Ada beragam jenis sate yang bisa dinikmati. Sate Ayam Cilacap layak menjadi salah satu rekomendasi sajian bagi para penikmat kuliner.
Indonesia kaya dengan beragam kuliner khas daerah. Sebutlah sate: ada sate madura, sate padang, sate maranggi, dan sate khas lainnya.
Kali ini, KONTAN mencicipi sate khas Cilacap. Terletak di Jalan Kramat Kwitang, Jakarta, Sate Ayam Cilacap muncul tanpa embel-embel nama lainnya.
Siska, pemilik Sate Ayam Cilacap, menyebut kedainya sudah berdiri sejak 1963. Dia terbilang generasi kedua yang meneruskan usaha mertuanya.
“Orangtua saya senang jalan-jalan. Dia senang membawa- makanan daerah untuk dibawa ke Jakarta untuk dijual di sini. Dia cocok dengan sate cilacap saat dia ke Cilacap,” ujarnya.
Tak perlu berlama-lama, sate khas Cilacap ini pun segera dipesan. Ada beberapa menu paket yang bisa dipilih, seperti 5 sate dengan lontong 1,5; 6 sate dengan 2 lontong; 10 tusuk sate hingga 20 tusuk sate.
Sate pun akan disiapkan begitu ada pesanan. Saat dibakar, aromanya menguar, sangat menggoda. Tak membutuhkan waktu lama, sate ayam ini pun bisa langsung disantap.
Begitu sampai, keunikan sate ini langsung terlihat. Ukuran. dagingnya lebih besar ketimbang sate jenis lainnya. Setiap sate diberi dua tusukan. Siska menyebut, ini memang kekhasan dari sate Cilacap.
“Yang membuat beda dari rasa dan tusukannya. Ada 2 tusukannya. Ada 2 tusukannya. Memang sate Cilacap begitu aslinya,” ujar Siska.
Dalam penyajian, Sate Cilacap ditemani bumbu kacang dan lontong. Bumbu kacangnya cukup melimpah. Begitu disantap, rasa lezat langsung menyambar. Potongan dagingnya tidak alot dan kenyal.
Walaupun potongan dagingnya besar, bumbu satenya terasa begitu meresap. Tak heran, sate ini memang dimarinasi lebih dulu sebelum dibakar.
Meski sudah lezat, tetapi sate ini lebih nikmat bila dimakan bersama dengan bumbu kacangnya. Rasanya manis, gurih, juga pedas.
Tak berbeda dengan satenya, bumbu kacang pun wangi. Butiran kacangnya terasa meski tidak ditumbuk kasar.
Begitu pula dengan lontong. Lontong yang disediakan pun menebar aroma yang wangi dari daun pisang. Saat dicicipi, irisan lontong terasa lembut.
Pengunjung Sate Ayam Cilacap, Christy, mengaku menyukai sate ayam ini. “Potongan satenya besar-besar, jadi makannya puas. Dagingnya juga gurih karena sudah dimarinasi. Jadi makan tanpa bumbu pun tak masalah karena tidak hambar,” ujar Christy.
Berasa makan di rumah
Cuma, kedai Sate Ayam Cilacap ini tak seperti tempat makan kebanyakan. Tempatnya sederhana. Lokasinya pun berada di gang. Hal ini pulalah yang membuat Christy berpendapat pengunjung akan sulit menemukan kedai ini.
Tak hanya itu, transportasi umum pun lumayan jauh. Sehingga, menurutnya, tempat ini akan lebih mudah diakses bila pengunjung datang berkendaraan pribadi atau memakai taksi ataupun ojek online.
Meski begitu, Christy juga mengatakan, kedai ini khas, tidak seperti rumah makan kebanyakan. Ini mengingat beberapa hewan peliharaan yang ditempatkan di kedai ini.
“Jadi, pas makan di tempat terasa seperti bukan makan di warung makan, tetapi di rumah saudara,” ujarnya.
Siska pun mengakui, kedainya merupakan rumah tinggal para karyawan yang membuka 10 orang. Rumahnya sendiri ada di seberang kedai.
Kedai ini memang tak terlalu besar. Siska hanya memanfaatkan ruangan yang ada serta halaman. Terdapat beberapa burung hias serta ayam hutan. Tak hanya itu, ada juga beberapa dekorasi khas Tionghoa yang diletakkan di lokasi.
Walaupun sudah berdiri sejak 58 tahun yang lalu, Siska menyatakan tidak mau membuka cabang. Dia pun mengatakan, nantinya tempat makan ini akan tetap dibuat oleh keluarganya.
Untuk Anda yang ingin berkunjung, tak perlu takut tempat ini tutup di masa PPKM. Siska menyebut, kedainya buka setiap hari, mulai dari pukul 08.00 hingga 17.30 WIB. “Tanggal merah juga buka, kecuali Lebaran,” katanya.
Di sini, setusuk sate ayam dihargai Rp 6.000, lontong Rp 3,000, nasi Rp 5.000. Adapun menu paket 5 sate dengan 1,5 lontong Rp 35.000, 6 sate dengan 1,5 lontong Rp 41.000, lalu 10 tusuk sate Rp 60.000, dan 20 tusuk sate Rp 120.000.
Tentu harga ini akan beda bila Anda pesan lewat GrabFood. Siska mengatakan, harganya meningkat 30%. Misalnya, harga per tusuk sate jadi Rp 7.500, lontong Rp 5.000.
Bertahan di Bawah Tekanan Pandemi
Adanya pandemi Covid-19 memang berdampak luas pada berbagai sektor. Pandemi yang tak kunjung selesai ini pun turut berdampak pada penjualan Sate
Ayam Cilacap. Siska, pemilik Sate Ayam Cilacap, mengatakan, penjualan kedainya menurun cukup besar bila dibandingkan dengan sebelumnya. “Penjualan menurun banyak, ada 50%,” terang Siska.
Meski begitu, Siska tak menyerah pada kondisi ini. Dia tetap menjalankan usahanya. Meskipun, dia juga harus merogoh tabungannya supaya usahanya tetap bisa bertahan.
Walaupun di tengah pandemi, Siska tetap berjualan melihat masih ada pelanggan yang membeli dagangannya. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya pemesanan yang masuk, baik melalui telepon, whatsapp, hingga melalui aplikasi pesan antar makanan online.
“Saya tetap bertahan di sini. Buktinya banyak yang menelepon untuk mengambil makanan,” terangnya.
Meski saat ini tengah diterapkan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM), itu tak menghalangi pengunjung untuk datang ke kedai ini. Sebagian ada yang memilih untuk makan di rumah. sendiri, tetapi ada pula pengunjung yang makan di kendaraan atau mobil masing-masing.
Sementara, orang yang memesan melalui telepon atau whatsapp akan memanfaatkan layanan pesanan antar online. “Jadi bisa lewat Grab atau GoSend, nanti diambil saja, nanti bisa ditransfer,” ujarnya.
Sumber: Kontan Mingguan. 16 Agustus 2021. Hal. 24

