
Lorong menjadi salah satu spot ikonik di Hotel Majapahit. Keberadaan lorong ini memperkental nuansa klasik dengan arsitektur ala kolonial.
Arsitektur Maureen Nuradi menyampaikan, kebanyakan bangunan colonial di negara tropis memiliki teras. Fungsinya sebagai penghalau sinar matahari agar tidak langsung menyengat jendela dan pintu. Jadi, sebenarnya adalah teras yang berjajar panjang, sehingga nampak seperti lorong. “Fungsinya supaya saat pintu jendela dibuka, tidak langsung kena udara panas dan silaunya sinar matahari tropis,” paparnya kepada Radar Surabaya.
Tidak ada aturan pasti mengenai tinggi beranda. Tidak harus berapa meter dan sebainya. Namun tingginya menyesuaikan tinggi balok konstruksi utama, tinggi pintu, dan lebar beranda.
Lorong disisi kanan dan kiri Hotel Majapahit bergaya art noveau sendiri terletak pada bentuk bangunan serta ornament yang melekat. Seperti balok antar tiangnya yang berbentuk melengkung. Gaya art noveau juga terlihat pada lampunya. Yang terlihat klasik dengan ornament semacam sulur tanaman, menjadi ciri khas ornamen art noveau.
Sementara untuk lantainya mengikuti gaya art deco. Penggabungan dua gaya yang berbeda dalam satu bangunan ini adalah sesuatu yang wajar. Apalagi jarak antara tren art deco dan art noveau hanya selisih 20 hingga 30 tahunan. Diketahui art neoveau berkembang diakhir 1800-an. Sementara art deco mulai tren1930-an. “Dan tren itu biasanya tidak langsung berganti. Tapi bisa nyampur dulu antara yang lama dan yang baru. Apalagi dalam sebuah bangunan yang terus menerus ada penambahan dan renovasi, saat renovasi itu biasanya mulai tercampur antar gaya,” papar dosen arsitektur interior Universitas Ciputra ini. Diketahui, bangunan hotel disisi kanan dan kiri merupakan bangunan tambahan. Yang di bangun pada tahun 1923 hingga 1926 dengan arsitektur Alfred Jhon Bidwell.
Begitu pula dengan kaca mata putrinya yang mengikuti gaya arsitektur art deco, dengan adanya bingkai bergaya art nouveau kolonial.
Sumber: Radar Surabaya. 6 Oktober 2019
