Bagi Puput Setyoko (29), jamur tak hanya mengubah hidupnya, tapi juga memberi jalan kesuburan bagi banyak warga. Ia lantas berupaya memanggungkan jamur sebagai salah satu magnet pariwisata di Borobudur.
“Saya ingin Jamur Borobudur jadi salah satu ikon oleh-oleh dari kawasan Candi Borobudur,” ucap Puput membuka percakapan, Kamis. (6/5/2021). Jamur Borobudur adalah jenama produk jamur yang Puput buat.
Semula jamur tak lebih dari makanan kesukaan Puput, pemuda Dusun Jowahan, Desa Wanurejo, Kecamatan Borobudur, Jawa Tengah. Selepas SMK tahun 2010, dia bekerja di sebuah tambang di Kalimantan.
“Bagi bujangan, mungkin enak kerja di tambang. Gaji besar, tak mikir kebutuhan lain. Tapi, melihat senior-senior saya, saya miris. Sampai tua mereka hidup jauh dari keluarga. Posisinya pun begitu-begitu saja,” kenangnya.
Pada tahun ketiga, Puput mmutuskan berhenti setelah tak lolos tes kesehatan. Ia memang memiliki cacat bawaan, yakni punya buta warna parsial.
Puput pun pulang kampung ke Borobudur pada 2013 dengan pikiran galau. Ia melamar kerja ke sejumlah perusahaan, tapi selalu gagal akibat kekurangan fisiknya. Masa depan suram membayanginya.
Saat galau, Puput tiba-tiba teringat jamur, makanan kesukaannya. Ia berpikir, mengapa dirinya tak membudidayakan jamur saja. Ia pun mulai mencari pengetahuan tentang budidaya jamur.
“Saya berguru ke mana-mana, ke beberapa pembudidaya di Magelang, Temanggung, hingga Wates (Kulon Progo),” ujarnya.
Singkat cerita, Puput akhirnya bisa memulai budidaya jamur. Modalnya Rp 2 juta antara lain ia pakai untuk membeli baglog (media tanam). “Panen pertama, saya bawa 750 gram jamur tiram ke pasar Borobudur. Saya jadikan tiga bungkus. Setiap bungkus laku Rp 2.000. Saya pulang bawa Rp 6.000,” ujar nya sembari tertawa kecil.
la senang sekaligus gemang. Senang karena mengerti bahwa pasar jamur di daerah Magelang masih terbuka luas, tapi ia gamang karena hasil usaha menanam jamur tak sebanding dengan gaji yang di terimanya saat bekerja di tambang.
“Saya ambil positifnya. Lagi pula, tak ada pilihan kembali. Saya harus berhasil di usaha jamur,” lanjut Puput.
Pada 2015, ia bisa membuat baglog sendiri. Bahkan, ia mulai didatangi tetangga kampung dan luar kampung yang ingin belajar budidaya jamur. Puput dengan senang hati mengajari mereka. Bahkan, menjadikan mereka sebagai mitra. Ia menjamin akan membeli hasil panen jamur dari mitra. Meski begitu, mereka juga boleh menjual jamur ke tempat lain untuk mendapatkan harga lebih tinggi.
Di sini tantangan mulai meng hadang. Ternyata memproduksi baglog untuk mitra-mitranya tak semudah membudidayakan jamur. Risiko gagalnya tinggi. Puput pernah merasakan rugi lebih dari Rp 10 juta lantaran ribuan baglog yang dijual kepada mitranya gagal berproduksi. Kepercayaan mitra kepadanya pun berkurang.
Puput tidak menyerah. Ia terus belajar dari kesalahan dan akhirnya berhasil. Permintaan baglog terus meningkat. Dalam sehari ia bisa memproduksi 600 baglog yang masing-masing menghasilkan 3-3,5 ons jamur.
Tempat wisata
Persentuhan Puput dengan sektor wisata dimulai akhir 2016 saat dia memperluas usaha budidaya jamur dengan mengolahnya menjadi aneka camilan. Namun, usaha ini baru berhasil setelah Puput menikah dengan Isna Yuliani pada 2017.
Setelah setahun berusaha, mereka akhirnya menemukan resep yang tepat untuk membuat keripik jamur, kemudian bakso jamur, hingga rendang jamur. Mereka memberi merek produknya Jamur Borobudur.
Perlahan, Jamur Borobudur dikenal masyarakat. Rumah sekaligus tempat produksi milik Puput di Dusun Jowahan ramai dikunjungi orang. Untuk menarik wisatawan lebih banyak, ia memanfaatkan jaringan ayahnya yang bekerja sebagai kusir andong wisata di kawasan candi.
Tamu-tamu yang dibawa ayahnya dan kusir andong lainnya di ajak Puput untuk melihat-lihat proses budidaya jamur. Ternyata, mereka sangat senang. “Mereka saya ajak melihat pembuatan media tanam terlebih dulu, hingga penyimpanan jamur, lalu berakhir dengan melihat proses pembuatan camilan berbahan jamur dan mencicipinya,” ujar Puput.
Dari hanya bertani, Puput mulai belajar soal pariwisata. Ia lalu bergabung dengan komunitas wisata di kawasan Borobudur untuk menimba pengalaman dan memperkuat jaringan. Ia juga memperkuat promosi Jamur Borobudur lewat media sosial. Kini, pasar keripik jamur buatannya sudah merambah Aceh, Kalimantan, hingga Sulawesi.
Meski hampir 60 persen om zetnya berasal dari penjualan oleh-oleh, Puput selalu bersemangat setiap kali diminta berbagi pengetahuan terkait budidaya jamur. Apalagi, dua tahun terakhir, ia telah berhasil membuat benih jamur.
Ia membuka pintunya lebar-lebar kepada siapa saja yang ingin belajar budidaya jamur. “Banyak TKI, karyawan yang dirumahkan, dan korban PHK yang belajar budidaya jamur di sini,” ujarnya.
Ia menambahkan, pernah juga ada orang dari Aceh datang dan menginap di rumahnya untuk belajar budidaya jamur. “Saya juga membimbingnya sampai bisa,” kata Puput yang kini mempekerjakan 10 karyawan.
Puput bersedia berbagi pengetahuan dan pengalaman karena ia terinspirasi kebaikan para senior yang telah mengajari dan menyemangatinya saat ia mulai merintis usaha budidaya jamur. Ia tahu jamur bisa menjadi sandaran hidup banyak orang.
Sumber: Kompas.17 Mei 2021.Hal.16

