Siapa bilang pustakawan itu mudah? Pustakawan kekinian tidak cukup hanya mengenal perbukuan dan bekerja di belakang meja, tetapi juga dituntut melek perkembangan atas zaman saat ini.
Bertepatan dengan hari Pustakawan Nasional, Kamis (7/7/2022) pustakawan Universitas Ciputra Surabaya mengadakan rapat kerja (raker) tahunan yang mengupas kinerja pustakawan yang telah dikerjakan. Selain itu semua memberikan ide dan gagasan dalam kegiatan mendatang.
Pada kesempatan raker tahunan itu. Laij Victor Effendi selaku Vice Rector for Operational Affairs Universitas Ciputra memberikan wawasan kepada pustakawan yang terangkum dalam credo IPE, yaitu Integritas, Profesionalisme, dan entrepreneurship.
Victor, panggilan akrab Laij Victor Effendi mempertajam pentingnya pustakawan memegang erat integritas agar tetap senantiasa menjaga kehormatan dan nama baik instansi perpustakaan. Baginya sebuah integritas wajib dimiliki oleh tenaga pendidik maupun tenaga kependidikan, karena dengan menjunjung integritas seseorang mampu untuk dipercaya.
Tidak cukup berintegritas saja yang patut dimiliki oleh pustakawan. Pustakawan dituntu dapat mengembang tugas dan layanan secara profesional.
“Kegagalan dalam memahami peran sebagai pustakawan akan merusak citra dan profesi pustakawan. Pentingnya memahami dan membangun profesional kerja dapat menghasilkan jiwa yang unggul dan dapat diandalkan,” kata Victor.
Pustakawan juga perlu memiliki jiwa entrepreneurship yang berinovasi karena di era informasi ini pustakawan harus memiliki ide kreatif dan inovatif baru yang dapat diunggulkan dalam layanan pemustaka (pengguna). Profesi pustakawan tidak akan berdampak jika hanya bekerja dan duduk di belakang meja. Pustakawan perlu meningkatkan diri untuk menemukan keunggulan atau skill di dalam dirinya agar dapat menjadi probai yang dapat diandalkan. Persepsi miring tentang pustakawan sebagai penjaga buku harus tergantikan dengan predikat pustakawan sebagai agen perubahan. Dengan menjadi agen perubahan haruslah lebih berguna bermutu, dan berkualitas dalam memberikan layanan kepada permustakan serta mampu bertanggung jawab dalam mengemban tugas dalam membangun institusi, bangsa, dan negara ke arah yang lebih baik. Itu sesuai dengan Undang-Undang tentang perpustakaan Bab 1, Pasal 1, ayat 8 tentang kompetensi pustakawan yang didapat haruslak berguna dan bertanggung jawab dalam melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan.
Victor juga menyebutkan salah satu inovasi yang berhasil diterapkan oleh perpustakaan Universitas Ciputra di masa pandemi adalah layanan delivery service. Permustakan dapat meminjam koleksi perpustakaan tanpa datang ke lokasi. Mereka cukup menghubungi pustakawan dan akan dikirimkan melalui aplikasi ijek online atau jasa ekspedisi dengan ketentuan dan aturan yang berlaku.
Layanan itu dapat memenuhi kebutuhan pemustakan yang tersebar di Jawa dan Bali. Wawasan yang tajam dan sangat bermanfaat itu ditutup dengan harapan dan doa bagi pustakawan Universitas Ciputra agar tetap unggul dan terpercaya.

