Ekspresi menjadi masalah kesehatan mental yang patut diwaspadai. Gangguan suasana hati yang mengatasi perasaan sedih yang dalam dan rasa tidak peduli ini, jika tidak peduli dapat berisiko produktivitas kerja, gangguan hubungan sosial, gangguan hubungan sosial, gangguan hubungan sosial, gangguan hubungan sosial, gangguan hubungan sosial .
Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada 2018 menunjukkan bahwa gangguan depresi mulai terjadi sejak rentang usia 15-24 tahun, dengan prevalensi 6,2%. Pola prevalensi depresi kian meningkat seiring dengan pertambahan usia.
Selama ini depresi memang toilet remaja hingga orang dewasa. Padahal anak-anak juga bisa mengalaminya.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kependudukan Provinsi Jatim Andriyanto mengungkapkan Berdasarkan Riskesdas sekitar 1,6% anak mengalami depresi, selama pandemi.
Menurut Psikolog & Mental Health Advocate Anastasia Satrió, ada sejumlah faktor pemicu depresi pada anak, misalnya karena faktor genetika memiliki berlebih ketika tidak bisa menyelesaikan sesuatu, serta merasa sedih yang mendalam dan berlarut.
Pada kondisi ini, orang tua harus mendampingi dan meyakinkan bahwa anak dapat melewatinya dan tidak perlu anak untuk bisa menuntaskan pekerjaannya. “Jika anak sudah ada kecenderungan tinggi, jangan anggap sepele.” Penyebab depresi pada anak umumnya faktor ketidakharmonisan orang tua dan perceraian. Rumah sebagai tempat tumbuh kembang anak sehingga jika dilingkupi pertengkaran, akan berdampak buruk bagi psikologis anak. Pengalaman masa kecil kita itu sampai memengaruhi pernikahan, relasi, atau pertemanan. ”
Jika terjadi perceraian, sebisa mungkin orang tua mempertontonkan perilaku yang baik pada anak dan menjadi pengayom yang baik untuk mereka.
Guna mencegah depresi pada anak, orang tua harus memberikan rasa cinta, aman, dan nyaman. jika anak tak bisa mengerjakan sesuatu, dan buat anak berharga dengan membiarkannya berekspresi dan mencurahkan emosinya. ”
Pada usia 5-7 tahun, bangun rasa aman dan nyaman, sebagai dasar anak mempunyai sistem kekebalan dalam menghadapi tantangan hidup dan mencegah depresi.” laksanakan orang tua Manajer diri dan emosinya terlebih dahulu karena mereka adalah figur utama bagi anak. Di sisi lain, penderitaan gejala depresi pada anak memang agak sulit.
Setidaknya, butuh dua hingga tiga kali konsultasi. Untuk mendiagnosis depresi, terdapat gejala yang muncul bersamaan. Contohnya, sulit bangun tidur, mudah lelah saat berkegiatan, penurunan kemampuan, perubahan emosi, hingga tak berharga.
Kementerian Kesehatan sendiri mencatat ada 6 gejala depresi pada anak a.l menyendiri, menjauhi teman-pertanyaan, rewel atau mudah marah. sering menangis, sulit konsentrasi, dan perubahan nafsu makan atau tidur, berlebihan atau berkurang.
MENJADI TEMAN
Parenting Influencer Rhyma Permatasari mengatakan untuk membangun kesehatan mental anak, orang tua harus bisa menjadi tempat mengadu. Biarkan anak meluapkan emosinya baik saat marah, sedih, atau kesal.
“Jangan mengabaikan emosi anak dan terima saja. Biasanya aku hanya mengaturnya tanpa bersuara. Aku benar-benar nungguin saat emosinya mereda,” tuturnya.
Usai emosinya mereda, orang tua baru bisa bertanya apa yang sebenarnya terjadi pada anak, dan apa yang harus dilakukan. Beri masukan dan penawaran solusi seperti anak tertabrak meja, jangan salahkan mejanya, tetapi imbau agar anak lebih berhati-hati dan tidak mencari sasaran atas kesalahan yang diperbuat.
Sumber: Bisnis Indonesia, 23 Januari 2021. Hal.7

