Pelestari Tenun Songket Sambas. Kompas.23 April 2015.Hal.16

Sejak  belia, Sahidah sudah mulai mengenal tenun songket Sambas. Kecintaannya pada tenun songket atau tenun ikat khas Sambat terus tumbuh hingga kini. walau tidak lagi muda, Sahidah (69) terus melestarikan dan berkreasi mengembangkan motif-motif baru.

Pada tahun 2008, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata menganugerahkan Penghargaan Kebudayaan untuk Pelestari dan Pengembang Warisan Budaya kepada Sahidah. Ia didaulat sebagai Penggali Tenun Ikat Khas Sambas. Piagam penghargaan dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata itu terpajang di dinding ruang tamu rumahnya yang juga menjadi galeri “Tenun Songket Sambas Sahidah” di kota Sambas, Kalimantan Barat.

Di ruang itu pula Sahidah memamerkan kain-kain tenun ikat berusia ratusan tahun warisan keluarga. “Itu tenun ikat bikinan nenek saya dulu,” ucap Sahidah.

Sahidah lahir di Kampung Semberang yang merupakan pusat tenun songket di tepian Sungai Sambas. Karena itulah ia mengenal tenun songket sejak belia. Ia mulai belajar menenun dari orangtuanya ketika duduk di bangku kelas V sekolah dasar. Kemampuan menenun itu diajarkan turun-temurun dari generasi ke generasi di keluarga besar Sahidah.

“Dulu belajar langsung praktik, tidak ada bukunya. Tidak ada belajar teori,” katanya.

Sahidah mulai belajar dari hal-hal sederhana, seperti mengenal benang, cara menggulung benang, dan mengenal bagian-bagian alat tenun dari kayu. Seiring bertambah umur, Sahidah kemudian menguasai keterampilan menenun songket khas Sambat.

Tak kenal menyerah, usaha tenun songket Sahidah berkembang lagi. Alat tenun yang dia miliki ditambah menjadi lima unit. Dapur rumahnya diubah menjadi tempat kerja Sahidah memberdayakan remaja-remaja putri tetangganya. Mereka diajari menenun. Hingga kini Sahidah senang hati mengajari anak-anak dan remaja putri yang ingin belajar menenun.

“Itu untuk regenerasi. Jangan sampai generasi muda sekarang tidak kenal tenun. Tenun ikat itu, kan, warisan budaya, harus dilestarikan,” katanya.

Tidak puas dengan ragam motif umum yang telah ada, Sahidahberkreasi memodifikasi motif lama dan mengembangkan sendiri motif-motif baru. Motifnya antara lain terinspirasi dari tanaman ataupun bunga-bunga yang tumbuh di tepian Sungai Sambas.

Salah satunya motif daun gali, sejenis tanaman pakis. Sahidah menuangkan motif rancangannya diatas kertas-kertas millimeter blok atau kotak bermotif kotak-kotak kecil. Motif songket digambarnya dengan sangat teliti. Apabila keliru menggambar, motif songket yang dihasilkan juga keliru.

Dengan menggambarkan motif songket di kertas millimeter blok, seorang penenun yang bertugas mengerjakan rancangannya akan terbantu saat mengaplikasikannya. Sahidah juga menjual motif-motif klasik atau kuno songket Sambas di atas kertas-kertas millimeter blok. Untuk menjaga keawetan, Sahidah melaminating kertas itu. Lebih dari 20 motif tenun Sambas baru ataupun klasik telah digambarnya dan disimpan sebagai arsip. Ini dia lakukan untuk melestarikan ragam motif songket khas Sambas.

Karya tenun songket Sahidah tidak cuma digemari warga Sambas, tetapi juga warga Malaysia dan Brunei. Orang-orang Malaysia yang membeli tenun songket hingga ke Sambas. Keluarga Kertaon Sambas juga sering memesan tenun songket buatan Sahidah. Keindahan dan keanggunan tenun songket Sahidah memang tidak terbantahkan.

Sahidah kini menjalin kemitraan dengan 40 perajin tenun songket. Setiap ada pesanan, Sahidah meminta mereka menggarapnya. “Setiap hari terus memproduksi. Mereka mengerjakannya di rumah masing-masing,” katanya.

Harga tenun songket Sahidah dijual bervariasi, bergantung pada faktor keindahan dan tingkat kerumitan motif dan bahan-bahan yang digunakan. Harganya mulai Rp 350.000 untuk selembar kain sampai Rp 5 juta untuk satu paket tenun songket Sambas, terdiri dari selendang dan kain. Untuk pemasaran, Sahidah dibantu anak keduanya, Alfian, yang rajin mengikuti pameran di Kalimantan, Jawa, hingga Malaysia.

Sahidah menilai tenun songket khas Sambas cukup berkembang, baik ragam motif maupun penjualannya. Ini tidak terlepas dari dukungan Pemerintah Kabupaten Sambas yang mewajibkan pegawai negeri sipil memakai pakaian tradisional tenun songket pada hari-hari tertentu. “Sekarang ini ramai, banyak yang cari songket,” katanya.

Sumber: Kompas.23-April-2015.Hal_.16