Kisah Pemburu Riak Ruang Waktu.Kompas.6 Oktober 2017.Hal 16 001-page-001

Saat mengungkap keberadaan gelombang gravitasi pertama kali pada 1915, Albert Einstein tak percaya gelombang itu bisa dideteksi oleh manusia. Pun sang genius ini tak percaya adanya lubang hitam yang bisa memicu gelombang tersebut. Satu abad kemudian terbukti semua keraguan itu pupus.

OLEH DAHONO FITRIANTO

Adalah tim ilmuwan yang tergabung dalam proyek risek Observatorium Gelombang Gravitasi dengan Interferometer Laser (LIGO) yang berhasil mendeteksi pertama kali gelombang gravitasi itu pada 14 September 2015. Kolaborasi riset yang melibatkan lebih dari 1.000 peneliti dari 18 negara itu menangkap riak kecil ruang-wakti alam semesta yang dipicu oleh tumbukan dua lubang hitam 1,3 miliar tahun silam.

Sejak temuan pertama itu hingga hari ini, LIGO yang bekerja sama dengan observatorium serupa di Eropa bernama Virgo telah mendeteksi tiga gelombang gravitasi lain.

“Andai Einstein masih hidup, dia pasti akan sangat gembira, tetapi juga akan tervengang keheranan karena dia tidak percaya akan lubang hitam (yang bisa meyebabkan gelombang gravitasi ini).” Lata Rainer Weiss (85), satu dari tiga ilmuwan AS perintis LIGO yang diumumkan sebagai peraih Hadiah Nobel Fisika 2017, Selasa (3/10).

Weiss akan membawa pulang separuh dari total hadiah sebesar 9 juta krona Swedia (Rp 14.9 miliar). Sementara separuhnya lagi akan dibagi rata kepada dia astrofisikawan lain, yakni Kip S Thorne (77) dan Barry C Barish (81).

Prestasi ini diraih bukan tanpa susah payah, LIGO baru mendapatkan hasil pertamanya setelah beroperasi lebih dari 20 tahun. Upaya menuju pembuatan detektor itu telah dirintis Weiss dan Thorne sejak puluhan tahun sebelumnya.

Weiss muda pernah mengenyam kuliah di Institut Teknologi Massachusetts (MIT), tetapi keluar di tahun-tahun awal. Bingung karena menganggur, ia akhirnya mendaftar jadi teknisi elektronik di sebuah labortorium di MIT. Di sana ia belajar menyolder rangkaian dan bergaul dengan banyak  ilmuwan.

Dia memutuskan melanjutkan kuliahnya dan meraih gelar sarjana sampai doktor di MIT. Dia juga menjadi profesor di sana.

Hasratnya mendekeksi gelombang gravitasi muncul pada akhir 1960-an, saat ia masih mengajar mata kuliah Teori Relativitas Umum.

Waktu itu, dunia astrofisika tengan dihebohkan klaim seorang ilmuwan bernama Jow Weber yang mengaku berhasil mendeteksi gelombang gravitasi dengan metode antena “tiga batang”-nya.

Klaim itu tak terbukti, tetapi memicu Weiss memikirkan metode lain untuk mendeteksinya.

Weiss memilih mengidentifikasi dan mengumpulkan berbagai kendala yang mungkin dihadapi saat seseorang ingin mengukur gelombang gravitasi. Sampai akhirnya ia memilihmetode interferometer laser sebagai salah satu peluang untuk mendeteksi gelombang ini.

Thorne dan Barish

Secara terpisah, Kip S Thorne, seorang fisikawan teori di Institut Teknologi California (Caltech), juga tengah merintis detektor serupa bersama seorang ilmuwan Skotlandia, Ronald Drever.

Saat diwawancarai Akademi Ilmu Pengetahun Swedia, Thorne mengatakan, hasratnya waktu itu tidak sekadar didorong keyakinannya akan eksistensi gelombang gravitasi. “Saat saya mulai mendalami ini, teknologi sudah berubah (dibandingkan era Einstein). Sudah ada laser dan superkomputer. Pemahaman kita akan sumber-sumber gelombang gravitasi mungkin juga sudah berubah,” tuturnya.

Namun, dengan teknologi dekade 1970-an waktu itu, alat yang mereka cita-citakan tak kunjung bisa diwujudkan.

Pada 1984, Thorne bertemu Weiss dan sepakat membangun LIGO di Caltech dengan dukungan pendanaan dari Yayasan Sains Nasional AS (NSF). Namun, hingga 1994, detektor yang mereka bangun saat itu sama sekali tak memberi hasil. Pada 1994, Barish bergabung dalam LIGO sebagai salah satu peneliti utama. Tiga tahun berikutnya, ia ditunjuk dana tambahan dari NSF untuk membangun dia interferometer raksasa di Hanford, Negara Bagianm Washington, dan di Livingston, Louisiana. Dia juga yang mengubah LIGO dari penelitihan yang hanya melibatkan 40 orang menjadi proyek kolaborasi internasional dengan lebih dari 1.000 peneliti.

Baik Weiss, Thorne, maupun Barish sama-sama menyatakan bahwa penghargaan ini seharusnya diberikan kepada semua pihak yang terlibat dalam proses pengembangan LIGO. “Kita kini hidup di zaman ketika temuan ilmiah merupakan hasil kolaborasi raksasa dengan kontribusi utama berasal dari sangat banyak orang,” ujar Thorne.

Rainer Weiss

  • Lahir: Berlin, Jerman, 29 September 1932
  • Pendidikan: Insitut Teknologi Massachusetts (MIT), dari jenjang sarjana, master, hingga doktor
  • Posisi: Profesor emeritus fisika di MIT, peneliti di kolaborasi LIGO/Virgo

Kip S Thorne

  • Lahir: Logan, Utah, AS, 1 Juni 1940
  • Pendidikan: Institut Teknologi California (Caltech) untuk jenjang sarjana, Universitas Princeton untuk jenjang master dan doktor
  • Posisi: Profesor emeritus fisika teori di Caltech

Barry C Barish

  • Lahir: Omaha, Nebraska, 27 Januari 1936
  • Pendidikan: Universitas California Berkeley, jenjang sarjana hingga PhD
  • Posisi: Profesor emeritus fisika di Caltech

 

Kompas, Jumat, 6 Oktober 2017