Rumpun-Bambu-Penyangga-Wayang.-Kompas.-9-Juni-2015.-Hal.16

Berpegang pada falsafah bambu, Sri Widodo (40), dalang asal Desa Balamoa, Kecamatan Pangkah, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, mencipta wayang pring atau wayang bambu dan menjadikannya sebagai salah satu khazanah budaya di Indonesia. Pantas wayang pring menjadi media penyampai pesan moral kepada masyarakat.

OLEH SIWI NURBIAJANTI

 

Lahir di Kabupaten Tegal pada 3 September 1974, Widodo memperoleh bakat seni dari sesepuhnya. Kakeknya, mendiang Ki Suwati, merupakan dalang wayang kulit yang terkenal di Tegal. Begitu pula ayahnya, Ki Gunawan, juga seorang dalang. Ayahnya adalah kakak kandung dalang wayang suket, mendiang Ki Slamet Gundono.

Tumbuh di lingkungan seniman, sejak kecil Widodo telah memiliki kecintaan pada dunia seni karawitan dan wayang. Saat sekolah dasar, dia bergabung dengan kelompok karawitan di sekolahnya.

Karena itu, selepas sekolah menengah pertama (SMP) pada 1992, dia memilih melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) di Solo. Lepas dari SMKI, dia melanjutkan pendidikan ke Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta dengan mengambil jurusan karawitan.

Selain menempa kemampuan berkesenian di sekolah, Widodo juga menempa kemampuannya dengan membantu pamannya, mendiang Ki Slamet Gundono, yang tinggal di Solo. Sejak 1998 hingga 2010, dia aktif dalam pementasan wayang suket. Dia ikut menjadi pengrawit dan sesekali membantu mendiang Ki Gundono mendalang.

“Jadi, saat itu ada dalang besar dan dalang kecil,” ujarnya saat ditemui Selasa (19/5). Dalang kecil menunjuk kepada dirinya.

Di sela-sela kegiatannya, Widodo berupaya menggali kemampuannya yang lain. Saat hendak memenuhi tugas untuk ujian kelulusan jenjang S-1 pada 2003, dia membuat kreasi bunyi gamelan dari perpaduan karet dan bambu.

Dari situlah, dia menemukan ide membuat wayang dari bambu. Widodo melihat falsafah yang kuat dari tanaman ini. Setiap batang bambu, lanjutnya, selalu memberikan kesempatan kepada batang lain untuk tumbuh sendiri. “Jadi, kalau sudah ada tunas atau rebung yang tumbuh, tidak akan ada tunas lain yang tumbuh di tempat yang sama,” katanya.

Meskipun demikian, bambu tidak pernah hidup sendiri, tetapi bergerombol dalam satu kelompok.  Batang bambu yang menjulang tinggi tidak akan pernah bisa roboh ke tanah karena disangga batang-batang bambu lain di kelompok itu. Meskipun tumbuh satu-satu, tanaman bambu bisa kuat karena hidup bersama dan saling menyangga.

 

Memori masa kecil

Memori masa kecilnya ikut mempengaruhi semangatnya membuat wayang bambu. Dahulu, saat dia masih kecil, dia kerap ingin bermain wayang kulit seperti kakek dan ayahnya. Namun, karena harga wayang mahal, dia tidak diperbolehkan memegang wayang asli.

Akhirnya dia dibuatkan wayang dari bambu secara sederhana oleh kakek dari ibunya, mendiang Mbah Sebat. Mbah Sebat kala itu juga merupakan dalang, tetapi dalang wayang golek. “Saat itu wayang pring buatan simbah, kepalanya belum bisa digerakkan,” katanya.

Desember 2014, saat Aceh dilanda tsunami, untuk pertama kalinya Widodo serius mementaskan wayang pring. Bersama teman-temannya di Solo, dia mendalang dari satu kelurahan ke kelurahan lain untuk menggalang dana bagi korban tsunami. Saat itu terkumpul lebih dari Rp 4 juta.

Pada 11 Maret 2005, untuk pertama kalinya wayang pring mendapat kesempatan pentas di Taman Budaya Surakarta. Aktivitas pementasan pun terus berjalan. Hingga pada 2007, kelompok wayang pring vakum karena pengiringnya kembali ke daerah masing-masing.

Pada 2010, Widodo kembali ke Tegal dan menghidupkan kembali wayang pring. Hingga kini, dia terus mementaskan wayang pringndalam berbagai kesempatan. Widodo membentuk Komunitas Wayang Pring Tegal dengan personel antara lain guru dan pegawai tata usaha di SMP Negeri 1 Bojong, Kabupaten Tegal, dan alumni sekolah tersebut.

Untuk menarik penonton, Widodo memodifikasi wayang pring sehingga kepala wayang itu bisa digerakkan ke kanan dan ke kiri seperti wayang golek. Upaya mempercantik wayang dengan membentuk wajah dan hiasan pada bagian kepala wayang terus dilakukan.

Pernah berkolaborasi dengan mendiang Ki Gundono, mau tidak mau berpengaruh terhadap gaya mendalang Widodo. Dia mendalang dengan gaya santai dan keluar dari pakem wayang yang ada.

Namun, bagi Widodo, keluar dari pakem bukan dosa dalam berkesenian. Menurut dia, dahulu saat wayang masih berada dalam fase wayang purwo, para dalang juga mencari bentuk pementasan. Ibarat fase yang berputar kembali, dia pun mencari bentuk baru pementasan wayang pring. “Roda itu berputar, cokro manggilingan,” tuturnya.

Justru jangan keluar dari pakem. Wayang pring tidak sekadar menjadi pertunjukan seni biasa. Wayang pring bisa jadi media pembelajaran dan media berkegiatan sosial. Karena tidak terikat pakem ketat, dia bisa lebih leluasa menyisipkan pesan-pesan moral kepada penonton, termasuk yang dilakukannya ketika mementaskan lakon Rama Bhargawa  di hadapan siswa SMP Negeri 1 Bojong pada 19 Mei lalu.

Cerita mengenai perselingkuhan dalam lakon Rama Bhargawa bisa dialihkan menjadi pesan kepada siswa agar tidak mencontek dan agar patuh kepada orangtua. Hal itu karena mencontek dan bohong kepada orangtua bisa diartikan sebagai pengingkaran pada nilai kejujuran dan kesetiaan. Tokoh-tokoh yang dipentaskan pun disesuaikan dengan situasi penonton sehingga lebih mengena.

Dalang dalam pementasan wayang pring juga tidak menjadi tokoh yang diagung-agungkan. Dalam setiap pementasan dengan personel sekitar 14 orang, Widodo ikut mengangkut dan menggotong peralatan yang akan digunakan untuk pentas. “Seperti falsafah bambu, kita saling menyangga,” tambahnya.

Sri Widodo tidak ingin berhenti dengan karyanya saat ini. Ayah dua anak yang juga bekerja sebagai pegawai honorer di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Tegal tersebut terus berupaya berinovasi dalam menggarap lakon dan iringan musik. Dia ingin wayang pring bisa diterima lebih luas oleh masyarakat dalam berbagai situasi dan kondisi. Dengan diterima, masyarakat bisa juga ikut menyangga seperti rumpun bambu.

 

SRI WIDODO

▪ Lahir : Tegal, 3 September 1974

▪ Istri : Wahyuningsih (34)

▪ Anak :

  • Galuh Widyaningtyas (10)
  • Nimas Galih Cahyaningtyas (5)

▪ Pendidikan :

  • SD 2 Balamoa Kabupaten Tegal
  • SMP 1 Kedungbanteng Kabupaten Tegal (lulus 1992)
  • SMKI Surakarta (lulus 1995)
  • STSI Surakarta Jurusan Karawitan (lulus 2003)

▪ Prestasi :

  • Juara I Lomba Monolog Tradisi Lisan Tingkat Jawa Tengah di Borobudur tahun 2014
  • Juara I Pengiring Tari untuk Lomba Seni Tari Tradisi di Surabaya pada 2001 (Sri Widodo berkelompok sebanyak lima orang)

UC Lib-Collect

Kompas. Selasa. 9 Juni 2015. Hal.16