Orang sakit tanpa pengawasan medis dan tinggal menanti lonceng kematian adalah realitas yang biasa biasa ditemui Saiful Rumaian (27). Ia kecil dikampungnya  dipedalaman Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku. Ketika dewasa ia memutuskan kuliah dibidang keperawatan agar bisa merawat warga dikampungnya.

Oleh Frans Pati Herin

 

Setelah diwisuda pada 11 November 2011 di Politeknik Kesehatan Maluku, Saiful bergegas pulang kampung untuk menunaikan janjinya; mengabdikan diri bagi masyarakat dikampung halamannya, Kecamatan Siritaun Wida Timur, yang masih terisolasi. Tawaran bekerja pada rumah sakit di ibu kota kabupaten ia tolak.

Saat ditemui beberapa waktu lalu, ia sedang melayani warga di Desa Ketta, Kecamatan Siritaun Wida Timur. Desa itu terpaut lebih kurang 100 kilometer dari Bula menuju Ketta, jalan yang beraspal mulus hanya sekitar 65 kilometer.

Sisanya 35 kilometer jalan dipenuhi kubangan lumpur dan air. Jalur menuju Ketta juga melalui puluhan sungai tanpa jembatan. Selain arus yang deras, sungai-sungai dijalur itu di huni oleh banyak buaya. Untuk melalui jalan sepanjang 35 meter itu, waktu yang diperlukan antara 3-4 jam menggunakan mobil yang ukuran besar dan bergardan ganda. Mobil ukuran kecil rawan terjebak kubangan lumpur atau terseret arus sungai.

“Karena terisolasi, maka petugas medis tidak ada yang mengabdi untuk masyarakat disini. Bahkan, camatpun memilih tinggal di ibu kota kabupaten. Jadi, kebutuhan masyarakat disini seperti kesehatan disini tidak diketahui oleh pejabat yang lebih tinggi” kata Saiful.

Bertahun-tahun masyarakat menjalani hidup tanpa menikmati pelayanan kesehatan. Mereka yang sakit kritis atau ibu hamil yang kesulitan melahirkan sepertinya hanya pasrah tanpa perawatan.

Untuk mendapat aksek kesehatan warga di Desa Ketta mesti ke Bula dengan menyewa mobil dengan terif Rp. 1.000.000 sekali jalan. Pilihan lain adalah menuju ke puskesmas Pulau Geser dengan waktu tempuh sekitar 2 jam perjalanan dengan perahu. Namun perairan yang harus diarungi sering dilanda gelombang tinggi.

Jadi tidak ada pilihan yang mudah bagi warga desa yang ingin mendapatkan layanan kesehatan. Dan Saiful berulang kali menjadi saksinya. Bahkan, keluarganya juga pernah menghadapi dilemma seperti itu.

 

Persalinan di Perahu

Saiful mulai mengabdi pada Januari 2012. Bermodal tabungan serta hasil penjualan pala dan cengkeh ia membeli obat dan jarum suntik. Ia tidak mematok harga kepada pasien. Bahkan, ada pasien yang hanya membayar Rp.1000 padahal warga itu mendapat satu kali suntikan. Bayaran itu sangat murah dibandingkan dengan tarif layanan kesehatan disana berkisar Rp.30.000.

Bagaimanapun Saiful yang lahir dari ekonomi keluarga ekonomi lemah itu masih membutuhkan uang. Secara ekonomi, ia tidak sekelas dokter Lie Dharmawan yang keliling Indonesia memberikan pelayanan ksesehatan gratis lewat Kapal Rumah Sakit Apung dr Lie Dharmawan. Ia juga bukan jutawan yang mendonasikan hartanya bagi orang miskin.

Kendati serba terbatas, Saiful mengedepankan kemanusiaan. Ia kerap menolak uang jasa layanan kesehatan yang dibayarkan oleh pasien keluarga miskin. Sebagai ucapan terimakasih, mereka lalu memberinya hasil kebun berupa lempengan sagu, kelapa, dan ubi.

“Mereka cari makan saja susah. Dari mana mereka dapatkan uang? Yang paling penting mereka sembuh dulu” ujar Saiful menjelaskan sikapnya.

Pelayanan Saiful bukan hanya di Kecamatan Saritaun Wida Timur dengan penduduk sekitar 13.000 jiwa itu. Pada 2014 setelah mendengar banyak warga Kecamatan Kalimury terserang penyakit, ia nekat kesana dengan menumpang parahu motor selama 8 jam. Kilmury juga kecamatan terisolasi di kabupaten itu.

Sejak dua tahun yang lalu masalah keterisolasian di kecamatan berpenduduk sekitar 4500 jiwa itu mencuat ke public. Sempat muncul gerakan menyelamatkan Kalimury bertajuk save kalimury lewat sejumlah aksi termasuk di Ambon, Ibu Kota Provinsi Maluku.

Selama 14 hari Saiful mengobati warga di Kalimury secara sukarela. Meski demikian ada warga berpenghasilan cukup memberinya lebih dari standar harga. Tiga hari pertama obat yang dibawa habis. Ia lalu meminta tolong warga untuk membeli obat di Pulau Geser yang dijangkau dalam waktu sekitar 2,5 jam perjalanan. Penyakit paling dominan adalah infeksi saluran pernafasan akut, hipertensi, diare, malaria, hingga gizi buruk.

Sebagai satu-satunya tenaga medis, Saiful juga berperan sebagai bidan untuk membantu persalinan. Sejak 2012 ia sudah menolong 8 ibu untuk melahirkan normal. Proses persalinan lancar, ibu dan anaknya selamat. Hanya seorang ibu dan janinnya tidak selamat karena terlambat menangani lantaran laporan yang masuk di Saiful juga terlambat.

Ia menuturkan pengalaman paling mengesankan saat mendampingi ibu hamil dari Ketta ke puskesmas Pulau Geser. Dalam perjalanan, perahu dihadang gelombang tinggi sehingga harus menepi di Pulau Keffing. Ibu tersebut melahirkan didalam perahu. “Guncangan perahu sangat dipukul ombak sedikit membantu proses persalinan” ujarnya sambil tertawa.

 

Berjuang untuk hidup

Setelah menikah dengan Nadia Rumain (27) tahun 2015 di anugerahi anak Ramadhan Rumain yang kini berusia 6 bulan. Saiful masih sering meninggalkan rumah berhari-hari demi melayani warga dipedalaman. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, keluarga Saiful bergantung pada hasil kebun, pemberian dari pasien untuk Saiful dan honor dari tempat Nadia mengajar.

Dari kampung ke kampung, Saiful biasanya menumpang ojek atau perahu motor. Namun jika uang transport tidak cukup, ia memilih berjalan kaki atau menumpang mobil truck yang kebetulan melintas. Ia berkeinginan memiliki satu motor trail agar bisa menembus lebih jauh lagi wilayah pedalaman yang belum ditangani.

Aidi Romeon (53) warga Desa Ketta mengatakan, Saiful adalah anak muda yang bertekad membangun kampung halamannya. Ia mengobati tanpa menuntut bayaran. “Kalau masyarakat miskin seperti kami yang kasih uang, pasti dia tolak. Itu yang membuat kami merasa tidak enak. Tapi dia bilang dia ikhlas” kata Aidi.

Padahal menurut Aidi selamat menimba ilmu diperguruan tinggi, keluarga Saiful mengeluarkan uang untuk ongkos pendidikannya. Aidi heran atas sikap Saiful yang berbeda dari banyak tega medis lainnya yang memilih bekerja di kota agar mendapatkan banyak penghasilan.

Saiful menjadi saksi ketidakberdayaan masyarakat dan absennya negara. Mengabdi adalah cara ia menghibur masyarakat yang menanti campur tangan pemerintah. Apakah Saiful kecewa terhadap pemerintah?

“Kecewa bukan solusi. Mari bekerja semampu kita tanpa menunggu oranglain , termasuk pemerintah” jawabnya.

Saiful Rumaian

Lahir                            : Kabupaten Seram Bagian Timur, 17 Juni 1990

Istri                              : Nadia Rumain (27)

Anak                            : Ramadhan Rumain (6 bulan)

Pendidikan Terakhir    : Diploma III Keperawatan

 

 

Sumber: Kompas.-10-November-2017