Sadiyo_Pemulung yang Menambal Jalan.Kompas.9 Maret 2017.Hal.16

Sadiyo (64) gelisah melihat lubung-lubang menganga dijalan beraspal yang mengancam keselamatan jiwa siapa pun yang melintas. Tak ingin ada korban, ia turun tangan sendiri menambal lubnag-lubang itu dengan semen, pasir dan kerikil. Proyek itu ia biayai sendiri dari hasil memulung.

Oleh Erwin Edhi Prasetya

Dibawah terik panas matahari, Sadiyo yang sehari-hari mengais rezeki sebagai pemulung menambal jalan yang berlubang besar di ruas Gondang Tanjungan, Sragen, Jawa Tengah. Ia sudah menyiapkan semen yyang dibelinya dari hasil menjual barang bekas seperti kertas, karus dan plastic. “Apapun yang saya temukan di pinggir jalan, pasir, kerikil, batu, saya bawa untuk nambal. Yang penting tidak mencuri,”ujar Sadiyo, warga dukuh grasak, desa gondang, kecamatan gondang, sragen, Jumat (3/3).\

Pasir dan kerikil dimasukkan kedalam kantong plastic dan diangkat dengan becak tua miliknya yang telah berkarat disana sini. Becak reyot itu dipenuhi barang rongsongan hasil memulung. Di antara tumpukan rongsokan itu terselip perlengkapan tukang bangunan, seperti cetok kayu (alat untuk memplester tembok) dan ember. Untuk membuat adonan semen dan pasir, sudiyo memanfaatkan air yang mengalir di saluran irigasi sawah di pinggir jalan. Ia terampil membuat adonan semen dan pasir meskipun tidak punya pengalaman menjadi tukang bangunan. Dengan cekatan, ia menambal lubang jalan dan memberi tanda agar tidak dilindas kendaraan.

“Saya ikhlas melakukan ini. Tidak ada pamrih apapun. Saya hanya ingin mengurangi kecelakaan, “kata Sadiyo yang memiliki nama tua dalam tradisi jawa biasanya diberikan setelah seseorang dewasa dan menikah.

Terperosok

Sadiyo mulai bergerlya menambal lubang jalan sejak April 2012. Itu dilakukan setelah sadiyo mendapat pengalaman buruk mengalami kecelakaan gara-gara jalan berlubang. Ia masih ingat betul, ketika itu 7 Maret 2012, ia berniat menjual barang bekas hasil memulung selama seminggu. Ia mengangkutnya dnegan becak. Ketika hari masih pagi, sadiyo mengayuh becak menuju desa banaran, kecamtan sambungmacan, sragen untuk menjual rongsokan itu kepada pengepul. Jalan kabupaten ruas gondang-banaran selebar 4-5 meter yang dilaluinya itu rusak berat. Banyak lubang jalan bertebaran. Di tengah perjalanan ia bersaing dengan pengguna jalan lain untuk mendapatkan bagian jalan yang masih baik.

Apa daya becak sadiyo kalah bersaing, rodanya terperosok ke dalam lubang. Kakek 7 cucu itu terjatuh dan tercebur ke selokan di pinggir jalan. Becaknya rusak berat. Rodanya penyok tak karuan. Sejak saat itu, ia tidak bisa diam saat melihat jalan berlubang. Ia turun tangan sendiri menambal lubang-lubang jalan di ruas jalan gondang-banaran, sragen. “Uang saya waktu itu Rp 50.000. Saya belikan semen satu zak,”ujarnya. Sadiyo mulai menambal lubang jalan di mana becaknya terperosok. Setelah itu ia melanjutkan menambal lubang lainnya di ruas gondang-banaran sejauh 5 kilometer. Saking bersemangat menambal jalan, setiap mendapatkan uang dari hasil memulung ia belikan semen. Bahkan, ia sempat berutang pad akas PT di kampungnya karena pendapatannya terkuras untuk membeli semen. Hungga kini pun, masih menyisahkan utang sebesar Rp 1.5 juta.

Ia memutuskan misi menambal jalan gondang-banaran pada Juni 2012. Tapi sadiyo tidak lantas berhenti karena lubang-lubang baru muncul dan lubang yang telah ditambalnya rusak kembali. “Kalau jualan rosok (barang bekas) dapat lebih dar Rp 100.000, saya berani beli semen. Sisanya unttuk memenuhi kebutuhan keluarga, untuk makan. Kalau hasil jualan di bawah Rp 100.000, ya enggak berani beli semen, untuk kebutuhan keluarga saja,”katanya.

Penghasilan dari memulung tidak pasti. Sadiyo biasa menjual barang belas setiap satu minggu sekali kepada pengepul. Kadang ia memperoleh Rp 100.000 lebih. Jika kurang beruntung, ia mengantongi kurang dari Rp 100.000. Pendapatan itu dia sisihkan untuk membeli semen seharga Rp 48.000 per zak. Tumirah (67), istri sadiyo, tidak protes. Ia justru bersyukur suaminya mengabdikan diri untuk orang lain. Tidak hanya jalan ruas gondang-banaran, sadiyo menambah daya jelajahnya untuk menambal jalan berlubang di ruas gondang-tunjungan ruas jalan ini bergerak sekitar 4 kilometer. Sadiyo mulai menambal ruas ini setelah seseorang tetangganya terjatuh gara-gara jalan berlubang hingga harus menjalani opname di rumah sakit di Solo. “Kasihan kalau ada orang yang jatuh lagi,” katanya.

Buah karya sudiyo terlihat di banyak titik jalan. Meski kontruksi tambalan dari semen dan pasir itu mudah rusak kembali, sudiyo tidak menyerah. Setiap menemukan jalan berlubang ia jadikan target berikutnya. Walaupun tidak bisa langsung menambal, ia akan kembali datang untuk menambalnya jika mendapat cukup rezeki untuk membeli semen. Suatu kali ketika sedang jalan, sudiyo pernah didatangi dan dimarahi seseorang berbaju seragam pegawai negeri lantaran menambal jalan semaunya sendiri. Namun, itu tak menyurutkan langkahnya. “itu kan, tambalan darurat, sementara saja, sampai pemerintah bisa memperbaiki semua jalan, “katanya.

Makin Renta

Sudiyo menjadi pemulung sejak tahun 2000. Sebelumnya, ia merantau ke Jakarta dan menjadi tukang becak di daerah kramatjati pada 1984. Ketika pemerintah DKI Jakarta melarang becak beroperasi di Jakarta. Sadiyo pulang kampung pada 1990. Sepulang dari Jakarta. Ia tetap menjadi tukang becakdan istrinya berjualan caping (topi lebar dari bamboo). Seiring pertambahan sepeda motor, penumpang becak semakin sedikit. Penghasilan tukang becak pun makin minim. “Kadang sehari dapat menumpang kadang tidak ada sama sekali, “ujarnya.

Sadiyo akhirnya beralih menjadi pemulung. Awalnya, ia mendapat penumpang yang berjualan barang bekas. Penumpang itu memberi saran agar ia menjadi pemulung saja karena penghasilannya lebih baik. “Pertama kali jualan rosok dapat Rp 12.000, saya senang sekali, jadi bersemangat. Itu lebih banyak di banding mbecak. Sejak itu saya jadi pemulung,”katanya. Sambil tetap menguyah becak tuanya, sadiyo yang makin renta keluar masuk kampung mencari barang-barang tak terpakai, mulai dari kertas, kardus, plastic, besi, kaleng, hingga botol bekas minuman kemasan apa saja yang laku dijual. Barang yang diperolehnya dikumpulkan dulu di halaman rumahnya.

Rumah yang ditinggalinya itu relative baik. Bagian dalamnya berlantai keramik putih, sedangkan bagian teras di pasangi keramik berornamen dengan berukuran 40×40 cm. Bagian depan rumah berjendela kaca hitam berukuran lebar-lebar. Rumah peninggalan orangtuanya itu berdinding tembok dan berukuran sekitar 8×9 meter. Tiga putranya yang dibekali pendidikan sekolah menengah atas telah mandiri. Mereka bekerja di Jakarta dan cibinong, jawa barat. Anak sulungnya bekerja di perusahaan mi instan, adiknya di pabrik lantai keramik, dan si bungsu menjadi tenaga pemasaran buku. Saat ini sadiyo tinggal bersama istrinya dan dua cucunya, yakni pandu (12) dan dila (7). Keduanya adalah anak dari almarhumah fitri, putrinya. “Di sisa umur saya ini, saya abdikan (diri saya) untuk ngibadah, “ujarnya.

Sadiyo

Lahir    : Sragen, 7 April 1952

Istri      : Tumirah (65)

Pendidikan      : sekolah dasar

Anak   :

  • Suparman (42)
  • Dawud (40)
  • Fitri (meninggal)
  • Agus (22)

Cucu    : 6 orang

 

Sumber: Kompas. 9 Maret 2017 hal 16