Matahari siang itu cukup terik. Namun, udara sejuk terasa di ruang tamu RR Hendarti yang disulap menjadi perpustakaan desa. Balasan anak asyik memilih dan membaca buku serta mengoperasikan tiga unit computer. Terpakir sepeda motor roda tiga serta aneka sampah organic dalam karung.
Oleh Megandika Wicaksono
Bukan hanya ruang tamu yang dijadikan perpustakaan, motor roda tiga bewarna hijau bantuan dari Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, itu pun sewaktu-waktu dapat disulap menjadi perpustakaan keliling. Tiga rak kayu berisi ratusan buku bisa dibongkar pasang pada sisi depan dan kanan-kiri bak motor dengan pengait besi.
“Minat baca anak-anak akhir-akhir ini mulai berkurang. Dengan berkeliling desa membawa buku sambil mengumpulkan sampah, saya ingin membangkitkan kembali minat baca anak-anak. Istilahnya dengan jemput bola,” kata Hendarti yang setiap akhir pekan dan hari libur berkeliling desa mengumpulkan sampah sekaligus meminjamkan buku.
Hendarti yang sehari-hari bekerja sebagai Kepala Urusan Kesejahteraan Rakyat Desa Muntang, Kecamatan Kemangkon, Kabupaten Purbalingga, telah mengelola Perpustakaan Desa Pelita Sejak 2007. Perpustakaan yang ada sejak tahun 1980-an itu semula berlokasi di balai desa. Namun, karena sepi pengunjung buku-buku perpustakaan dipindahkan ke ruang tamu rumahnya.
“Saat itu perpustakaan di balai desa sepi karena warga dan anak-anak mungkin rikuh pakewuh (segan) datang ke balai desa,” ujarnya saat ditemui pada Rabu (29/3).
Setelah dipindahkan ke rumahnya, anak-anak tidak serta merta banyak yang datang membaca. Istri Agustinus Suryanto (44) itu mesti memancing dengan memberikan hadiah bagi anak-anak yang rajin datang ke perpustakaan. “Anak yang rajin datang sampai sepuluh kali akan mendapatkan pulpen. Datang sampai 20 kali dapat penggaris, dan seterusnya,” katanya.
Pancingan itu cukup mengena. Setidaknya hingga 2015, hampir setiap sejak perpustakaan itu buka pukul 13.00 sampai 21.00, ada 20 anak- anak yang datang dan membaca buku di sana. Namun, sekitar 2016 minat baca kembali surut. “Dari yang biasanya setiap hari ramai, pada 2016 hanya di akhir pekan saja anak-anak banyak yang datang untuk membaca buku. Salah satu factor penyebabnya adalah maraknya penggunaan gadget (gawai),” kata ibu dari Arya Dafa R (18) dan Arya Talita S (12) itu.
Limbah Pustaka
Untuk mengatasi hal itu, Hendarti yang juga mengelola Bank Sampah Sampah Sahabatku kemudian berinisiatif membawa ratusan buku itu keliling Desa Muntang. Pada awal 2017, dia dan suami memesan tiga rak kayu seharga Rp 300.000 untuk dipasang di motor roda tiga.
Sembari mengumpulkan limbah anorganik, Hendarti berkeliling meminjam buku. “Ternyata yang pinjam buku bukan hanya anak-anak, melainkan juga ibu-ibu rumah tangga. Dari 800 orang yang meminjam buku, sekitar 80 persen adalah anak-anak, lainnya adalah orang dewasa,” papar sarjana dari Falkutas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jurusan Administrasi Negara Universitas 17 Agustus 1945 Semarang itu.
RADEN RORO HENDARTI
Lahir : Purbalingga, 6 Oktober 1973
Pendidikan :
- SD Pius Purbalingga (1986)
- SMP N 1 Purbalingga (1989)
- SMAN Sokaraja (1992)
- S-1 FISIP (Administrasi Negara) Universitas 17 Agustus 1945 Semarang (1997)
Suami : Agustinus Suryanti (44)
Anak : Arya Dafa R (18) dan Arya Talita (12)
Kegiatan :
- Kepala Urusan Kesejahteraan Rakyat
- Pengelola Perpustakaan Desa Pelita
- Pengelola Bank Sampah Sampah Sahabatku
Penghargaan :
- Juara I Lomba Perpustakaan Desa/Kelurahan Tingkat Kabupaten Purbalingga (2013)
- Juara Harapan I Lomba Perpustakaan Desa/Kelurahan Tingkat Provinsi Jawa Tengah (2014)
Menurut Hendarti, dengan terobosan itu, minat membaca anak-anak dan warga di desa yang dihuni L800 jiwa itu dimulai meningkat. Selain itu, warga juga didorong untuk mengelola sampah dengan cara memilih dan memilah lalu menyerahkan ke bank sampah. “Biasanya sampah anorganik hanya dibuang begitu saja atau dibakar Melalui Bank sampah, warga mulai mengelola sampah,” ujarnya.
Dari pengelolaan bank sampah, meski baru terkumpul sekitar satu keuintal per bulan, sampah onorganik itu kemudian diolah menjadi aneka kerajinan tangan oleh 20 ribu rumah tangga pengelola bank sampah. “Botol minuman bekas bisa dijadikan bunga hias dan tas. Dijual dengan harga Rp 50.000-Rp 60.000 per buah dengan cara online, per bulan bisa terkumpul dana Rp. 500.000 sampai Rp. 1 juta,” kata Hendarti.
Tanpa menarik biaya sewa buku, Hendarti meminjamkan maksimal dua buku kepada setiap orang dengan jangka waktu satu minggu dan bisa diperpanjang. Siapa saja bisa meminjam termasuk mereka yang belum atau tidak menyerahkan limbah sampah kepada bank sampah.
Mereka yang menyerahkan limbah sampah namanya akan dicatat dan sampahnya akan ditimbang. Setiap enam bulan sekali, mereka berhak menerima uang senilai sampah yang dikumpulkan. “Warga yang belum menyerahkan sampah bisa tetap meminjam, tetapi diharapkan di kemudian hari tergerak ikut mengumpulkan sampah,” katanya.
Meski ada yang mencibir usahanya karena dianggap kurang kerjaan sejumlah warga desa mengaku senang dan mengapresiasi upaya Hendarti meningkatkan minat baca tersebut. Marsinah (54), warga RT 008 RW 003 yang sehari-hari membuka salon dan rias pengantin, menyampaikan, dengan membaca buku, pengetahuannya jadi bertambah.
“Meski sudah tua dengan membaca jadi bisa tambah wawasan dan pengetahuan baru,” kata Marsinah sambil menunjukkan buku Kreasi Hantaran Pengantin yang baru saja dipinjam.
Sutarmi (43) menambahkan, hobi membaca Siti Giantri (9), anaknya, tersalurkan di perpustakaan desa tersebut. “Di rumah buku yang ada paling buku sekolah. Kalau mau baca buku cerita, Siti datang dan pinjam ke Perpustakaan desa,” kata Sutarmi dan diamini oleh Siti yang mengaku suka membaca buku dongeng.
Sejumlah penghargaan pun di terima Perpustakaan Desa Pelita Desa Muntang. Penghargaan itu antara lain Juara I Lomba Perpustakaan Desa/Keluruhan Tingkat Kabupaten Purbalingga pada 2013 dan Juara Harapan I Lomba Perpustakaan Desa/Kelurahan Tingkat Provinsi Jawa Tengah pada 2014.
Kini, perpustakaan desa itu mengoleksi 2.000 judul hasil sumbangan berbagai pihak. Koleksi buku terdiri atas berbagai tema, seperti kesusastraan, ilmu sosial, pengetahuan alam, agama, dan filsafat.
Hendarti berharap minat baca anak-anak dan warga sekitar terus terjaga. “Semoga perpustakaan ini tetap menjadi ‘pelita’. Dengan membaca, wawasan dan pengetahuan warga bisa bertambah,” katanya.
Sumber : Kompas 17 April 2017 Hal 16

