Memori Angpao dan Calo
IMLEK selalu menjadi momen spesial bagi Harun di masa kecil. Sebagaimana anak – anak seusianya, angpao adalah hadiah istimewa. Matanya senantiasa berbinar saat menerima amplop merah berisi uang dari orang tua atau sanak saudara itu. Namun, ada satu hal istimewa lain yang selalu dinanti Harun kecil saat imlek. “Cola atau minuman soda,” ujarnya, lantas tersenyum.
Bagaimana ceritanya? Harun menuturkan. Dirinya hidup di tengah keluarga yang sederhana. Setelah merasakan masa kecil di Jakarta, pada usia 6 – 16 tahun dia ikut sang ayah yang pindah dan membuka usaha toko bahan bangunan di Palembang. Mulai usia 17 tahun, dia kembali ke Jakarta dan tinggal bersama nenekanya.
Rupanya, sepanjang masa kecilnya itu, Harun begitu menyukai minuman bersoda. Namun, karena harganya yang relatif mahal, orang tua dan neneknya sangat jarang membelikan minuman bersoda untuknya. Barulah di perayaan Imek, minuman itu tersedia di rumah Harun. Dahaga akan minuman bersoda dia tuntaskan saat itu juga. “kadang saya minum tiga atau empat botol ( minuman bersoda ) sampai kekenyangan,” katanya, lantas tertawa lebar.
Saat menginjak dewasa, berkuliah di Amerika Serikat (AS), lalu akhirnya menikah dengan Junita Ciputra, Harun tetap konsisten menikmati perayaan Imlek. Bedanya, selain kini tidak lagi minum berbotol – botol soda, Harun rajin berbagi angpao kepada anak dan keponakan – keponakannya.
“Karena anak – anaknya sudah besar, sekarang bagi angpao kepada keponakan saja,” ucapnya. Saat ini seorang anaknya sudah bergabung di Ciputra Group dan dua lainnya masih menempuh kuliah di AS.
Harun menyatakan, Imlek memang masih dirayakan keluarganya. Namun, dikeluarga besar Ciputra, tidak ada perayaan khusus setiap Imlek. “Paling hanya makan bareng karena sama – sama libur.” (owi/c11/oni)
Saat Tepat Ekspansi Bisnis
Tahun Kambing Kayu, Sektor properti Diprediksi Bangkit
Tahun lalu gejolak perekonomian global sempat mengeram laju roda pertumbuhan ekonomi Indonesia. Semua sektor industri pun merasakan dampaknya.
Nah, bagaimana tahun ini? Managing Director Ciputra Group Harun Hajadi adalah sosok yang sangat pas untuk menjawab pertanyaan itu. Selama 27 tahun mengeluti bisnis properti, pria kelahiran Jakarta, 19 Maret 1961, tersebut memahami betul setia gerak dan denyut nadi sektor properti.
Menurut Harun 2014 memang menjadi fase jeda bagi sektor properti. Pelaku usaha maupun calon konsumen masih beradaptasi dengan beberapa kebijakan yang diambil Bank Indonesia (BI). “Titik keseimbangan pun dipercaya tercapai pada tahun lalu sehingga menjadi landasan kuat bagi sektor properti untuk kembali bergerak naik. “Karena itu, tahun ini adalah tahun ekspansi,” ujarnya kepada Jawa Pos saat ditemui di kantonya, DBS Bank Tower lantai 40, kompleks Ciputra World, Jakarta, Selasa (10/2).
Menantu begawan properti Ciputra itu mengatakan, karakter pembeli properti di Indonesia yang mayoritas mengandalkan perbankan melalui kredit pemilik rumah(KPR) membuat aturan batas uang muka atau loan to value (LTV) yang ditetapkan BI berpengaruh signifikan. Sebagaimana diketahui, pada Juni 2012, BI menetapkan aturan LTV untuk rumah atau apartemen harus menyediakan uang muka 30 persen dari total harga. Padahal, sebelumnya bisa memebeli rumah dengan uang muka hanya 10 persen atau 20 persen.
Namun, aturan tersebut rupanya belum mampu mengeram tingginya pertumbuhan KPR. Karena itu, pada September 2013, BI kembali memberlakukan aturan LTV jilid II. Kali ini yang digunakan skema progresif. Pembeli rumah kedua atau ketiga dan seterusnya harus memberikan uang muka 40 persen dan 50 persen. Tidak hanya itu, aparteme dengan luas 22 – 71 meter persegi juga terkena aturan tersebut.
Menurut Harun, aturan inilah yang menghambat kinerja setor properti pada 2014. Sebab, rata – rata pembeli rumah di Indonesia adalah keluarag muda yang memiliki tabungan terbatas karena baru bekerja beberapa tahun. Padahal, sebenarnya mereka memiliki kemampuan membayar cicilan bulanan.
“Maka, saya selalu usul agar aturan LTV tidak diberlakukan untuk pembeli rumah pertama. Klaua untuk rumah kedua atau ketiga, silahkan saja,” kata suami Junita Ciputra tersebut.
Selain aturan LTV, faktor kedua yang mengeram kinerja properti adalah kebijakan likuiditas ketat yang diterapkan BI. Harun menyebut, suku bunga rendah yang tercermin dari level BI rate 5,57 persen sepanjang periode Februari 2012 hingga Mei 2013 mulai dinaikan BI secara bertahap. Hingga pada akhir 2014, BI rate menyentuh 7,75 persen untuk meredam inflasi dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Imbasnya, selain ikut mengerek suku bunga KPR, perbankan memperketat penyaluran KPR. Karena itu, banyak warga yang akhirnya menunda pembelian rumah arena tidak bisa mendapatkan KPR seningga penjualan properti tidak bergairah seperti tahun- tahun sebelumnya.
Lantas, bagaimana dampak pemilu tahun lalu? Harun mengatakan, meriahnya pesta demokrasi itu memang memanaskaniklim politik di Indonesia. Namun, bagi pelau usaha, gejolak dan dinamika politik akibat siklus lima tahunan itu tidak terlalu menganggu. Apalagi pemilu legislatif maupun pemilu presiden berlangsung lancar dan aman. “Masa transisi dari Pak SBY ke Pak Jokowi juga mulus. Maka, tahun ini akan lebih baik karena pemerintahan Jokowi-JK mulai efektif bekerja,” ujarnya.
Menurut Harun, komitmen kuat pemerintahan Jokowi-JK untuk membangun infrastruktur besar – besaran bakal menjadi suplemen hebat bagi sektor properti. Sebab, selama ini infrakstruktur memang menjadi salah satu kendala besar bagi pengembangan properti. “Terutama infrastruktur listrik,” sebutnya.
Harun mengakui, Ciputra Group tidak jarang mengalami kendala pasokan listrik saat membangun kompleks perumahan, terutama di luar Jawa. Karena itu, dia menyambut positif program pembangunan pembangkit listrik 35.000 megawatt yang dicanangkan Jokowi-JK. “Kalau pasokan listrik terpenuhi, roda ekonomi akan berputar. Tidak hanya properti, tapi juga sektor – sektor lain,”katanya (owi/c6/oni)
Tentang Harun Hajadi
- Lahir di Jakarta, 19 Maret 1961
- Mengenyam pendidikan S-1 Arsitektur di University of California, Berkeley, AS, dan S-2 bisnis di University of Southern California, Los Angeles
- Bergabung dengan Ciputra Group sejak 1988
- Menikah dengan Junita Ciputra dan dikaruniai tiga anak
- Menjabat menaging director Ciputra Group
- Hobi main piano dan treadmill
Sumber: Jawa Pos.16 Februari 2015.Hal.24

