Saat masih membantu melipat parasut paralayang atlet lain, enam tahun yang lalu. Rika Wijayanti kerap berkhayal suatu saat ketika ia bisa terbang sendiri dan menjadi juara dunia. Impian itu terwujud pada September 2017. Perempuan berusia 23 tahun itu menjadi juara dunia kelas Akurasi Perempuan pada Paragliding Accuracy World Cup di Slovenia.

Oleh Defri Werdiono

 

Bersama atlet paralayang lainnya asal Batu Jawa Timur, Sabtu (28/10) siang, Rika memakai jaket merah putih diarak menyusuri beberapa ruas  jalan utama di Kota Batu Punjul Santoso yang terus menebarkan senyum sumringah.

Predikat juara dunia paralayang, beberapa kali disebut oleh pemandu acara. Mereka disambut meriah oleh warga dan siswa sekolah rela berdiri dibawah terik matahari di sepanjang perjalanan dari Balai Kota Among Tani hingga Gor Gajahmada.

Sebelum diarak dalam rangka Hari Sumpah Pemuda, Sabtu pagi Rika bersama rekan-rekannya sebenarnya tengah sibuk menjadi Panitia Kejuaraan Daerah (Kerjurda) Paralayang. Kegiatan itu berlangsung di Gunung Banyak (1.315 meter dari permukaan laut) di Kelurahan Songgokerto , Kecamatan Batu.

“Saya tak ikut main di kejurda, saya hanya panitia” ujar Rika yang saat ini tengah mengikuti pemusatan latihan nasional (Pelatnas) sebagai persiapan berlaga di Asean Games 2018.

Karena mengikuti pelatnas, anak bungsu dari empat bersaudara ini jarang berada dirumah. Ia baru saja pulang dari Bali pekan lalu. Sebelumnya, pada awal Oktober, ia mengikuti sekolah simulasi insiden (incident de vol) di Manado selama 10 hari.

Rikapun bercerita tentang pengalaman serunya mengikuti kejuaraan dunia di Slovenia, bagaimana ia dan rekannya sesama atlet paralayang mewakili Indonesia harus bersaing dengan atlen  mancanegara. Dari sisi medan dan kondisi cuaca, apa yang ada diluar negeri berbeda dengan arena paralayang di Indonesia.

Selain suhu udara cukup dingin, yakni 4-6 derjat celcius (Di Gunung Banyak 19-20 derajat) dan angina kencang, lokasi take-off di Slovenia juga lebih tinggi. Namun dengan konsentrasi penuhi, Rika berhasil mendapatkan terendah (paling dekat dengan titik pendaratan) .

Slovenia sendiri merupakan seri terakhir  Paragliding Accuracy World Cup 2017.  Seri pertama dilaksanakan di Manado (Maret), Serbia (April), Kanada (Juli). “Di Indonesia, saya tidak mendapat juara. Untuk yang di Serbia dan Kanada, saya dapat medali” katanya.

Gadis penyuka bakso ini menyebut bahwa pesaing utama berasal dari Ceko yang memenangi kejuaraan serupa tahun lalu. Untungnya atlet Ceko tidak mengikuti semua seri sehingga status juara bisa diraihnya. Total ada 18 atlet yang mewakili Indonesia, Sembilan atlet diantara menyabet medali.

 

Tetangga Sendiri

Selain Rika, beberapa atlet lain yang maju pada kejuaraan di Slovenia itu ternyata tetangga sendiri. Merekajuga ikut menorehkan juara, seperti Ike Ayu Wulandari yang meraih juara III kelas Akurasi Perempuan ; Rony Pratama, juara II Akurasi Pria, juara I Beregu ; DJony Effendy yang mendapatkan no II Beregu. Djoni sendiri merupakan kakak kandung Rika. Juara yang baru saja dimenangi merupakan kesempatan yang kesekian kali Rika pada ajang Internasional. Sebelumnya pada 2016, Rika keluar sebagai juara II Asean Cup dan juara I Kuala Kubu Baru Open Malaysia pada 2015. Pada tahun yang sama, ia keluar sebagai juara III pada Juara Open Malaysia.

Kemahiran Rika bermain peralatan yang bukan tanpa sebab. Sejak SMP Rika sering bersinggungan dengan aktivitas paralayang. Di Kelurahan  Songgokerto, membuat remaja mudah bergaul dengan para pilot paralayang berikut, peralatannya.

Selain Djoni Effendi, kakak kandung Rika lain, yakni Iwan Hadi, yang juga seorang atlet paralayang. tidak heran apabila keinginan Rika untuk terjun kedunia paralayang mendapat dukungan penuh dari kedua keluarganya. “Hanya satu dari ketiga kakak saya yang tidak menekuni paralayang, yakni Rudi Wijayanto” ujar dari anak pasangan Ali (55) dan Bawon (50).

Rika remaja sering memanfaatkan waktu luang seusai sekolah untuk menjadi “caddy”. Ia mencari tambahan uang jajan dengan cara melipat parasut. Untuk sebuah parasut keperluan terbang solo, upahnya Rp.2000. Sementara untuk parasut yang lebih besar dan biasa dipakai terbang untuk tandem, upahnya Rp.5000. Dari kegiatan itu Rika bisa membawa pulang uang sebesar Rp.20.000 dalam sehari.

Saat menjadi “caddy”, saya selalu mbatin punya keinginan bahwa suatu saat nanti saya hurus biasa main paralayang, bahkan menjadi juara dunia” ucap Rika yang hanya tiga bulan menjadi pelipat parasut.

Rika menekuni “profesi” sebagai pelipat parasut hanya sesaat, sekitar tiga bulan. Melipat parasut paralayang, menurut dia tidak sulit. Pilot cukup memberikan arahan bagaimana cara melipat parasut secara benar. Selain itu, parasut juga akan dibuka lagi dan di cek saat take-off.  Ini berbeda dengan melipat parasut terjun payung yang mesti sempurna. Jika tidak, parasut terjun payung tidak mengembang.

Tidak puas hanya melipat parasut, Arek Batu ini mulai mencoba merasakan bisa melayang di udara pada 2011. Awalnya masih terbang secara tandem, namun itu dilakukannya hanya sekali. Selanjutnya, Rika coba belajar terbang solo. Tidak mudah ternyata untuk belajar terbang sendiri. Rasa grogi dan tidak percaya diri sempat menyergap.

“Grogi muncul, saat hendak take-off maju mundur maju mundur karena grogi”ujarnya. Selama belajar Rika sering sekali mendarat tidak tepat sasaran lantaran belum terbiasa menyiasati arah angin. Namun, lambat laun sering sering bertambahnya jam terbang, ia bisa menguasai keadaan.

Saat duduk dibangku kelas II SMK, Rika pertama kali ikut serta dalam Kejuaraan Nasional Paralayang di Danau Toba, Sumatera Utara yang sekaligus menjadi medan pertama mencari pengalaman. Adapun perhelatan internasional pertama kali ia ikuti di Thailand. Ketika itu ia menyabet juara II kategori beregu perempuan.

“Awalnya kalau bilang takut, ya takut pasti ada. Grogi sebelum terbang. Namun, sering berjalannya waktu dan jam terbang yang bertambah, grogi itu biasa ditangani” kata perempuan yang mengidolakan Najwa Shihab ini.

Gadis yang berzodiak Leo yang semula memiliki cita-cita bekerja di bank ini memang tidak memiliki rasa takut terhadap ketinggian. Salah satu modal inilah yang membuat dirinya bisa mengukir rasa percaya diri dari waktu ke waktu.

Dunia paralayang sendiri kini terus berkembang. Orang-orang yang menyenangi paralayang makin banyak, termasuk kaum perempuan. Buat Rika ini merupakan kabar yang baik.

 

 

 

 

Rika Wijayanti

Lahir                            : Batu, 8 September 1994

Ayah                            : Ali (55)

Bawon                         : Bawon (50)

Sekolah                        :-SD Songgokerto 2 Batu Malang

-SMP Muhammadiyah 08 Batu Malang

-SMK 17 Agustus Batu Malang

Prestasi                       :-Juara I KKB Open Malaysia (2015)

-Juara I Beregu KKB Open Malaysia (2015)

-Juara I XC Lover Batu 2016

Prestasi 2017              :-Juara I PGAWC Seri 2 Serbia (2017)

-Juara III WPAC Albania (2017)

-Juara I PAWC Slovenia (2017)

 

 

Sumber : Kompas, 2 November 2017