Rajin Promosi Prodi, Tarik Mahasiswa Asing. Jawa Pos.24 Maret 2015.Hal.6

Pelaksanaan Masyarakat Ekonomi ASEAN ( MEA) pada 2015 tidak hanya ramai dibincangkan di kalangan pebisnis. Tetapi juga mulai meluas di dunia pendidikan. Mereka tidak mau ketinggalan karena nasib alumni menjadi pertaruhan. Jika tidak berbenah,alumni perguruan tinggi tidak laku di tengah persaingan bebas pasar kerja regional.

Perguruan tinggi negeri (PTN) paling ramai membicarakan kesiapan menghadapi MEA 2015. Sebab , PTN merupakan kawah candradimuka yang menggodok sumber daya manusia (SDM) Indonesia.

Salah satu kampus pelat merah yang sudah menyiapkan diri untuk mengahadapi MEA adalah Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung. Kampus dengan peminat seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNM PTN) 2015 tertinggi tingkat nasional itu melakukan upaya internasionalisasi program studi (Prodi).

Kepala Unit Pelayanan Terpadu (UPT) Humas Unpad Sony Ahmad Nulhakim menuturkan , interbasionalisasi standar prodi memang salah satu kebijakan kampusnya untuk menyambut MEA. “MEA itu adalah salah satu pilar ASEAN Community. Perguruan tinggi ikut mengantisipasinya,” katanya kemarin (23/3).

Sony menceritakan di era MEA saat ini, perdagangan terbuka tidak hanya untuk urusan barang. Tetapi juga urusan jasa. Salah satu jasa strategis dalam MEA adalah bidang pendidikan.

Menurut Sony, persiapan Unpad dalam menyambut MEA sudah dimulai beberapa tahun terakhir. Caranya , pihaknya memetakan prodi-prodi yang sudah mendapatkan akreditasi A. Kemudian, prodi dengan akreditasi paling tinggi iti dipersiapkan untuk menjalankan akreditasi tingkat internasional.

“sekarang setidaknya ada dua prodi yang sudah berstandar internasional. Yakni prodi manajemen dan kedokteran”. Paparnya. Prodi-prodi dengan akreditasi A lainnya misalnya bidang pertanian,eksakta,dan kesehatan masyarakat juga akan distandarkan untuk akreditasi internasional.

Tantangan PTN-PTN di Indonesia untuk mengarungi era MEA terkait dengan urusan penelitian. Dia mengatakan kampus negeri harus mulai menjalani kerja sama dengan organisasi internasional untuk penelitian. Baik bekerjasama dengan industri asing maupun organisasi internasional seperti PBB atau sejenisnya.

Saat ini, papar Sony, Unpad mulai dikenal di dunia internasional. Data paling baru menyebutkan jumlah mahasiswa asing yang sekarang aktif di Unpad sekitar 1.300 orang. Jumlah itu menempatkan Unpad sebagai kampus dengan mahasiswa asing yang cukup banyak. “mahasiswa paling banyak dari Malaysia dan studi pascasarjana (S-2 dan S-3 Red),”terang dia.

Geliat perguruan tinggi dalam menyambut MEA juga tampak di Singapura.

Salah satu kampus di Singapura yang terus menyiapkan anak didiknya untuk menghadapi MEA adalah Management Development Institute of Singapore (MDIS). Sama dengan Unpad, kampus swasta tertua di Singapura itu menjadi jujukan mahasiswa asing untuk menuntut ilmu.

Secretary General MDIS Dr. R. Theyvendran di sela agenda Open House MDIS 2015 pada 7-8 Maret menuturkan, Indonesia merupakan salah satu basis mahasiwa asing yang berkuliah di MDIS . saat ini ada sekitar 200 mahasiswa asal Indonesia di kampus yang berbasis di kawasan Stirling itu, “ anak Pak Jokowi (Presiden Joko Widodo, Red) lulus kuliah di sini,” katanya. Anak Jokowi yang dimaksud Theyvendran adalah Gibran Rakabuming Raka.

Dia menjelaskan, iklim perkuliahan yang berbaur dengan mahasiswa dari berbagai kewarganegaraan akan membuka cakrawala. Dengan pengalaman belajar seperti itu, menurut dia , mahasiswa bisa lebih siap untuk menghadapi tantangan kerja pada masa mendatang.

Menurut dia, di era apa pu, perguruan tinggi harus siap mengantarkan anak didiknya menuju kesuksesan. Dia menyatakan tidak suka dengan kampu yang berorientasi mencetak uang. Theyvendran menuturkan, mahasiswa dari Singapura, Indonesia, India maupun Eropa mendapat perlakuan yang sama saat belajar di MDIS.

Sumber: Jawa-Pos.24-Maret-2015.Hal_.6