Segarnya Susu dan Mi Celor di Warung Ahok.Tabloid Kontan.9-15 Oktober 2017.Hal.40 001-page-001

Menyecap Kehangatan kopi susu dan mi celor di Warung Kopi Ahok.

Mendung menyelimuti kota Jambi, Jumat(29/9) pagi. Tapi mendung tak menghalangi acara minum kopi dan sarapan para pelanggan Warung Kopi Ahok.

Antrean pelanggan biasa terjadi di warung kopi yang lokasinya diapit Jl Hayam Wuruk. Dan Jl Jenderal Sudirman, Jambi. Saat KONTAN tiba sekitar pukul 8 pagi, musti nunggu beberapa menit untuk bisa duduk.

Secara penampilan, warung kopi ini jauh dari kesan perlente khas warung kopi zaman sekarang. Mejanya sederhana, terbuat dari kayu beralaskan bekas spanduk dan diisi kursi plastik. Begitu juga peralatan sajinya, gelas beling rumahan, plus piring-piring sederhana hadiah pembelian aneka produk.

Warung Kopi Ahok yang berdiri sejak 1960-an memang jadi tempat singgah warga Jambi untuk sarapan. Soalnya, Selain menjual kopi, warung ini juga menawarkan makanan berat. Mulai mie celor, nasi gemuk, sampai soto dan gado-gado.

Tampak penjual berjejer di sisi kanan dan kiri warung ini. Memang, warung Kopi Ahok menyediakan minuman, sementara penyedia makannya merupakan mitra yang sudah bekerja sama puluhan tahun lamanya. Mirip seperti food court.

Go Sek Hok, pemilik warung kopi ini adalah generasi kedua. Ayahnya, Gunawa, mendirikan warung kopi ini puluhan tahun silam. Lelaki yang karib disapa ahok ini bilang, warungnya belum seramai ini saat dia mengambil alih di 1980-an. “Orang-orang  dulu mana ada makan di  luar, semua hemat, masak di rumah. Ini baru ramai belakangan saja,” kata Ahok

Awal berdiri, warung kopi ini hanya menyediakan kopi dan aneka camilan seperti kue-kue, roti bakar dan pempek. Baru tahun 1970-an, sang ayah menambah varian menu mengajak mitra penjual makanan berat. Dengan cara itu, warung kopi tetap fokus pada sajian khasnya dan citra rasa dapat terjaga baik.

Racikan spesial

Memang, sajian kopi di warung ini sangat istimewa. Mau dicampur susu, telor atau kopi hitam saja, rasanya lain dari kebanyakan kopi di pulau Jawa. Namun, di antaranya daftar menu sajian kopi, kebanyakan pengunjung menggemari kopi susu.

“kopi susunya gurih, tapi setelah minum tidak ada rasa kembung di perut, walaupun saya punya maag, minum dua gelas enggak masalah,” ujar Desri, pegawai swasta yang mampir pagi itu untuk sarapan.

Rahasianya, Ahok punya pemasok biji kopi dari Curup, Rejang Lebong, Bengkulu. Setelah itu, proses penjemuran dan pemanggangan dia lakukan sendiri bersama anak buahnya. Semua kopi jenisnya arabika. Ia menggoreng kopi saban lima hari sekali, supaya tetap segar.

Nah, penasaran bagaimana rasa kopi susunya? Kesan pertama kopi susu sederhana ini sangat menggoda lo. Disajikan di gelas beling rumahan beralas piring kecil. Gradasi warna kopi dan susu dibiarkan begitu saja .

Anda harus mengaduknya lebih dahulu untuk menyesap segelas kopi susu panas ini. Wangi  kopinya tercium cukup kuat, meski sudah tercampur susu sekitar sepertiga gelas.

Saat menyeruput pertama kali, srup! Sensasinya lain. Ada rasa gurih dan pahit yang menyatu di lidah. Saking menyatunya, bagi mereka yang tak bisa menikmati kopi, mungkin kopi racikan Ahok ini perkecualian. Sebab, tak ada sedikit pun pahit yang menempel di lidah selepas kopi ini membasuh lidah.

Bagi penikmat kopi, meski kopi telah bercampur susu, tapi citarasa kopi tetap dominan. Yang paling penting tak ada rasa asam khas kopi arabika tertinggal di mulut.

Ada rasa legit dan aroma khas dalam setiap gelas kopinya. Selain itu, kopi pun tersaji cukup kental untuk ukuran kopi susu. Makanya, kebanyakan penggemar kopi pasti menyempatkan singgah ke warung ini saat mengunjungi Jambi.

Agar citarasa kopi tetap kuat walau tercampur susu, Ahok menggiling kasar biji kopinya. Setelah itu, kopi diseduh dengan cara saring. Mirip dengan metode seduh V60. “sekali tuang bubuk kopi untuk seduh satu sampai tiga gelas saja, supaya rasanya kuat,” kata Ahok.

Ahok tak pakai sembarangan susu. Susu kental manis yang dia pakai bermerek Dairy Champ. Susu ini memang dikenal lebih gurih, dan kata Ahok, tak menggunakan pemanis dan pemutih buatan. Maka tanpa gula pun, susu sudah membuat kopi lebih nendang di lidah.

Masakan andalan

Sebagai teman menyeruput kopi, ada kue-kue tersaji di atas meja. Buat Anda yang tak suka makan manis di pagi hari, warung ini juga menyediakan pempek lengkap dengan kuap cukonya. Anda tak perlu lagi minta piring karena sudah tersedia lengkap dengan sendoknya.

Anda juga bisa menyantap makanan berat seperti, mi celor dan nasi gemuk. Saat mi celor disajikan, tampilannya mie kocong Bandung. Tapi, rasanya jauh beda. Gurihnya santan beradu dengan kuah kaldu, tak ada bandingannya

Begitu juga dengan tekstur mi berwarna kuning yang begitu lembut tapi tak lembek. Sebab, mi itu dicelor atau dicelup ke dalam air mendidih, buakn direbus seperti mi ayam.

Di dalam mi celor ada potongan telur rebus dan suwiran telur dadar. Anda bisa memilih sendir toping tambahannya. Ada suwiran daging ayam, atau potongan sapi yang dibuat menjadi bistik berwarna kecoklatan.

Tekstur daging sapi lembut dan meresap bumbu. Sekali gigit daging, manis kecap dan gurihnya bumbu begitu terasa. Anda harus makan berbarengan dengan kuah santannya. Dijamin ketagihan.

Sepiring mi celor cukup bayar Rp 15.000. Sedangkan Harga kopi per gelasnya Ro10.000 – Rp 12.000. Warung ini buka saban hari pukul 06.00 – 17.00 WIB. Minat?

Makin Ramai di Generasi Kedua

Warung Kopi Ahok sejatinya sudah buka sejak 1947. Cuma tempatnya sempat pindah-pindah sebelum mengkal di Jl Jendral Sudirman, Jambi.

Awalnya warung kopi ini berada di pasar. Lalu pada 1950-an terjadi kebakaran di pasar. Gunawan, pendiri Warung Kopi Ahok pun mencari tempat baru di daerah Jelutung. Lokasinya dekat dengan lokasi sekarang, berupa bangunan sederhana berbentuk pondokan.

Saat wilayah Jelutung mulai ramai. Gunawan pindah ke deretan pertokoan. “Awalnya, kami mengontrak, lalu kami beli toko ini,” kata Go Sek Hok, penerus Gunawan, sembari menunjukkan tempat usahanya berbentuk ruko dua lantai itu. Pria yang akrab di sapa Ahok ini mengaku warung kopinya mulai ramai sejak 1986-an . “Waktu itu kantor pemerintah Kota Jambi pindah ke dekat sini, orang jadi ramai mampir sebelum ke kantor,” ujar Ahok.

Kehadiran kantor pemerintah ini membuat warung kopi yang awalnya melayani buruh gudang dan pabrik karet, menjadi tempat singgah pada pegawai. Jika Ahok adalah generasi kedua yang menggarap warung kopi, demikian juga pedagang makanan di sekeliling warung seperti pedagang nasi gemuk dan mi celor, juga dikelola oleh generasi kedua.

Meski terlihat ramai setiap hari, Warung Kopi yang cukup bersejarah di Kota Jambi ini tengah dirundung bingung. Sebab, Ahok mengaku tak ada keturunannya yang tertarik untuk meneruskan usaha rintisan kakeknya itu. Akankah kedai kopi hanya menjadi legenda di Kota Jambi?

Sumber: Tabloid-Kontan.9-15.oktober.2017.hal.40