Sebagai dalang, itikad rustamaji (56) menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia diwujudkannya melalui sarana pewayangan kontemporer. Dia menciptakan karakter tokoh tokoh dalam dunia modern, seperti polisi, tentara, kepala desa, dan pemangku agama, yang akan membawa pesan damai di sela sela pertunjukan wayang kulit.

Dengan wajah antusias, rus, panggilan akrab rustamaji, menunjukkan satu per satu koleksi wayang modern yang dibuatnya dari kertas rangkap dua, pertengahan juni lalu. Melalui wayang modern itu, dia menghidupkan langgam wayang suluh yang banyak di mainkan sebagai media penyuluhan kala era orde baru. Ditangan rus, penyuluhan dibingkai sebagai jawaban persoalan bangsa yang menggejala akhir akhir ini, intoleransi, ujaran kebencian dan kekerasan.

Untuk itu, karakter yeng terpilih sebagai wayang suluh adalah sosok yang menjadi teladan masyarakat. Ada tokoh agama yang karakternya mengayomi dan menjunjung kebinekaan Indonesia. “ada juga pak camat, petani dan penyanyi dangdut sebagai hiburan,” ujar rus di rumahnya di desa dorokandang, kecamatan lasem, kabupaten rembang, jawa tengah. Berbagai wayang suluh itu mempunyai karakter dan makna tertentu. Misalnya, wayang wanita yang masih digambarkan mengenakan pakaian serba minim dan terbuka. Dari karakter tersebut, penonton, penonton diajak memahami budaya berpakaian Indonesia yang masih memegang adat ketimuran. Wanita seyogianya mengenakan pakaian rapid an sopan apapun jenis profesinya. Selain itu, ada tokoh polisi yang berkarakter adil dan menjunjung perdamaian. Ketika ada segelintir orang yang ingin mengutamakan kepentingan kelompoknya, polisi memberi mereka pilihan untuk tetap atau keluar dari status warga Negara Indonesia (WNI).

“Indonesia adalah Negara heterogen yang menghargai keberagaman. Pada hakikatnya keseragaman wajib menghargai menghargai keberagaman,” ujar rus sembari memperagakan tokoh polisi itu.

Resah kondisi bangsa

Rus mulai menampilan wayang suluh pada pertengahan tahun 2012. Awalnya, wayang suluh ditampilkan di sela sela pertunjukan wayang kulit untuk menghilangkan rasa bosan penonton. Karena sifatnya selingan wayang suluh hanya dimainkan 30-60 menit dari total pertunjukkan wayng kulit sekitar 7,5 jam. Ide penciptaan wayang suluh berawal dari kegelisahan rus akan kondisi bangsa saat ini. Karena itu, dia mengambil tema cerita dari isu terkini dan kehidupan sehari hari, seperti toleransi antar umat beragama, menjaga keberagaman Indonesia, penyelesaian sengketa tanah dan larangan mabuk serta mengkonsumsi narkotika.

Pertunjukkan wayang suluh sengaja dibawakan lebih santai agar pesan yang tersirat dapat tersampaikan kepada semua penonton tanpa kesan menggurui. Wayang suluh dimainkan dengan bahasa campuran: Indonesia, jawa dan bahasa gaul. Berbeda dengan pertunjukan wayang kulit yang secara khusus dimainkan dengan menggunakan pakem pakem tertentu. Seiring berjalan waktu, rus mulai memainkan wayang suluh dalam pertunjukkan khusus. Tak diduga, mayoritas penonton justru kaum muda dari beragam usia. Mereka tertari terhadap gaya penyampaian wayang lebih santai walau mengandung pesan mendalam. Tak jarang mereka menanyakan proses pembuatan wayang dan kini mengunjungi rumah rus. Kini wayang suluh menjadi sarana mengenalkan seni pewayangan kepada kaum muda. Dalam sebulan ia bisa pentas sebanyak 5-8 kali di sejumlah kota seperti semarang kudus dan pati.

Di luar profesinya sebagai dalang, rus juga mengajar di SD negeri bendo rembang. Dia mengajari anak anak SD keterampilan membuat wayang, mulai dari menggambar hingga mewarnai. Ia tak berharap anak didiknya menyukai wayang, tetapi setidaknya mereka pernah melihat dan mengetahui tentang wayang. “anak anak memang lebih tertarik pada wayang suluh. Mungkin karena bentuknya lebih gampang dikenali dan warna lebih menarik,” kata rus.

Tak sulit mengembangkan dan mengenalkan wayang di lasem. Menurut rusm karakteristik masyarakat lasem mudah menerima hal hal baru. Di lasem, mayoritas peranakan tionghoa dan beragama islam. Namun, mereka dari kelompok mayoritas selalu menghargai minoritas. Rus pernah menmapilkan pertunjukkan wayang suluh dirumah merah yang merupakan rumah keturunan tinghoa pada 2016.

Dalam setiap pertunjukkan wayang suluh, rus kerap mengingatkan kaum muda agar tak kehilangan kewaspadaan. Menurut diam penjajahan kepada kaum muda pada masa kini dapat melalui teknologi, ekonomi, budaya dan politik. Pesan pesan itu harus di sampaikan kepada anak sejak dini.

Rasa cinta

Kecintaan rus pada wayang berawal sejak kecil, saat masih berusia 8 tahun. Meski terlahir bukan dari keluarga seniman, ia mewarisi bakat berkesenian dari sang kakek. Ia gemar mendengarkan cerita cerita wayang dari radio. Salah satu dalang favorit rus adalah nartosabdo, seorang seniman music sekaligus dalang legendaris dari jawa tengah. “saya pernah bermimpi dilantik sebagai dalang oleh pak nartosabdo. Dia juga dalang favorit Ir soekarno,” kata pria kelahiran blora itu. Saking cintanya kepada wayang, saat masih beliau rus sengaja  membeli buku pedalangan lalu menghafalkan alur cerita, karakteristik tokoh hingga anak anak dari keturunan wayang. Rus menekuni profesi sebagai dalang professional sejak 1988.

Menurut rus, cerita pewayangan mirip dengan karakter manusia secara umum. Misalnya, wayang pandawa yang digabarkan berhati bersih, berbudi pekerti dan rajin menolong. Sebaliknya ada tokoh kurawa yang jahat dan dengki.

Dunia pedalangan dan pewayangan seolah telah meraasuk dalam diri rus. Misi utamanya bukan lagi menampilkan pertunjukkan wayang terbaik. Lebih dari itu, ia ingin membuat pesan dari cerita wayang diterima dan dipahami penonton. Berbagai penghargaan telah di raih, antara lain juara lomba goro goro tingkat kabupaten rembang tahun 1992. Saat itu rus membawakan cerita wayang bertema toleransi bermasyarakat. Selain itu rus juga pernah siaran wayang diradio republic Indonesia semarang tentang pedoman penghayatan dan pengamalan pancasila. “bagi saya bangsa Indonesia harus berpegang teguh pada budaya bangsa terutama berbudaya panacasila,” ujar rus.

 

Sumber: Kompas, Senin 24 Juli 2017