SURABAYA,SURYA – Meskipun Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, telah berhasil membuat Surabaya lebih baik, bukan berarti tugasnya selesai. Sebab, masih ada beberapa janji wali kota perempuan pertama di Surabaya ini yang belum selesai.
Pengamat tata kota dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) Ir Putu Ruy MSc mengungkapkan, secara umum kinerja Risma baik. Sejak menjabat wali kota di periode pertama, Risma telah membawa perubahan bagi Surabaya.
“Di segala lini jauh lebih baik dari periode sebelumnya. Meskipun juga ada beberapa hal yang perlu dibenahi,” papar Rudy, Rabu (27/7).
Rudy menyatakan, pembangunan Surabaya secara visual sangat terlihat pesat. Banyak bangunan yang sebelumnya mangkrak mulai diselesaikan. Selain itu, pembangunan gedung-gedung baru juga mulai tumbuh. Suburnya pertumbuhan visual itu juga diimbangi dengan perbaikan fasilitas jalan hingga taman-taman kota.
“Di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) ada sejumlah janji-janji yang dipenuhi. Secara umum sudah sesuai dengan sasaran. Malah beberapa melampaui. Tentunya ini tidak seluruhnya mulus. Ada beberapa hal, misalnya terkait banjir,” lanjutnya.
Menurut Rudy, ada komponen fisik, ekologi dan perekonomian dalam pembangunan kota. Perkembangan Surabaya di bawah kepemimpinan Risma yang paling terasa adalah mampu meningkatkan perekonomian warga.
Kelebihan Risma, katanya, adalah visi ke depan yang bagus. Ia dinilai punya komitmen untuk mencapai visi itu sehingga menimbulkan kepercayaan warga Surabaya.
“Kalau dia pindah, saya khawatir visi itu sudah diseting. Kalau pun diganti, saya belum begitu yakin dengan penggantinya. Setidaknya, selesai dulu menepati janji menjadi Wali Kota Surabaya,” ucapnya.
Risma juga terkesan terlalu inward looking, pembangunan hanya untuk warga Surabaya saja sehingga tidak mempertimbangkan warga lainnya. Di dunia ini, kata Rudy, tidak ada kota yang tidak berfungsi regional.
Semestinya Surabaya bisa mendorong hal itu. Apalagi, Surabaya telah menasbihkan diri menjadi jangkar Indonesia untuk pelayanan internasional. Kenyataannya, setiap hari Surabaya didatangi temporary migran. Kondisi itu seolah-olah tidak dianggap sebagai kondisi nyata.
Ruddy mencontohkan proyek pembangunan angkutan masal cepat (AMC) yang semata-mata hanya untuk warga Surabaya. Pembangunan itu terkesan menunjukkann keegoisan pembangunan di Surabaya. Selain hal itu, komponen kultur dan sosiologi yang beragam di Surabaya menjadi tantangan tersendiri perkembangan Surabaya.
“Fisik kota boleh sama, tapi kehidupan kota berbeda dari segi sosial, ekonomi, kultur, perilaku warga. Kembalilah ke janji awal kepada warga Surabaya,” ujar Rudy.
Sementara itu, Deny Ber Nardus, pengamat tata kota dari Universitas Ciputra (UC) mengatakan, ada beberapa janji Risma yang hingga saat ini belum direalisasikan.
“Berbagai inovasi atau masterpian yang dibuat ibu Risma sedikit banyak telah memotivasi daerah lain untuk ikut mencoba. Tak jarang pula yang menjadikan Surabaya dan wali kotanya menjadi tolak ukur pembangunan di daerah lain,” ujarnya.
Meskipun demikian, Denny berujar bahwa Risma belum saatnya meninggalkan Surabaya untuk saat ini. Sebab ada beberapa rencana jangka panjang yang belum terealisasi. Seperti soal pemerataan pembangunan kota antar Surabaya di wilayah barat dan timur.
Menurut Denny, selama ini pembangunan terlalu banyak berfokus di wilayah Timur. Padahal, wilayah barat menjadi lokasi strategis yang berperan sebagai penyambung Surabaya dengan daerah luar.
“Sekarang ini beban traffic kan lebih banyak dari pusat ke barat, daripada utara atau selatan,” jelas pria lulusan Northwestren University Chicago, AS ini.
Denny menjelaskan bahwa pemkot telah berencana membuat Radial Road. “Oleh karena itu, kami mengira pentingnya realisasi Radial Road yang menghubungkan jalan Mayjend Soengkono, HR Moehammad, ke wilayah bagian barat,” ujarnya.
Oleh karena itu, dengan banyaknya realitas janji yang belum terpenuhi, seharusnya Risma belum saatnya meninggalkan Surabaya. “Sesuai dengan komitmen beliau ya, seharusnya ibu tak meninggalkan Surabaya sebelum masa kerjanya habis,” ujarnya.
“Tentu, akan lebih nyaman apabila beliau bisa meninggalkan Surabaya setelah masa kerjanya selesai. Kami pun demikian akan lebih ikhlas apabila semua programnya telah selesai seiring masa kerja beliau,” ucap alumnus ITS ini.
Ambisi Politik
Pengamat tata kota dari Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya, Benny Poerbantanoe mengapresiasi program pembangunan di Surabaya semasa kepemimpinan Risma. Khususnya soal pembangunan ruang terbuka hijau.
“Tetapi ia juga memberi catatan terhadap konsep pembangunan properti di Surabaya. Sekarang banyak gedung tinggi yang berfungsi sebagai perkantoran dan hunian di Surabaya. Secara tidak langsung, banyak gedung tinggi di tengah kota akan menarik orang dari luar datang ke Surabaya.
Hal itu akan menimbulkan masalah kemacetan di Surabaya. Apalagi pembangunan infrastruktur jalan belum maksimal. “Kalau itu tidak segera dievaluasi dan dicarikan solusi, Surabaya akan menyusul Jakarta dalam masalah kemacetan,” ujarnya.
Menurutnya, sudah waktunya wali kota memikirkan pembangunan Surabaya dari segi kualitas bukan kuantitas. Ia sepakat dengan pebangunan gedung vertikal tetapi dengan catatan untuk menambah ruang terbuka hijau.
Soal kabar Risma akan maju ke Pilgub DKI Jakarta, Benny menganggap hal itu wajar, ketika ada pemimpin berprestasi akan dipromosikan ke jenjang yang lebih tinggi. Tapi, ia berharap hal itu bukan semata-mata ambisi politik.
“Pendapat pribadi saya, berilah ruang sebaik-baiknya ke Bu Risma untuk menuntaskan program di Surabaya. Selain itu, biar Bu Risma menyiapkan kader baru untuk memimpin Surabaya ke depan,” katanya. (bob/bni/sha)
Sumber : Surya.co.id, Agustus 2016

