Bagi Rania Putrisari, film adalah dunia baru. Sekalinya terjun, mahasiswa Universitas Ciputra (UC) tersebut didapuk sebagai pemeran utama dalam Surat Cinta untuk Kartini. Dia memerankan. sosok Kartini yang tangguh dan pintar.

AIR mata Kartini terus mengalir tiada henti.Tiada hari yang tidak dia habiskan dengan menangis. Hatinya terasa sakit saat membaca surat dari seorang tukang pos. Kartini sedih karena tidak dapat membalas cinta tukang pos tersebut. Gara-garanya, orangtuanya menjodoh-kannya dengan bupati Rembang.

Itu salah satu adegan yang terus membekas di benak Rania Putrisari. Satu kali coba, gagal. Kali kedua, penghayatan dirasa kurang maksimal. Dia harus mengulang beberapa kali sampai pas. “Paling sulit kalau disuruh menangis. Lebih sulit lagi kalau harus mengulang.” kata Rania. “Yang sebelumnya dapat mengeluarkan air mata beneran sampai mata jadi kering.” tambah Rania, lantas tertawa.

Namun, hal tersebut akan menjadi kenangan terindah bagi Rania selama menjalani proses syuting Surat Cinta untuk Kartini ► Baca Berkali-kali… Hal 35

Grogi Lihat Kegantengan Wajah Chicco Jerikho

■ BERKALI-KALI…   Sambungan dari hal 25

Entah sebuah keberuntungan atau takdir yang dihadapi oleh Rania. Dia terpilih sebagai pemeran utama, yakni Kartini. Jangankan pernah bermain film, belajar akting saja baru kali pertama dijalani Rania.

“Kalau dunia model, saya sudah jalani sejak usia 13 tahun. Tapi kalau bermain peran, ya baru pertama kali ini,” terang perempuan 21 tahun tersebut. Semuanya berawal dari media sosial. Pihak MNC Pictures mengirim pesan di akun media sosial Rania pada Mei tahun lalu. Karena tidak aktif di media sosial tersebut, Rania baru membaca pesan saat membuka e-mail-nya. “Mereka minta kontak saya agar dapat menghubungi lebih lanjut,” kata finalis Gadis Sampul 2009 tersebut.

Awalnya, Rania tidak menggubris pesan yang berisi tawaran main film tersebut. “Saya pikir bohong. Apalagi, saat ini banyak banget penipuan seperti itu,” ungkapnya. Beberapa hari setelah itu, Rania mendapatkan kabar dari salah seorang temannya. “Teman kasih tahu, saya disuruh ikut casting,” paparnya.

Lantas, Rania mencocokkan kabar tersebut dengan e-mail yang sebelumnya diterima. “Temyata beneran,” ungkapnya. Rania menceritakan hal tersebut kepada keluarganya. Dukungan penuh langsung diterima Rania. Karena itulah, Rania membulatkan tekad untuk mencoba terjun ke dunia seni peran. “Saya pikir juga, mumpung masih muda, ada kesempatan, kenapa tidak dicoba,” kata perempuan asli Surabaya itu. Apalagi, alur cerita film tersebut mampu menyedot perhatian Rania dari awal membacanya. Dia menerangkan, film itu menyuguhkan kisah sejarah sekaligus roman yang unik. “Ini kisah nyata, tapi tidak banyak orang tahu,” terangnya. Terlebih lagi, Rania sejak awal mengagumi sosok Kartini sebagai perempuan cerdas, berwibawa, tangguh, dan penuh semangat.

Setelah itu, Rania mengirimkan video sesuai dengan permintaan produser film: “Saya disuruh casting dengan mengirimkan video itu,” ujarnya. Tanpa disangka, Rania mendapat kabar yang mengejutkan. Dia menjadi salah satu di antara lima orang terbaik yang diundang untuk casting di Jakarta. “Antara ragu, tidak percaya, tapi ya penasaran pengin coba terus,” ucap Rania.

Selain casting, dia mendapatkan pelatihan soal bermain seni peran. Dia mengaku sempat minder lantaran empat orang lain yang terpilih jago akting. Mereka juga memiliki pengalaman bermain fihn maupun sinetron. Namun, kegundahan tersebut tidak menjadi kenyataan. Pada sesi terakhir, MNC Pictures mengumumkan bahwa Rania terpilih sebagai pemeran Kartini. “Hah? Nggak bo’ong?” Itulah celetukan yang keluar kali pertama dari mulut Rania setelah mendengar kabar hasilnya.

Rania menjalani proses syuting selama satu bulan pada Agustus tahun lalu. Dia bermaindengan beberapa aktor terkenal di Indonesia. Salah satunya Chicco Jerikho. Chicco berperan sebagai Sarwandi, tukang pos yang jatuh hati kepada Kartini. “Lawan main saya langsung Chicco. Padahal, selama ini saya hanya dapat melihatnya dari layar kaca televisi,” ungkap Rania. “Ternyata, aslinya lebih ganteng. Sempat nervous saja pas awal, ikut proses syuting,” kata Rania.

Namun, lama-kelamaan, rasa canggung itu pun hilang. Terlebih, tim produksi dan pengisi film berdurasi dua jam tersebut sangat ramah. Rania mendapatkan pengalaman berharga selama syuting di Jogjakarta itu. “Kalau saya salah, ya diingatkan. Kalau saya raggak bisa, ya banyak yang mengajari,” ungkap perempuan kelahiran 30 Agustus 1994 tersebut. “Mereka selalu bilang ke saya, karakter Rania sendiri tetap harus ditonjolkan dalam acting,” tutur dia.

Untuk mendalami perannya, Rania mempelajari karakter Kartini dari buku dan infomasi di internet. “Saya baca bolak-balik sampai menemukan seorang Kartini itu sebenarnya perempuan seperti apa sih,” ucap penghobi jalan-jalan itu.

Dia mengaku dapat bermain dengan baik berkat bantuan dan dukungan dari orang disekelilingnya. Apaiagi, lanjut dia, Chicco sangat baik kepada Rania. “Dia tidak sombong, mau mengajari saya,” katanya. “Misalnya adegan dia marah. Dia akan menyesuaikan oktaf nada marah saat Rania harus nangis,” ujar Rania. Setelah mendapatkan pengalaman tersebut, Rania mengaku bahwa bermain peran tidak semudah yang dibayangkan sebelumnya.

Rania juga berusaha mengakrabkan diri dengan pemain film lainnya. Dengan cara begitu, dia dapat lebih mudah menjalani proses syuting. ” Feel-nyajadi lebih dapat gitu. Udah nggak ada rasa canggung. Nggak ada juga rasa senior-junfor saat menjalani syuting,” ungkap dia.

Rania menyatakan bahwa usaha aktingnya dapat dikatakan berhasil ketika melihat hasil akhir film. “Saya nonton sama mama waktu itu. Kami berdua nangis lihatnya. Saya lihat peran saya sendiri bisa nangis. Jadi, cukup sukses lah,” ucapnya. Dia berharap film Surat Cinta untuk Kartini dapat menarik perhatian masyarakat Indonesia. “Penginnya, ya pastinya banyak yang nonton,” kata Rania. Saat ini Rania terdaftar sebagai mahasiswa Jurusan International Business Management (IBM) UC. Selama proses syuting, dia harus mengorbankan waktu kuliah. “Saya ambil cuti satu bulan,” terang dia. Awalnya, dia bersikeras tidak ingin meninggalkan kuliah. Namun, tempat dan waktu syuting tidak memberi Rania kesempatan untuk menjalani keduanya.

Meski begitu, kesempatan baru bermain film tersebut tidak membuat Rania lupa akan kewajiban sebagai mahasiswa. Dia terkadang membawa buku dan tugas kuliah di lokasi syuting. Waktu istirahat Rania gunakan untuk mempelajari materi kuliah. Sesekali juga dia gunakan untuk menyelesaikan tugas akhir (TA). “Syuting selesai, saya menebus dosa dengan mengikuti mata kuliah yang sempat tertinggal,” kata mahasiswa semester VII tersebut.

Dia harus pintar bagi waktu. Apalagi, tahun ini dia memiliki target lulus kuliah. Karena tidak mau menunda pengerjaan TA, Rania meminta izin kepada produser film untuk tidak ikut serta di beberapa promosi film. “Kalau memungkinkan, saya ikut. Kalau tidak, ya saya izin dulu,” terang Rania.

Pada 8 April, Rania berencana mengikuti sidang, TA. “Tinggal sebentar lagi ini. Jadi, harus tuntas dengan baik,” tambah dia.

Lalu, Rania harus kembali ke Jakarta pada 11 April mendatang. “Ada gala premiere film. Jadi, saya harus ikut. Semoga jadwal sidang tidak molor,” kata kolektor aksesori serbaemas tersebut.

Apakah dalam waktu dekat bermain film lagi? Rania tidakdapat memastikan. Baru-baru ini dia langsung mendapat tawaran main di tiga film. “Semuanya saya tolak. Saya ingin fokus satu-satu,” ungkapnya. “Saya tidak ingin main tapi dipaksain. Jadi kurang maksimal hasilnya,” ungkapnya. Namun, dia tidakmenutup kemungkinan untuk menerima apabila ada tawaran lagi. “Yang penting, waktunya sesuai. Saya juga tidak mau meninggalkan dunia model dan bisnis saya,” ujarnya. (*/c11/dos)

Rania Putrisari, Pemeran Kartini dalam Film Surat Cinta untuk Kartini_Berkali-kali Ulang Adegan Tangis. Jawapos.4 April 2016.Hal.25