Sedapnya pecal ikan khas Betawi olahan Babeh Sadeli, Tangerang Selatan. Halaman depan Rumah Makan Khas Betawi Babeh Sadeli hari itu memang tampak sepi. Tidak ada kendaraan yang parkir. Hanya spanduk – spanduk besar bergambar menu masakan yang menghiasi dinding – dinding di sekitar rumah makan itu. Pun ketika masuk ke rumah makan yang berada di dalah satu deret rumah toko (ruko), hanya tampak satu saung yang terisi oleh pembeli.
Tapi ternyata, di halaman belakang ruko itu ada parkiran yang ramai terisi kendaraan. Saung – saung di belakang ruko juga ramai pembeli. Ya ternyata pelanggan Babeh Sadeli lebih suka makan di saung –saung yang terletak di belakang ruko. Wajar memang. Suasana di beranda belakang lebih sejuk karena menghadap alam terbuka. Saung bumbujuga lebih nyaman untuk bercengkrama sambil menikmati menu masakan rumah makan yang berlokasi di Jalan Jombang Raya, Pondok Aren, Tangerang Selatan itu.
Rumah makan ini masih ramai kendati jam makan siang sudah lewat. “Ya, sore pun ramai, biasanya keluarga – keluarga atau rombongan arisan yang datang sore hari,: ujar Aris Purnomo, salah seorang pegawai RM khas Betawi Babeh Sadeli.
Selain tempatnya yang nyaman, menu makanan khas betawi yang disajikan di rumah makan inilaj yang membuat orang datang, bshksn banyak yang rela jauh-jauh datang. “Pembeli kami bukan cuma dari sekitar Tangerang Banten. Ada yang dari Sukabumi atau Bekasi Jawa Barat,” ujar Aris.
Di antara banyaknya pelanggan, terdapat para pesohor seperti Ibnu Jamil, Azis Gagap, dan Guruh Soekarno Putra yang tergiur menjajal menu ramuan Babeh Sadeli. Presenter berita Aiman Witjaksosno pun menjadi pelanggan setianya. Mereka rata – rata terikat dengan pecak ikan yang menjadi andalan rumah makan ini.
Ya, Babeh Sadeli melabeli rumah makannya dengan sebutan “Rajanya Pecak Ikan.”Beragam ikan diolah dengan bumbu pecak di rumah makan ini. Mulai dari ikan gurami, gabus, nila, mujair, mas, bandeng. Tapi favorit pelanggan pecak ikan nila dan ikan gurami.
Tak heran, dalam sehari 35 kilogram (kg) ikan nila laris manis dipesan pembeli. Sedangkan ikan gurami bisa terjual sampai 30 kg. Itu di hari biasa. Di akhir pekan, Babeh Sadeli harus memasak lebih banyak pecak ikan.
Untuk memenuhi stok ikan per harinya, kami sudah memiliki pemasok. Mereka sudah tahu kriteria ikan yang kami butuhkan,” kata Aris
Misalnya bobot ikan gurami harus setengah kilogram. Untuk ikan lain selain ikan gabus rata – rata berbobot 3 ons-5 ons. Aris bilang, yang rada susah adalah mencari ikan gabus. Sebab jenis ikan ini umumnya tidak diterima. Makanya kalau ada stok ikan gabus dari pemasok, langsung diambil, berapapun jumlahnya.
Khas bumbu gongseng
Langsung saja cicipi si pecak nila yuk! Ukuran ikan nilanya cukup besar. Bisa disantap untuk dua orang.
Penyajiannya menggiurkan. Nila yang digoreng kering dan berwarna kuning keemasan itu separuh tubuhnya terendam kuah bumbu pecak berwarna kuning kemerahan.
Guyuran bumbu pecak yang terdi dari cabai rawit dan bawang merah, yang diiris, plus bawang merah goreng memenuhi bagian atas ikan. Tampilan makin kontras dengan garnis seiris jeruk limau di bagian kepala ikan.
Dari tampilannya, terlihat si bumbu pecak yang terdiri dari irisan bawang merah dan cabai segar ini digongseng. Jadi terlihat ada tekstur minyaknya. Pecak ikan betawi ada juga yang disajikan dengan bumbu mentah dengan tambahan aroma jahe.
Nah, kalau pecak ikan Babeh Sadeli ini bumbunya digongseng. Sliirp..kuah bumbu pecaknya sekalipun digongseng, tetap bercita rasa asam manis pedas. Langsung bergetar di lidah. Segar.
Ketika daging ikannya disantap, terasa gurih. Tampaknyua si ikan ini sudah dibumbu garam saat digoreng. Enak meski hanya digado. Makin terasa nikmat ketika daging ikan dicolekkan ke bumbu pecak, lalu disesap. Wuih nampol banget rasanya. Bakal ingin cepat-cepat makan karena tak mau kehilangan rasanya yang gurih, manis, pedas, dan asam yang menyatu.
Selain dipecak, ikan –ikan di rumah makan ini juga ditawarkan dengan bumbu tauco. Tampilannya sama – sama menggiurkan. Ukuran ikan nila bumbu tauco dengan pecak nilai sama. Ikannya sama-sama sudah digoreng dan diguyur bumbu tauco dengan pecak nila sama. Ikannya sama – sama sudah digoreng dan diguyur bumbu. Bedanya, kalau pecak bumbunya berupa irirsan, si nila bumbu tauco bumbunya ulekan kasar. Bumbunya juga hampir sama hanya saja sesuai judulnya, ada tambahan tauco. Tampilannya juga menggiurkan.
Aroma tauconya sangat kuat. Oya, bumbu mebu ikan nila juga digongseng ya. Kalau menikmati menu ini sebaiknya bareng dengan nasi. Sebab selain sensasi rasa tauco yang kuat, plus pedas manis, ada rasa asinnya pula. Jadi biar klop harus diadu nasi.
Sebagai pelengkapnya, Anda bisa memesan cah kangkung atau sayur asam. Si cah kangkung yang ditawarkan masih kreyes-kreyes dengan sensasi pedas dari irisan rawit. Nyos!
Eits, kalau kepedesan bisa langsung minum es kelapa jeruk. Oh ya, selain ikan, di kedai ini ada ayam, jengkol, tempe, terong, timun, dan kacang panjang yang juga bumbu pecak.
Untuk menikmati seporsi pecak ikan nila dan ikan nila bumbu tauci lkocek yang Anda rogoh masing – masing Rp. 25.000. Plus nasi tambah Rp 6.000,-, ya.
Tertarik makan di sini? Jam bukanya mulai 10 pagi sampai 9 malam.
Meracik Bumbu Sendiri
Rumah Makan Khas Betawi Baebh Sadeli memang belum terlalu lama berdiri. Baru sekitar dua tahun beroperasi; persisnya sejak April 2015.
Awal usaha, Sadeli sang pemilik rumah makan hanya memakai rumah toko (ruko) seluas 60 meter persegi. Plus halaman belakang ruko dengan luasan yang hampir sama.
Daya tampunya hanya sekitar 20 saung, baik di dalam ruko maupun yang di halaman belakan. Konsep saung dan cita rasa pecak ikan inilah yang membuat konsumen balik lagi. Sehingga rumah makan ini selalu ramai pembeli. Tak hanya di akhir pekan, di hari biasa pun ramai.
Hari biasa pun ramai orang makan siang disini. Kebanyakan memang pegawai yang makan disini kalau hari kerja. Ramai – ramai datangnya, ujar Aris Purnomo, salah seorang pegawai di rumah makan.
Dalam dua tahun beroperasi, rupanya Sadeli sudah mulai memetik hasil. Sejak April 2017 lalu, area rumah makannya pun diperluas. Di belakang rumah makan yang lama, sadeli menambah area sekitas 500 meter persegi. Di area itu, dibangun dapur dan tempat penyajian menu dengan ukuran yang luas. Plus ada penambahan sekitar 20 saung. Lokasi parkirnya pun semakin bertambah luas.
Sadeli yang awalnya hanya memperkerjakan 10 orang pegawai, sekarang sudah menambah pegawai menajadi 17 orang.
“kalau soal racikan bumbu, tetap Babeh Sadeli sendiri sama istri yang meraciknya. Kami tinggal menyajikannya saja. Ujar Aris yang berasal dari Kebumen, Jawa Tengah itu.
Sumber: Kontan.21-Agustus-27-Agustus-2017.Hal-40

