Sumber: https://harian.disway.id/read/896961/reset-indonesia-saatnya-pariwasata-bangkit-lebih-kuat
Reset Indonesia, Saatnya Pariwasata Bangkit Lebih Kuat
9 September 2025
SAAT INI Indonesia sedang berada pada titik persimpangan. Di mana pandemi telah melanda kita beberapa tahun lalu, dan disusul dinamika global yang penuh ketidakpastian, sehingga membuat banyak sektor harus menekan tombol reset. Tidak terkecuali sektor pariwisata, yang dulu digadang-gadang sebagai ”mesin penghasil devisa” terbesar kedua setelah migas, dan sempat terhenti total, nyaris lumpuh.
Namun, justru dari titik itulah, kita memiliki kesempatan emas untuk membangun kembali pariwisata Indonesia dengan arah yang lebih kuat, lebih cerdas, dan tentunya lebih berkelanjutan.
APA ITU RESET INDONESIA?
Kata reset bukan sekadar memulai ulang. Reset dalam hal ini adalah kesempatan untuk memperbaiki kesalahan masa lalu, merapikan strategi, lalu bergerak dengan energi baru. Dalam konteks Indonesia, reset berarti mengoreksi arah pembangunan agar lebih relevan dengan tantangan masa depan.
Pariwisata Indonesia sangat layak masuk agenda reset ini. Mengapa? Sebab, pariwisata tidak hanya soal mendatangkan wisatawan, tetapi juga soal menggerakkan UMKM, menciptakan lapangan kerja, menghidupkan budaya lokal, sekaligus memperkuat citra bangsa di mata dunia.
TANTANGAN PARIWISATA INDONESIA
Sebelum berbicara tentang peluang, kita perlu jujur dalam melihat tantangan yang ada.
Pertama, selama ini kita terlalu sering mengandalkan pariwisata massal. Ukuran keberhasilan kita sering kali hanya dihitung dari jumlah kunjungan wisatawan, bukan kualitas pengalaman atau nilai tambah ekonomi yang diciptakan. Akibatnya, destinasi populer seperti di Bali mengalami overtourism, sedangkan daerah lain masih tertinggal dalam pembangunan.
Kedua, infrastruktur dan SDM pariwisata masih belum merata. Banyak daerah potensial memiliki keindahan alam luar biasa, tetapi akses jalan, transportasi, hingga kualitas layanan belum memadai.
Ketiga, isu keberlanjutan menjadi PR besar kita, yaitu mengenai sampah plastik di pantai, kerusakan terumbu karang, dan eksploitasi alam tanpa kontrol bisa membuat pariwisata kita kehilangan daya tarik dalam jangka panjang.
Walaupun kita menghadapi banyak tantangan yang ada, peluang yang terbuka pun jauh lebih besar. Reset Indonesia bisa menjadikan pariwisata sebagai sektor unggulan dengan wajah baru.
Pertama, green tourism. Wisata ramah lingkungan kini menjadi tren global. Wisatawan tidak hanya mencari pemandangan indah, tetapi juga ingin merasakan perjalanan yang berkontribusi positif pada alam.
Tentunya, di Indonesia dengan kekayaan biodiversitasnya, punya modal besar untuk mengembangkan eco-lodge, wisata alam berbasis konservasi, dan destinasi rendah emisi karbon.
Kedua, digital tourism. Dunia sudah terkoneksi digital. Wisatawan mencari destinasi lewat Instagram, TikTok, hingga live commerce.
UMKM pariwisata bisa memanfaatkan platform digital untuk media promosi, reservasi, hingga menjual pengalaman secara virtual. Reset ini membuka jalan bagi digitalisasi menyeluruh dalam ekosistem pariwisata.
Ketiga, cultural revival. Budaya dan kuliner adalah daya tarik yang tak pernah tergantikan. Reset Indonesia bisa menjadikan pariwisata sebagai panggung kebangkitan budaya lokal.
Dari batik, gamelan, ritual adat, hingga kuliner tradisional yang dikemas sebagai pengalaman otentik yang diburu oleh wisatawan dunia.
Keempat, wellness & healing tourism. Pandemi meninggalkan pelajaran bahwa kesehatan mental dan fisik sangat penting. Wisata berbasis healing makin digemari hingga kini seperti yoga di alam terbuka, spa tradisional, hingga wisata desa yang menenangkan jiwa.
Indonesia dengan keindahan alamnya sangat sesuai untuk mengembangkan pasar itu.
STRATEGI BANGKIT LEBIH KUAT
Reset Indonesia melalui pariwisata tentu memerlukan rumusan strategi yang konkret seperti:
Pertama, kolaborasi lintas sektor, di mana pemerintah, swasta, komunitas lokal, dan akademisi saling bekerja sama, bukan berjalan sendiri-sendiri.
Kedua, diversifikasi destinasi tidak hanya mengandalkan Bali. Sebab, Indonesia punya ribuan pulau dan kota dengan potensi luar biasa seperti Malang, Labuan Bajo, Toraja, Danau Toba, Likupang, hingga Wakatobi.
Ketiga, edukasi wisatawan yang tidak hanya menjual destinasi, tetapi juga membentuk perilaku wisatawan yang bertanggung jawab.
Keempat, digitalisasi UMKM melalui pelaku usaha kecil di sektor pariwisata yang perlu diberdayakan agar mampu memanfaatkan platform digital, baik untuk promosi maupun transaksi.
MOMENTUM JANGAN HILANG
Reset Indonesia saat ini bukan hanya jargon. Ini momentum! Dan, momentum itu akan hilang jika kita sekadar istilah ”kembali normal” seperti dulu.
Saatnya pariwisata Indonesia bangkit lebih kuat, ridak sekadar mengejar jumlah kunjungan, tetapi juga menghadirkan pengalaman yang berkualitas, berkelanjutan, dan membanggakan.

