksikan pagelaran seni kuda lumping, wayang golek, wayang kulit, musik, bazar, kontes burung, menyalurkan hobi komunitas sepeda BMX, skateboard, pecinta motor, foto-foto, berbahasa Inggris dengan turis asing, bersepeda kuno menyusuri Kota Tua, pelatihan membuat gerabah, dan banyak lagi hal-hal menyenangkan dan positif yang bisa dilakukan wisatawan.
Paralel dengan yang direnungkan Hermawan Kartajaya (dalam Ubud the Spirit of Bali, 2010), bahwa berwisata ke museum dapat mempertajam Intellegence Quotient (IQ) karena di sana kondusif untuk menggali dan menemukan ide-ide baru yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Ide yang berasal dari pembelajaran soal kejayaan, kegemilangan, masa keemasan, bahkan kepedihan, keruntuhan, dan keterpurukan sebuah bangsa.
Museum juga melatih Emosional Quotient (EQ) kita sebagai pewaris bangsa yang kini hidup di jaman modern, dengan tidak merasa lebih rendah dalam pergaulan bersama komunitas global. Betapa bangsa kita kaya akan sejarah, flora dan fauna, seni, dan religiusitas yang seharusnya memampukan kita berketetapan hati untuk percaya diri dan optimistis membangun masa depan.
Dan tentu saja, museum adalah tempat yang ideal untuk membangun Inner Spiritual Quotient (SQ). Bukan dalam arti spiritualitas keberagamaan, melainkan kesadaran jati diri kita sebagai manusia, sebagai salah satu rantai generasi sebuah bangsa.
Apabila IQ adalah mindware, EQ adalah heartware, SQ adalah soulware. Ketiganya membentuk apa yang dinamakan humanware. Museum menyimpan potensi itu. Pasangan Anies-Sandi diharapkan memiliki program yang serius, dan tentu saja harus kreatif, untuk ‘mengamankan’ koleksi museum di Jakarta, meingkatkan mutu layanan, dan mendorong kunjungan warga ke sana.
Kiranya museum-museum di Jakarta dapat menajdikan ibu kota negara menjadi semakin beradab dan berkebudayaan, melalui para warganya yang menganggap penting arti museum. Selamat bekerja Anies-Sandi.
Sumber: Bisnis-Indonesia, 31 Oktober 2017 Hal. 2.

