JAKARTA, KOMPAS – Penerapan protokol kesehatan merupakan langkah paling tepat dalam proses pemulihan sektor pariwisata dari pandemi Covid-19. Hal ini sejalan dengan fokus pemerintah mengembalikan tingkat kunjungan wisatawan domestik.

Kunjungan wisatawan domestik menjadi harapan saat kunjungan wisatawan manca negara (wisman) anjlok selama pandemi. Menurut data Badan Pusat Statistik pada 2020, ada 4,052 juta kunjungan wisman ke Indonesia. Jumlah ini anjlok dari 2019 yang sebanyak 16,106 juta kunjungan.

Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani menilai, protokol kesehatan di seluruh destinasi wisata perlu diterapkan untuk menopang animo wisatawan domestik yang mulai menggeliat tahun ini.

“Mobilitas wisman diperkirakan baru normal 1-2 tahun mendatang. Sejalan dengan fokus pemerintah pusat untuk menggenjot wisatawan domestik, pemerintah daerah harus menjadi ujung tombak penerapan protokol kesehatan di destinasi wisata,” ujarnya saat dihubungi, Rabu (3/3/2021).

Aviliani menambahkan, destinasi wisata berorientasi wisman, seperti Bali, perlu mengutamakan penerapan protokol kesehatan yang cakap. Dengan cara itu, pemulihan ekonomi di sektor pariwisata tertolong minat wisatawan domestik yang yakin berwisata.

Dalam MNC Group Investor Forum 2021, Selasa (2/3), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, Indonesia tidak bisa serta-merta membuka jalur penerbangan internasional untuk meningkatkan wisman tahun ini. Untuk itu, pemerintah masih akan fokus mengembalikan kunjungan wisa tawan domestik.

“Dalam komunitas internasional, kita tahu ada travel bubble atau pembukaan zona lintas negara sesuai kesepakatan. Saat seseorang melakukan perjalanan, dia harus memiliki keperluan,” katanya.

Saat ini, mengembalikan jumlah turis domestik dinilai lebih penting dalam menggairahkan industri pariwisata.

“Kita harap program vaksinasi dapat menciptakan kekebalan kelompok pada akhir 2021. Pada pertengahan tahun, 70 juta orang bisa divaksin. Hal ini menjadi game changer untuk turisme,” kata Airlangga.

Peneliti Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan, upaya memulihkan sektor pariwisata domestik harus diawali dari menumbuhkan kepercayaan wisatawan, mulai dari penerapan protokol kesehatan hingga kegiatan wisatawan.

“Wisatawan juga akan melihat pelaksanaan protokol kesehatan di tempat wisata. Adakah protokol kesehatan yang terlewatkan, hal ini akan menjadi pertimbangan untuk mengembalikan kepercayaan wisatawan,” ujar Yusuf.

Inovasi UMKM

Pemprov Nusa Tenggara Barat (NTB) mempromosikan produk-produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang sarat inovasi teknologi.

Gubernur NTB Zulkiefli mansyah menyampaikan, NTB tak boleh hanya dilihat dari segi keindahan alam dan kuliner, tetapi juga dari inovasi produk produk yang dihasilkan UM KM. “Produk-produk NTB bukan hanya kopi dan selendang, tetapi juga mesin lokal,” kata nya dalam pembukaan Karya Kreatif Indonesia 2021: Eksotisme Lombok-Seri 1 yang digelar Bank Indonesia, Rabu.

Menurut dia, barang-barang berteknologi yang dihasilkan UMKM dapat menunjang penguatan produktivitas di sektor pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan.

Sementara Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Teten Masduki menyatakan, transformasi produk-produk UMKM ke ranah optimalisasi teknologi dapat meningkatkan daya saing. Karena itu, industri pariwisata mesti menghadirkan produk-produk unggulan UMKM berbasis inovasi teknologi seiring penguatan akar budaya daerah setempat.

Adapun Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno berpendapat, pariwisata juga berkaitan dengan produk-produk kreatif UMKM yang mendunia.

Gubernur BI Perry Warjiyo menekankan, penyempurnaan kode standar baca cepat Indonesia (QRIS) memfasilitasi sistem pembayaran antara pelaku UMKM dan pembeli tanpa tatap muka serta cukup menyentuh layar gawai. (DIM/JUD)

 

Sumber: Kompas.4 Maret 2021.Hal.9