Meski mewarisi perusahaan dari sang Ayah, Helen Johnson Leipold tidak lantas berpangku tangan menunggu mesin uangnya bekerja. Bersama ketiga saudara kandung, Helen turut mengembangkan perusahaan dengan inovasi inovasi baru. Dalam bebera pa tahun terakhir, salah satu perusahaan warisan yang kini dikendalikan Helen bisa menjadi pemimpin pasar. Berkat kerja kerasnya juga, wanita berusia 59 tahun ini berhasil mengoleksi harta senilai US$ 2,8 miliar.
MESKI mewarisi perusahaan raksasa berkelas internasional SC Johnson dari mendiang sang ayah, Helen Johnson Leipold tidak lantas hanya “duduk manis” menunggu dividen. Wanita yang kini berusia 59 tahun itu terkenal ulet mengem bangkan SC Johnson.
Berbagi tugas dengan tiga saudara kandungnya, Helen didapuk menjadi orang nomor satu di Johnson Outdoors dan Johnson Financial Group atau Johnson Bank. Ia menjabat sebagai direktur utama dan ketua di masing-masing perusahaan tersebut.
Dari sejumlah portofolio perusahaan warisan sang Ayah, Helen berhasil mengantongi kekayaan hingga US$ 2,8 miliar, versi Forbes. la pun menjadi orang terkaya nomor 601 di dunia.
Berdasarkan laman resmi Johnson Outdoors, perusahaan penyedia perlengkapan rekreasi ini merupakan penguasa pasar setelah 45 tahun beroperasi. Lewat tangan dingin Helen, hingga saat ini Johnson Outdoors tercatat telah mempekerjakan lebih dari 1.300 karyawan di 16 negara di dunia.
Johnson Outdoors merancang dan memproduksi banyak merek perlengkapan rekreasi alam. Perusahaan tidak berhenti. berinovasi meskipun Samuel Curtis Johnson, ayah Helen telah meninggal dunia pada tahun 2004 silam. Bayangkan saja, dalam enam tahun terakhir ini, Johnson Outdoors sudah merilis empat produk baru yang sukses mendominasi sepertiga dari pangsa pasar perlengkapan rekreasi. Sejumlah produk itu adalah marine electronics, perahu kano dan kayak, outdoor gear, serta perlengkapan menyelam.
Johnson Outdoors didapuk sebagai produsen terbaik, dan mendapatkan pengakuan dari Field & Stream, Men’s Journal, National Geographic Adventure, Popular Science dan Paddler. “Inovasi adalah penopang utama di balik pertumbuhan. Produk baru kami berkontribusi positif. Hal ini tercermin dari pertumbuhan penjualan peralatan memancing, mendayung dan kemah yang di atas rata-rata pasar produsen sejenis” ujar perempuan lulusan Cornell University ini, seperti dikutip dari situs resmi Johnson Outdoors.
Di antara produk yang dilego Johnson Outdoors, hanya penjual an produk perlengkapan menye lam yang berkontribusi negatif. Negara-negara di Eropa adalah pasar utama produk perlengkapan menyelam. Namun, pasar Eropa masih terpengaruh oleh kondisi ekonomi kawasan yang lemah, serta kerusuhan politik di Timur Tengah yang membatasi akses ke laut merah, tujuan favorit penye lam Eropa.
Perlambatan penjualan juga ditengarai akibat cuaca ekstrem berkepanjangan di beberapa negara yang menekan jumlah. permintaan pasar perlengkapan rekreasi. Akibatnya, penjualan secara keseluruhan hingga kuartal III 2014, hanya naik 6% ketimbang periode yang sama tahun 2013
“Kami berharap kondisi cuaca membaik, sehingga permintaan terhadap produk-produk Johnson Outdoors kembali menggeliat,” ucap Helen.
Secara keseluruhan, total pendapatan Johnson Outdoors tumbuh tipis 2% pada kuartal ketiga tahun 2011, jika dibandingkan dengan kuartal 2013. Berkaca pada hasil kinerja ini, Helen memutuskan memperkuat promosi produk-produk seperti marine electronics, perahu kano dan kayak, serta alat perlengkapan berkemah lainnya, sembari mengurangi ketergantungan terhadap pasar Eropa.
Helen mencoba merangkul pasar baru demi mempertahankan. momentum pasar, karena permin taan produk baru diyakini masih cukup solid. “Produk baru kami berkontribusi sepertiga dari total penjualan. Ini artinya, kami harus terus melakukan inovasi pengem bangan produk,” tutur Helen.
Sumber: Kontan, 15 Januari 2015. Hal. 24

