Sejarah Panjang Hotel Majapahit (23)_Bangunan Baru dengan Gaya Arsitektur Art Deco. Radar Surabaya.2 Oktober 2019.Hal.3. Freddy

Berbeda dari bangunan original Hotel saat pertama kali didirikan. Bangunan baru di bagian depan Hotel, yang kini menjadi lobi, memiliki gaya arsitektur yang jauh berbeda. Jika bangunan pertama bergaya art noveau. Bangunan baru yang dibangun pada tahun 1932 bergaya Art Deco. Yang menjadi trend besar pada masanya.

Arsitektur sekaligus pangamat sejarah dari Universitas Ciputra Freddy H. Istanto menerangkan, pada tahun 1930-an, gaya arsitektur Art Deco mulai berkembang di Eropa dan masuk juga di Indonesia. DIbawa oleh arsitektur Belanda yang selalu berkiblat pada gaya arsitektur yang berkembang di Eropa.

“Arsitektur juga punya sifat seperti fashion, sda musim-musim tertentu. Arsitektur Belana pun ikut demam gaya baru itu. Kalau tidak ikut, biasanya dianggap tidak tren atau ketinggalan zaman. Baik arsiteknya, apalagi pemilik gedung yang ingin bangunannya ngetren, “ paparnya kepada Radar Surabaya.

Art Deco merupakan kepanjangan dari arts decoratives. Jika diibaratkan saat ini, art deco adalah sebuah gaa arsitektur dimana dari desain, warna, dan detail bangunannya terlihat lebih sederhana dan minimalis. Dengan bentuk-bentuk yang lebih geometris. Berkembangnya tren arsitektur art deco mengubur gaya arsitektur yang berkembang ditahun sebelumnya. Yang didominasi dengan gaya arsitektur Mediterania. Yang dulu mendominasi gaya arsitektur perumahan disurabaya.

Arsitektur Maureen Nuradi menambahkan, ada alasan tersendiri mengapa gaya arsitektur art deco mulai dipakai di tahun 1930-an itu. Hal ini tak lepas dari imbas perang dunia pertama. Buruknya perang dunia satu memicu para desainer untuk mencari identitas tiap local tiap negara masing-masing. Mereka tidak lagi menginginkan arsitektur seluruh Eropa didominasi arsitektur klasik yang akarnya dari Roma dan Yunani.

“Karena itu, saat dibawa ke Indonesia, beberapa arsitek Belanda berusaha menggabungkan unsur local Indonesia, tapi ada juga yang ambil mentah yang lagi tren di Belanda saat itu. Yang juga selalu mengikuti tren yang berkembang di Eropa,” tukasnya.

Sumber: Radar Surabaya.2 Oktober 2019