
Oleh F Rahardi (Pengamat Agribisnis)
Coba Anda klik smoke eel prices di Google, maka akan keluar angka £10,95 setara (Rp. 196.813,90) per 100 gram. Artinya sekilo Rp. 1.968.139. Padahal di Boja, Kendal, Jawa Tengah; harga smoked eel ini Cuma Rp. 17.000 seporsi. Itu pun sudah tambah sayur tahu, wader + udang galah goreng, dan teh manis.
Bedanya, di Boja smoked eel disebut mangut welut. Mangut merupakan masakan khas Jawa, sedangkan welut sama dengan belut. Di Jawa Tengah dan DIY, masakan mangut cukup populer, terutama berbahan dasar ikan lele.
Meskipun disebut mangut welut, sebenarnya yang dimasak menjadi mangut di Kendal bukan belut sawah, yang punya nama lain rice eel, atawa Monopterus albus, tapi sidat air tawar, genus Anguilla.
Di seluruh dunia ada 18 spesies genus Anguilla, dengan enam subspesies. Di antaranya sidat Eropa, European eel, Anguilla anguilla, yang di dunia maya dijual £10,95 poundsterling per 100 gram itu. Selain sidat Eropa, di Jepang terdapat sidat Jepang, Japanese eel atau Anguilla japonica.
Mangut welut di Boja itu sidat Indonesia, Indonesian shortfin eel, Anguilla bicolor bicolor. Meski disebut sidat Indonesia, sebaran sidat jenis ini ada di India, Srilanka, Bangladesh, Asia Tenggara, sampai ke Kepulauan di Pasifik Barat.
Selain sidat Indonesia, kita juga punya sidat Kalimantan, Borneo eel, Anguilla borneensis; dan sidat bintik raksasa, giant mottled eel, Anguilla marmorata. Sidat Kalimantan memang endemik pulau Kalimantan, baik yang masuk wilayah Indonesia, Malaysia, maupun Brunei Darussalam. Sedangkan sidat Sulawesi, berhabitat di Sulawesi, Filipina, Maluku, Papua Indonesia, Papua Nugini sampai ke kepulauan Samoa di Samudera Pasifik.
Adapun sidat bintik raksasa endemik bagian timur Indonesia, yang berbatasan langsung dengan Samudera Pasifik. Sidat bintik raksasa berukuran paling besar bisa sampai 2 meter.
Sidat Sulawesi, bisa sepanjang 1,5 meter. Sidat Indonesia hanya sampai 1,2 meter; dan sidat Kalimantan 80 sentimeter. Meskipun paling kecil, sidat Kalimantan paling besar dibandingkan belut sawah.
Sidat air tawar hidup di sungai-sungai besar, tapi saat berpijah (kawin) dan bertelur mereka akan ke muara sungai dan tepi laut yang berair payau. Dalam ilmu zoologi, pola perkembangbiakan disebut beruaya.
Prospek budidaya
Sidat yang populer sebagai “mangut welut” di Kendal, dijual di pasar-pasar sudah dalam bentuk diasap. Cara mengasapnya bukan seperti mengasap bandeng dan cakalang yang menggunakan tungku pengasapan, tapi sekedar di panggang dekat kayu api di tungku biasa. Hasilnya bagian luar welut asap gosong, tetapi bagian dalamnya masih lembek.
Di tempat-tempat lain di Jawa, belakangan ini menjadikan sidat sebagai objek pemancingan eksklusif. Sasarannya, sidat-sidat berukuran raksasa sebesar lengan. Di danau Poso, Sulawesi Tengah; sidat ditangkap dan dikonsumsi. Di tempat lain di Jawa, sidat ditakuti, bahkan dikeramatkan.
Pada dekade 1980-an, ada tawaran untuk memelihara sidat Jepang. Benih dan pakan langsung didatangkan dari Jepang. Penyedia benih dan pakan menjanjikan untuk membeli sidat dewasa setelah dipanen.
Tapi, proyek ini gagal, sebab sidat Jepang yang sudah terbiasa hidup di kawasan beriklim empat musim, sulit menyesuaikan diri di iklim tropis. Sejak itulah ada perhatian untuk membudidayakan sidat Indonesia dan sidat bintik raksasa.
Yang budidaya sebenarnya hanyalah upaya pembesaran burayak sidat hasil tangkapan dari alam bukan dibiakkan secara buatan seperti ikan mas dan lele. Benih bandeng yang sudah lazim dibudidayakan, hasil tangkapan dari alam.
Benih sidat hasil tangkapan dari alam itu dipelihara di kolam-kolam pendederan, kemudian dipindahkan ke kolam pembesaran. Sama dengan lele dan gabus, sidat merupakan ikan karnifora, tetapi di kolam sudah mau memakan pelet.
Untuk mencapai bobot 1 kg-1,5 kg per ekor dan diameter 7 centimeter, butuh waktu pemeliharaan 1,5 tahun-2 tahun.
Di Indonesia, harga sidat hidup berkisar antara Rp. 150.000 sampai Rp. 250.000 per kilogram. Jauh lebih mahal dibandingkan ikan gabus hidup yang harganya Rp. 80.000 per kilogram.
Sebagian besar dari sidat budidaya diekspor ke Jepang. Meskipun berharga mahal, pasar sidat hidup masih bersifat khusus. Sidat hasil peliharaan maupun tangkapan, masih sulit untuk dijual di pasaran.
Harga burayak sidat untuk dibesarkan, saat ini berkisar antara Rp. 500.000 (isi 500 ekor per kilogram); sampai Rp. 2 juta (isi 2000 ekor per kilogram).
Apabila induk sidat terus-menerus ditangkap dengan cara dipancing, terlebih disetrum; burayak sidat untuk dibudidayakan di kolam juga akan semakin langka. Inilah yang terjadi dengan sidat Eropa dan sidat jepang. Indonesia dengan garis pantai terpanjang nomor dua di dunia setelah Kanada; potensial menjadi pemasok utama daging sidat ke pasar dunia.
Tapi dengan catatan, jangan hanya menjual sidat konsumsi (hidup); terlebih burayak. Nilai tambah terbesar apabila sidat hasil budidaya itu dipasarkan dalam bentuk asap atau smoked eel, dengan nilai jual di tingkat produsen sekitar Rp. 1 juta per kilogram.
Sumber: Kontan.19-25-Februari-2018.Hal_.21
